I'm Vini Indriasari, an Indonesian. From Dec '06 till Dec '08, I took master degree in GIS & Geomatic Engineering at Universiti Putra Malaysia (UPM). This blog is telling about my experiences during my days in UPM. "Tutup Buku" (Closing the Book) is the entry in this blog that marks the end of my story as a UPM student. I'd been back in my home country by the time I posted it. I keep a few entries for myself by setting them as private, but I share the rest for others. Thanks to ERJ who has suggested and facilitated me to create this blog.

Buku Optimalisasi Word

August 28th, 2009

Pelatihan Word yg saya berikan kepada temen² kolej di UPM dulu telah menginspirasi saya untuk menuliskan materi pelatihan ini ke dalam sebuah buku. Ide membuat buku ini baru muncul setelah saya kembali ke Indonesia. Sebenarnya saya hanya ingin membuatkan modul pelatihan sebagai referensi bagi temen² saya di UPM, sebab setelah saya kembali ke Indonesia, mereka tidak bisa lagi bertanya langsung kpd saya jika mereka menemui kesulitan. Nah, daripada hanya menulis modul, sekalian aja saya menulis buku, supaya bukan hanya temen² saya yg bisa menggunakan, tapi juga semua orang yg membutuhkan.

Awalnya saya menggunakan Word 2003 dan Word 2007 sekaligus sebagai ilustrasi. Tapi ketika membaca persyaratan dari penerbit, salah satu alasan mengapa sebuah naskah ditolak adalah krn membahas software lama. Jadi akhirnya hanya Word 2007 sajalah yg saya jadikan ilustrasi.

Ini pertama kalinya saya membuat buku, jadi saya gak begitu berharap bhw buku tsb langsung diterima oleh penerbit pertama. Tapi syukurlah, penerbit Elex Media Komputindo ternyata langsung bersedia menerima naskah saya utk dibukukan. Prosesnya juga gak terlalu lama. Akhir Juli lalu, buku saya telah terbit dan sudah dapat dijumpai di toko-toko buku Gramedia di seluruh Indonesia. Berikut informasi detil buku tersebut yg oleh penerbit diberi judul “Optimalisasi Word untuk Penulisan Dokumen Ilmiah”.

Judul Optimalisasi Word untuk Penulisan Dokumen Ilmiah
Penulis Vini Indriasari
Penerbit Elex Media Komputindo
Tahun 2009
Dimensi 14 x 21 cm
ISBN 979-27-5461-2
Harga Rp 29.800
Sinopsis Buku

Banyak orang telah terbiasa menggunakan Microsoft Word, namun hanya sedikit yang memanfaatkan fitur-fitur otomatisasi di Word untuk membantu kerja mereka. Buku ini hadir untuk membuat pembaca lebih familiar dan mahir menggunakan fitur-fitur otomatisasi di Word dalam penulisan dokumen ilmiah yang panjang dan kompleks. Fitur-fitur otomatisasi yang dibahas mencakup pemformatan dengan style, outline numbering, caption, cross-reference, pembuatan daftar isi, daftar gambar, sitiran dan daftar pustaka. Setiap pembahasan disertai dengan contoh yang sesuai dengan standar umum penulisan dokumen ilmiah.

Pembahasan juga diperluas ke sistem navigasi dokumen, fasilitas comment dan track changes untuk review dokumen, penanganan gambar, tabel, rumus matematik, contoh style untuk sitiran dan bibliografi, serta konversi dokumen Word ke PDF. Struktur penyajian disesuaikan dengan aktivitas yang sering dilakukan dalam penulisan dokumen ilmiah. Bagi Anda yang ingin menulis tugas akhir, tesis, disertasi, laporan penelitian, atau proposal teknis, buku ini sangat cocok dijadikan panduan untuk meningkatkan efisiensi kerja dan kualitas hasil kerja Anda.

Mengatur Koleksi Video

June 9th, 2009

Mumpung lagi libur, saya menyempatkan diri membereskan file² koleksi video saya yang karena besarnya sangat menyita space hard-disk. Koleksi video ini mencakup dorama Jepang, drama Korea, dan serial TV Amerika jadul yang saya download dari internet atau ngopi dari koleksi temen. Biar gak menuh²in hard-disk, file² video ini mau saya burn ke DVD. Untuk seluruh video yang akan diburn ke DVD ini, saya lebih suka menyimpannya dalam format divx supaya bisa dimainkan di DVD Player dan ditonton di monitor TV. Kebetulan sebagian besar file video memang sudah dalam format divx, namun beberapa masih dalam format lain sehingga perlu diconvert. Sebenarnya perkara mengconvert ini bukan masalah. Saya cukup menggunakan tool Divx Converter, dan hampir semua format video dalam koleksi saya disupport oleh tool ini. Kalaupun ada yang belum disupport, saya bisa menggunakan RiverPast Video Cleaner untuk melakukan konversi ke format yang didukung oleh Divx Converter. Tapi ada satu drama Korea yang agak ngerepotin nih, file videonya itu dalam format DAT, sepertinya di-rip dari VCD. Masalahnya, file DAT ini menyajikan bahasa yang berbeda pada speaker kiri dan kanan. Speaker kiri menyajikan bahasa Korea, speaker kanan menyajikan bahasa Mandarin. Kalau kedua speaker diaktifkan, kedua bahasa tersebut akan terdengar dua-duanya. Bikin puyeng, kan? Sementara kalau hanya satu speaker yang diaktifkan, suaranya kecil.

Jadi sebelum mengconvert file DAT ini ke divx, saya ingin menghilangkan dulu suara bhs Mandarin. Setelah searching di internet, akhirnya saya menemukan sebuah diskusi di forum videohelp yang membahas problem mirip dengan problem yang saya hadapi. Berkat info dari forum tersebut, saya pun dapat menyelesaikan problem saya untuk menyamakan suara speaker kiri dan kanan.

Berhubung proses pengolahan file DAT sampai ke divx ini lumayan ribet dan melibatkan multi-software, maka saya ingin mendokumentasikannya dalam blog ini untuk referensi saya sendiri. Siapa tau suatu saat saya perlu melakukannya lagi dan saya lupa caranya. Juga buat yang lain kalau ada yang ingin melakukan hal yang sama.

Sebelumnya, saya hanya mencari video converter yang dapat menangani problem dual audio. Bayangan saya, converter tersebut memiliki option yang memungkin saya untuk memilih channel audio yang ingin dibuang dan disertakan dalam video output. Tapi berdasarkan hasil searching, kelihatannya saya hanya dapat mengatasi problem dual audio ini melalui tool² sound editor. Sony Sound Forge, saya yakin bisa dipake. Namun sebagaimana yang disarankan dalam forum videohelp tadi, saya menggunakan tool TMPGEnc untuk memisahkan file video dan audio dari file DAT. Output video akan disimpan dalam format m1v, sedangkan output audio akan disimpan dalam format mp2. Nah, file mp2 ini kemudian diimport ke dalam tool Audacity. Melalui tool Audacity inilah saya dapat memecahkan stereo track kiri dan kanan menjadi dua track terpisah. Setelah kedua track terpisah, saya pun dapat mengganti isi track kanan yang mengandung bahasa Mandarin dengan isi track kiri yang mengandung bahasa Korea, sehingga kedua track mengeluarkan bunyi yang sama. Kemudian saya gabung kembali stereo track tersebut, dan saya export hasilnya dalam file mp3. Dengan tool TMPGEnc, saya menggabungkan kembali file video m1v dan file audio mp3 yang sudah diseragamkan bahasanya, menjadi file video-audio yang disimpan dalam format mpg. Akhirnya, saya dapat mengconvert file mpg ini ke format divx menggunakan Divx Converter. Fiuhh… berbelit-belit, yah! Ada yang tau metode yang lebih praktis? :)

Ini skrinsyut step by step-nya.

  1. Pisahkan file video dan audio dari file DAT dengan menggunakan MPEG Tools yang terdapat dalam TMPGEnc.
  2. Import file audio ke Audacity, dan ganti sound bhs Mandarin dengan sound bhs Korea.
  3. Kembali ke TMPGEnc, gabungkan file audio mp3 yang sudah diedit di Audacity dan file video m1v untuk mendapatkan file video baru mpg.
  4. Convert file video mpg output dari TMPGEnc ke divx menggunakan Divx Converter

Problem lain, ada dorama Jepang yang setiap episodenya terbagi ke dalam dua file format WMV. Biar simpel, saya ingin menggabungkan dulu file² video tersebut sehingga hanya ada satu file untuk setiap episode. Untuk keperluan ini, saya menggunakan tool Easy Video Joiner. Sebelum menemukan tool ini, sempet juga saya coba-coba menggunakan tool Movie Maker yang tersedia dalam paket Windows XP. Tapi ternyata prosesnya lambaaaaat banget, sebab Movie Maker ini mengekstrak setiap klip dari masing² file video (satu video bisa memiliki ratusan klip), kemudian seluruh klip dari kedua file video dimasukkan dalam storyboard untuk membuat movie baru.

Menggabungkan multiple file video menjadi single file video

Agak merepotkan dan memakan waktu emang pekerjaan ini, mengingat ukuran file² video yang sangat besar, ratusan MB, sehingga proses pengolahannya juga lama. Tapi saya puas karena saya jadi tau memanfaatkan macam² tool pengelola file² multimedia, serta tau cara mengatasi problem² yang dihadapi. Kalau lain kali saya perlu bekerja dengan file video atau audio untuk keperluan lain, saya sudah tau tips dan triknya. Kini space hard-disk saya jauh lebih lapang, siap digunakan untuk pekerjaan berikutnya.

Tutup Buku

January 10th, 2009

Sabtu, 10 Jan ‘09. Setelah 2 tahun menuntut ilmu di UPM, hari ini tibalah saatnya bagi saya utk pulang. Rasanya sedih krn harus ninggalin kampus, ninggalin temen² kolej, temen² satu lab dan satu jurusan, supervisor, temen² PPI, pokoknya semua deh. Tapi saya juga seneng krn telah menyelesaikan studi saya. Satu target telat dicapai.

Sebagian barang sudah saya cicil bawa pulang sejak sebelum lebaran lalu. Berkas² kuliah sudah saya buang seluruhnya, setelah sebelumnya saya dokumentasikan dgn kamera. Demikian pula brosur² dan kertas² informasi kampus yg saya peroleh waktu baru masuk UPM. Meskipun demikian, tetap saja bawaan saya banyak. Saya terpaksa harus meninggalkan barang² yg kurang penting, spt piring² dan gelas, panci, toples² dan tupperware, sisa² makanan dan minuman, setrikaan, serta peralatan mandi. Sedangkan beberapa perabot spt karpet, bantal, guling, ember, pengepel, sapu, dan rak piring, memang udah niat mau saya wariskan buat temen² kolej.

Saya bawa 3 tas: satu travel bag besar yg akan dimasukkan dalam bagasi pesawat, satu travel bag kecil yg akan dibawa ke kabin, dan satu lagi tas laptop. Saya pergi ke airport diantar oleh Nik dan cowoknya, yg sengaja saya minta membantu saya membawa tas² tsb. Kita naek mobil dia sampe ke Stasiun Putrajaya. Dari sana, kita naek kereta api KLIA Transit ke KLIA.

Tadi malem, krn itu adalah malem terakhir saya di UPM, waktu beli makan, saya puas-puasin makan makanan favorit saya di kafe. Berbagai makanan saya beli sekaligus, mulai dari waffel, burger, sosis, tofu, lele, ayam, dan teh ais (es teh dengan susu). Sampe ngos-ngosan deh makannya, hihihi… krn beberapa makanan harus cepet² dimakan selagi hangat, spt burger dan waffel. Tapi saya puas banget bisa ngerasain makanan ini sekali lagi sebelum pulang.

Makan malam terakhir sebelum pulang
Ada burger, waffel, sosis, tofu, ikan lele, ayam goreng, sambel, dan teh ais.

Dengan kembalinya saya ke Jkt hari ini, maka berakhirlah cerita saya di UPM. Berikut adalah foto-foto yg menampilkan sudut-sudut penuh kenangan selama saya di UPM.

Dobel Makan-makan

January 6th, 2009

Senin, 5 Jan ‘09. Hari Jumat lalu, saya dan Habshi sudah janjian dgn Dr Ahmad bhw kita akan lunch bersama hari ini. Lalu dengan temen² kolej, saya juga sudah janjian akan dinner bersama, juga hari ini. Terpaksa saya bikin dobel makan² dlm sehari begini, sebab temen² kolej ini banyak yg udah mau pergi. Indah, hari Selasa malem sudah gak ada krn hari Rabunya dia mau pulang ke Padang, mempersiapkan pernikahannya hari Sabtu, 17 Jan nanti. Jadi malemnya dia mau nginep di rumah Adly, calon suaminya. Riri, hari Kamis, 8 Jan juga mau pulang kampung. Dia selama liburan gak pulang krn kemaren ingin mengejar target submit notice dulu. Krn saya sudah bikin janji lunch dgn Dr Ahmad, maka saya menetapkan dinner bareng mereka.

Pagi hari, saya dateng ke fakulti utk menemui Dr Ahmad. Sejak balik ke UPM, baru hari inilah saya menemui beliau. Ternyata Dr Ahmad jam 12 ada kelas. Tuh kan, bener kekhawatiran saya, beliau pasti sibuk. Dari awal saya udah sangsi beliau bisa pergi utk lunch. Gak lama, Habshi dateng. Kita sempet bingung nentuin kapan bisa pergi. Hari Selasa-Rabu ada pelatihan software SuperGIS di ITMA. Dr Ahmad ngajakin hari Kamis aja, tapi saya agak keberatan. Takutnya saya gak bisa krn pengen jalan² ke Singapur, atau mungkin ada rencana lain. Nanti gak ada waktu lagi mau mengundur. Bisa² acaranya batal sama sekali. Lagipula Habshi juga katanya mau puasa. Akhirnya disepakatilah kita tetep pergi hari ini, tapi agak sorean, sekitar jam 3, nunggu Dr Ahmad selesai ngajar dan ngeberesin mobilnya. Katanya di mobilnya penuh barang, kursinya gak bisa didudukin. Krn jam 3 sore itu terlalu lambat utk makan siang, Dr Ahmad menyarankan kita utk makan yg laen dulu, sbg pengganjal perut.

Oya, pas ketemuan tadi, saya juga laporan ke Dr Ahmad mengenai apa saja yg sudah saya lakukan selama seminggu ini. Saya bilang ke dia, urusan saya sudah hampir beres. Saya sudah submit hard-bound thesis ke GSO dan skarang sedang dalam proses ditanda-tangan oleh Dean. Hanya ijazah saja yg masih menggantung. Orang GSO bilang, saya baru bisa dapet ijazah nanti setelah wisuda. Padahal wisudanya itu baru bulan Juli/Agustus. Itu juga kalo gak diundur. Kan lama banget. Tapi Dr Ahmad bilang, bisa kok saya minta ijazah itu lebih dulu. Bikin surat aja atas nama pribadi, bilang kalo kita gak bisa ikut wisuda, mau pulang ke tanah air, dan perlu ijazah itu secepatnya. Dulu student beliau, Merhdad, juga ada yg spt itu. Emang sih, kemaren staf GSO ada yg sempet nyingung² soal surat. Tapi saya gak begitu paham, minta ijazah kok pake surat sih. Bukannya itu memang hak kita dan sudah seharusnya boleh diambil? Setelah Dr Ahmad cerita soal Merhdad, baru saya ngerti. Maka, saya pun segera membuat surat permintaan ijazah tsb di lab. Saya sempet bingung, mau langsung pergi ke GSO apa gak utk nyerahin surat tsb. Tadinya kalau acara makan² dengan Dr Ahmad bisa jam 12 spt yg direncanakn, setelah itu saya mau ngurus soal permintaan ijazah ini ke GSO. Tapi krn makan²nya diundur ke jam 3, jadi kagok nih. Mau ke GSO dulu, takut gak keburu lagi balik ke fakulti. Tau sendiri lah, fasilitas transportasi di kampus ini agak susah dan lambat. Tapi akhirnya saya pergi juga. Kalo nanti jam 3 saya masih di GSO, ya udah lah, minta aja Dr Ahmad jemput saya dulu ke GSO, hehe…

Dari fakulti, saya harus naek bis yg ke kolej, baru dari sana nyambung bis ke GSO. Krn udah masuk waktu zuhur, sekalian aja saya sholat dan makan siang dulu di kolej. Tapi makannya dikit aja, krn tujuannya cuma buat ganjel perut. Ketika saya berada di bis menuju GSO, Dr Ahmad nelepon. Ternyata dia gak bisa pergi jam 3, dan minta acara makan² diundur jadi dinner aja. Alhamdulillah, jadi saya gak keburu-buru di GSO. Untung tadi saya memutuskan utk jadi pergi. Kalo saya cuma nunggu doang di fakulti, udah gitu ternyata skarang Dr Ahmad ngundurin pergi gini, pasti saya BT.

Tapi muncul satu problem nih. Kalau pergi dengan Dr Ahmad diundur jadi malem, terus acara makan² dgn temen² kolej kapan dong? Sambil ngurus urusan saya di GSO, saya sibuk nyusun rencana. Akhirnya saya memutuskan utk makan² dgn mereka sore ini aja, sekitar jam 5, kalo mereka bisa. Maka sepulangnya dari GSO, saya langsung menemui Indah di kamar Sandra. Indah memang sudah seminggu ini tinggal di kamar Sandra, krn dia dah keluar dari kamarnya. Cuma Indah yg ada di kolej, yg lain masih pada di kampus. Lalu saya teleponin mereka satu². Gak banyak sih yg bisa dateng, cuma Sandra, Indah, Riri dan Ayu. Syukur mereka bisa pulang jam 5 sore. Jadilah sore itu kita pesen McD, delivery, dan makan² di kamar saya. Keren ya saya, mau pergi makan², sebelumnya makan² dulu. :D

Menjelang maghrib saya langsung berangkat ke fakulti. Saya sholat maghrib di fakulti aja, takut gak keburu kalo maghrib dulu di kolej. Selain Dr Ahmad dan Habshi, saya juga mengajak Nik Norasma. Sedangkan Habshi mengajak temennya, wanita, namanya Nisrin, student dari Irak. Waktu saya mau sholat, Dr Ahmad ngasih tau via SMS bhw beliau akan datang agak telat. Habis maghrib, kita berempat, saya, Nik, Habshi dan Nisrin, kumpul di labnya Habshi. Jam 8, tiba² Dr Ahmad ngeSMS saya lagi, katanya istri dan anak²nya juga pengen ikut. Wuah… apa cukup mobilnya yah?

Akhirnya rombongan kita memang berangkat dgn 2 mobil. Kebetulan Nik ada mobil. Saya ikut mobil Dr Ahmad krn harus nunjukin jalan, sementara Habshi dan Nisrin ikut mobil Nik. Anak² Dr Ahmad yg ikut ada 3, semuanya masih kecil², sekitar 8, 6 dan 3 tahun. Mereka gak terlalu ngabisin tempat krn satu orang dipangku ibunya, satu lagi duduk di tengah² antara bangku depan dan belakang. Krn sampai masuk waktu Isya Dr Ahmad blm dateng, kita sempet sholat Isya dulu, dan baru berangkat jam 9. Di jalan, rombongan Nik sempet terpisah dari kita. Nik ini bukan orang KL, jadi gak begitu tau jalan di KL. Sementara 2 penumpang lainnya, gak bisa diharapkan deh, krn mereka foreigner. Waktu Dr Ahmad masuk ke subway Lebuhraya Smart, Nik tetap lewat jalan atas. Setelah berkali-kali istrinya Dr Ahmad memandu Nik via telepon, akhirnya mereka bisa ketemu lagi dgn kita.

Oya, restoran yg mau kita datangi ini adalah restoran Padang, namanya Sari Ratu. Ada 2 alternatif cabang yg bisa kita pilih, yaitu Bukit Bintang dan Desa Pandan. Cabang² lainnya terlalu jauh. Nah, Dr Ahmad lebih milih Desa Pandan, sebab dia bilang Bukit Bintang itu rame, parkirnya juga susah. Emang sih, Bukit Bintang kan daerah komersil, sampe malem pun tetep rame. Saya juga setuju kalau kita pilih Desa Pandan aja.

Udah hampir jam 10 waktu kita sampai di daerah Desa Pandan. Ternyata nyari lokasi restorannya lumayan susah, krn jalannya kayak labirin. Ditambah lagi pas di sana hujan lebat. Tepat jam 10, akhirnya kita sampai di restoran yg dituju. Tapi alangkah kecewanya saya ketika pelayan yg jaga bilang bhw restoran itu sudah mau tutup. Ya, ternyata utk Sari Ratu yg di Desa Pandan, memang tutupnya jam 10 malem. Padahal yg di Bukit Bintang tutupnya jam 11. Mungkin krn Desa Pandan ini gak seramai Bukit Bintang, jadi lebih cepet tutupnya. Lalu si pelayan menyarankan kita pergi ke Bukit Bintang aja. Kalau kita setuju, biar dia telepon dari situ, reserve tempat dulu. Yah, mau gimana lagi, akhirnya kita pun ke Bukit Bintang. Hah, kalo tau gini kan dari awal aja kita ke Bukit Bintang.

Singkat cerita, akhirnya jadi juga kita makan² di Bukit Bintang. Restorannya udah sepi banget, hanya ada satu rombongan pengunjung lain selain kita. Coba, kalo udah heboh 2 mobil gini kita dateng, terus makan²nya gak jadi krn restorannya udah tutup, kan gak seru banget. Sayang, jus alpukatnya udah habis. Padahal saya pengen banget memperkenalkan jus alpukat itu ke mereka. Tapi makanan lain masih ada semua. Kita pesen macem², mulai dari rendang, dendeng, keripik, otak, paru, gulai ayam, telur dadar, tak lupa sambel merah dan ijo. Minuman teh botol (yg dikemas dalam kotak) dan es teler juga kita cicipin. Kita minta semua lauk ditaro di piring² kecil, jadi semua orang bisa mencicipi banyak lauk sekaligus. Wah, mereka kelihatan doyan banget lho. Bahkan Habshi yg gak kuat pedes pun nambah ngambil sambel merah dan ijo. Enak katanya. Saya bangga banget mereka menyukai masakan Indonesia. Istrinya Dr Ahmad nanya ke saya, gimana cara masak makanan² ini, dia pengen nyoba juga. Hehe… jadi gak enak nih, saya gak pinter masak, Bu. Maaf ya. Tapi kita sering sih masak beginian kalo lagi acara keluarga.

Kita udah laper banget pas makanannya disajikan (sampe lupa ngambil foto² makanan :P ). Saya sendiri sih blm terlalu laper, kan tadi sebelum berangkat makan² dulu bareng temen² kolej. Puas banget kita makan, gak nyadar kalo udah jam 11 malem dan restorannya mau tutup, sampe diingetin sama pelayannya, hihi…
Saya seneng dan lega banget, niat saya ngajak makan Dr Ahmad bisa kesampean. Eh, tapi ada yg mengejutkan nih. Ceritanya acara makan² ini kan dalam rangka pesta perpisahan saya, dan niatnya sayalah yg mentraktir. Tapi krn Dr Ahmad membawa keluarganya, tanpa sepengetahuan saya, dia sudah membayar semuanya. Saya aja gak tau kapan dia bayar ke kasir. Wah, jadi gak enak nih. Saya yg ngedesek-desek ngajak pergi makan, ujung²nya malah saya yg dibayarin, haha… Dr Ahmad bilang, lain kali aja lah saya nraktir dia. Kalo gak sempet di Malaysia, ya di Indonesia. Siapa tau nanti dia berkunjung ke Jakarta. Hmm… OK deh, Dr. Kalo nanti Dr dan keluarga berkunjung ke Jakarta, akan saya jamu sepuasnya.

Hari Yang Melelahkan

November 12th, 2008

Selasa, 11 Nov ‘08. Dr Ahmad sudah beberapa hari ini gak ada di kampus. Kamis-Jumat (6-7 Nov) kemaren beliau ke Sabah, Senin (10 Nov) ada workshop di Cyberjaya. Padahal saya perlu banget ketemu beliau segera utk membereskan urusan copyright agreement paper kita di IJGIS yg mesti disubmit paling lambat Rabu (12 Nov) ini. Juga saya pengen numpang ngeprint halaman berwarna utk final version thesis. Sebenernya yg terakhir ini gak perlu skarang sih, toh saya juga baru akan hard-bound dan memperbanyak thesis bulan Desember nanti setelah rapat senat. Tapi, pengalaman waktu mau ngeprint thesis untuk viva kemaren, takutnya saat itu beliau on leave. Sementara sisa waktu saya di Malaysia ini terbatas. Buat jaga², mending saya print skarang aja.

Kemaren Dr Ahmad sudah menentukan appointment ketemuan dgn saya jam 8.30 pagi ini. Tapi jam 8 pagi, pas saya baru selesai mandi dan siap² mau berangkat ke fakulti, beliau nge-SMS nyuruh saya dateng jam 4 sore aja. Tadinya saya berencana, setelah ketemuan dgn Dr Ahmad mau pergi ke Mines dan MV utk nuker ringgit di money changer, kan bentar lagi mau pulang ke Jkt. Nah, krn janji ketemuan dgn Dr Ahmad diundur jadi sore, acara pergi ke Mines dan MV pun diubah jadi pagi hari. Bukan cuma ke money changer, saya juga keliling mall nyari DVD original film kartun Malaysia Upin dan Ipin, titipan tante saya di Jkt. Di Mines, saya ngecek rate di dua money changer, tapi masih terasa mahal. Biasanya emang money changer di MV yg ratenya paling bagus. Saya pun lanjut perjalanan ke MV. Sampe di MV udah jam 12.30 siang. Benar dugaan saya, rate di MV lebih bagus. Jadilah saya ngejual ringgit saya di MV. Saya sempet muter² lagi nyariin DVD Upin dan Ipin itu, tapi gak ketemu. Jam 1 lewat 10 menit saya pun balik. Apesnya KTM-nya terlambat, baru dateng jam 1.30, shg jam 2 kurang 10 menit baru saya nyampe di Stasiun Serdang. Nunggu lagi bis RapidKL ke kampus. Nyampe kampus jam 2.30 pm. Nunggu lagi bis kampus yg ke kolej, nyampe kolej jam 3 kurang 5 menit. Buru² sholat dan makan, jam 3.40 berangkat lagi ke fakulti pake sepeda. Masih ada 10 menit sebelum jam 4 ketika saya tiba di fakulti, tapi saya langsung aja ke ruang Dr Ahmad, siapa tau beliau dah ada. Eh, ternyata di depan ruangan beliau udah ada 2 orang student menunggu, cowok dan cewek. Rupanya di dalam ada student yg sedang konsultasi thesis. Maklum, akhir semester begini rame student yg konsultasi thesis dgn supervisor krn mereka harus submit progress report. Ditambah lagi, Dr Ahmad sudah beberapa hari ini gak ada di kampus. Banyak sekali student yg mau ketemu beliau, bukan cuma saya. Terpaksa saya nunggu dulu. Student yg sedang diskusi di dalem itu lumayan lama, ada kali 10 menit kita nunggu. Untung student berikutnya, si cowok, cepet. Dia cuma ngasihin entah dokumen apa ke Dr Ahmad, ngomong sebentar, trus langsung pergi. Student berikutnya, si cewek, masuk bareng saya. Urusan dia dengan Dr Ahmad lumayan banyak; diskusi thesis, minta sign utk form progress report, form pemilihan komite supervisor, dan form GRF. Tapi tetep sayalah yg paling lama ngendon di ruang Dr Ahmad. Gimana enggak, lha wong numpang ngeprint gitu lho… :P

Urusan ngeprint ini sempet ada masalah. Printernya Dr Ahmad sudah lama gak dipake. Waktu itu juga saya mau ngeprint halaman berwarna utk perbaikan thesis yg cuman satu eksemplar, gak jadi krn printer tsb gak bisa terdeteksi baik di PC Dr Ahmad maupun di laptop saya, bahkan setelah kabel USBnya diganti. Untung printer tsb juga bisa diakses lewat wireless network. Cuman saya gak begitu ngerti ngesetting via wireless ini. Akhirnya saya minta bantuan Riza, temen sesama student Indonesia, untuk dateng ke ruang Dr Ahmad dan mensetting laptop saya sampe bisa connect ke printer. Kebetulan dia di fakulti Engineering juga, dan setiap hari kerja di lab. Setelah Riza turun tangan, akhirnya berhasil juga printer tsb terconnect dengan laptop saya. Akhirnya bisa juga saya ngeprint. Sementara saya ngeprint, Dr Ahmad terus melayani student²nya yg dateng silih berganti, termasuk Habshi juga dateng. Jam 6.30, hampir Mahgrib, baru urusan ngeprint ini selesai. Ya, semuanya harus dituntaskan hari itu juga, krn Rabu-Kamis (12-13 Nov) Dr Ahmad akan sibuk seharian dengan acara presentasi progress report. Sedangkan hari Jumat (14 Nov) saya udah balik ke Jkt. Kali ini memang kudu diperjuangkan nih, soalnya saya ngeprint banyak banget, utk 7 eksemplar; 2 buat GSO, 3 buat supervisor, 1 buat saya, 1 lagi buat Dinas Pemadam Kebakaran Jakarta yg udah ngasih data. Lumayan kan kalo mesti ngeprint di rental.

Capek banget saya hari ini. Dari Mines disambung ke MV, saya mesti jalan kaki jauh ke stasiun. Padahal di kedua mall tsb saya juga keliling². Terus naek sepeda dari kolej ke fakulti. Dan krn urusan ngeprint tadi sempet bermasalah, mungkin saya agak tegang, jadi bukan cuma capek fisik, tapi juga pikiran. Saking capeknya, saya gak kuat naik sepeda lagi balik ke kolej. Akhirnya sepeda saya tinggal di fakulti. Kunci saya kasih ke Habshi dan mengizinkan dia atau yg lain make kapan saja mereka perlu.

Pelatihan Word Untuk Memformat Thesis

November 9th, 2008

Sabtu, 8 Nov ‘08. Sebentar lagi saya akan meninggalkan UPM. Sebelum pergi, saya pengen meninggalkan sesuatu yg berguna buat temen² saya di kolej, yg memang telah menjadi keluarga saya di UPM ini. Akhirnya terpikirlah ide, saya akan memberikan pelatihan menggunakan Word khusus utk keperluan menulis thesis. Kebetulan kita semua di sini bikin thesis, pastinya ilmu ini akan sangat dibutuhkan. Kalau hanya nulis thesis dengan Word, tentunya semua bisa. Tapi tidak semua orang memanfaatkan kecanggihan fitur² Word dengan optimal. Padahal kalau itu dilakukan akan membuat kerja kita lebih cepat dengan hasil yg lebih rapi dan lebih akurat. Oleh krn itu saya berniat memfamiliarkan pemanfaatan fitur² Word ini utk teman² sesama pelajar Indonesia di UPM yg masih berjuang dengan thesisnya. Selama ini saya memang sering membantu mereka utk urusan formatting dokumen thesis. Kalo ntar saya pulang, gak bisa lagi saya bantuin mereka. Mereka sangat antusias waktu saya melontarkan ide pelatihan ini. Bukan hanya Word, malah mereka juga minta saya memberikan pelatihan Photoshop dan Excel. Tapi yg 2 ini gak urgent banget lah.

Hingga saat ini, ada 10 orang student Indonesia yg tinggal di kolej serumpun, yaitu Ferra, saya, Indah, Ayu, Riri, Rahmi, Sandra, Winda, Erra dan Rahayu. Di antara kita bersepuluh, hanya Ferra-lah yg student PhD, dan agak jarang ngumpul dengan kita krn lebih sering sibuk di lab. Ayu, semenjak nikah bulan Juli lalu, cuma sempet balik ke sini sebentar, setelah itu pulang lagi ke Riau. Sampe skarang belum balik lagi ke UPM. Kayaknya sih dia dah hamil, krn waktu ke sini dah mulai mual². Jadi kita bisa dengan aman manggil Rahayu dengan Ayu saja, krn dah gak ada saingan nama Ayu lain. :)

Rahmi dan Winda kebetulan tadi malem gak ada di kolej. Rahmi nginep di rumah kakeknya, Winda gak tau kemana, sedangkan Ayu, katanya capek seharian abis nge-lab. Jadi yg ikut pelatihan semalem cuma Sandra, Indah, Riri dan Erra. Kita kumpul di kamar Sandra, semua bawa laptop masing². Materi yg saya ajarkan mencakup:

outline numbering
Fitur ini gunanya supaya ketika menulis thesis, kita gak sibuk lagi mikirin penomoran chapter dan heading. Kita tinggal insert atau delete heading, move satu heading ke heading lain, tanpa harus pusing mengatur kembali penomoran seluruh heading. Fasilitas outline numbering akan otomatis mengupdate dan mengurutkan nomer² heading secara real time pada saat kita melakukan insert, delete dan move. Dengan demikian penomoran dokumen kita dijamin tepat, dan kita pun bisa konsen memfokuskan perhatian kita pada isi thesis yg sedang kita tulis, tanpa diganggu oleh kesibukan mengurutkan nomer² heading.
style formatting
Utk bisa memahami cara kerja outline numbering, sebaiknya paham dulu konsep style formatting, sebab outline numbering ini akan mengassign style² tertentu utk tiap heading. Style formatting dapat menghemat waktu kita utk mengedit format elemen² dokumen, spt heading, paragraph, ordered list, unordered list, caption, title, character, bahkan table. Setiap elemen hendaklah diassignkan pada style yg tepat. Jika suatu saat kita ingin mengganti format elemen tsb, misalnya mengubah font type, font size, spasi, alignment, indentation, tab, page break, dsb, kita tdk perlu mengulang-ulang proses ini utk semua elemen yg terpencar-pencar dalam satu dokumen. Cukup kita edit style-nya saja. Maka seluruh elemen yg menggunakan style tsb akan otomatis berubah. Ini tentu sangat menghemat waktu jika dokumen kita besar, spt dokumen thesis yg biasanya lebih dari 100 halaman.
document map
Document map berfungsi utk keperluan navigasi. Jika heading² dlm dokumen kita terformat dengan baik menggunakan style² built-in di Word, outline seluruh heading bisa kita lihat di document map. Ini sangat berguna jika kita bekerja pada file yg besar, kemudian kita ingin bolak-balik dari satu heading ke heading yg lain, maka kita bisa pergi ke heading yg dituju dengan langsung mengklik melalui document map. Misalnya pada saat kita bikin methodologi di Chapter 3, mungkin kita perlu melihat beberapa literature review di Chapter 2. Atau ketika membuat diskusi result di Chapter 4, kita perlu merefer kembali review di Chapter 2 dan design methodologi di Chapter 3. Juga saat membuat conclusion di Chapter 5, kita perlu mencocokkan kembali dengan objective di Chapter 1. Jaman kuliah di ITB dulu, temen² saya banyak yg menyimpan bab² TA atau laporan studio dalam file² terpisah. Satu file utk satu bab. Alasannya, kalau semua digabung dalam satu file, pusing mau bolak-balik dari satu bagian ke bagian lain, nge-scroll-nya jauh banget. Nah, dengan document map, hal tsb tidak lagi menjadi masalah. Sampe 10 chapter aja sih document map-nya relatif masih pendek. Navigasinya masih mudah utk diikuti.
table of content
Setelah kawan² saya mengaplikasikan outline numbering dan memformat heading di thesis mereka dengan style yg sesuai, maka table of content atau daftar isi pun bisa digenerate secara otomatis, hanya dalam sepersekian detik. Sangat menghemat waktu, kan? Dibanding kalau kita harus membuat daftar isi secara manual. Belum lagi resiko salah nulis judul heading dan nomer halaman. Next time kita mengubah isi thesis kita, mengganti judul heading, memindahkan heading, menambah atau menghapus heading, maka kita tinggal update daftar isi tsb. Kita bisa mengupdate seluruh daftar, atau hanya nomer halamannya saja. Style utk table of content ini juga bisa diatur, sebagaimana style² utk elemen dokumen lainnya, krn Word otomatis meng-assign tiap level dalam daftar isi ini dengan style yg relevan. Biasanya kita perlu membuat nomer heading suatu level sejajar dengan label heading level di atasnya. Semua bisa dilakukan dengan drag-and-drop ruler marker dalam dokumen, kemudian update style utk level yg bersangkutan.
caption
Suatu thesis umumnya juga mengandung table, figure dan mungkin juga equation. Table/figure ini juga mesti dibuat daftarnya, setelah daftar isi. Supaya daftar table/figure ini juga bisa digenerate otomatis spt halnya daftar isi, penomoran judul² table/figure dlm dokumen harus dibuat menggunakan caption. Penomoran diberikan menurut caption. Bisa mengikutsertakan nomer chapter, bisa juga gak. By default, Word akan mengassign semua caption dengan style Caption. Kalau kita memerlukan style yg berbeda utk caption table dan figure, kita bisa membuat style sendiri dan mengassignkan masing² caption dgn style yg sesuai. Misalnya utk judul figure, krn diletakkan di bawah gambar, spasi before-nya perlu dibuat agak jauh supaya gak mepet dengan gambar di atasnya. Sementara utk judul table, krn diletakkan di atas tabel, spasi after-nya lah yg perlu dibuat agak jauh supaya gak mepet dengan tabel di bawahnya. Juga harus diset keep with next supaya judul tabel ini gak terpisah halaman dengan tabelnya. Berbeda dengan heading, nomer² caption ini gak secara real time berubah jika kita menambah/menghapus caption di atas atau di bawah caption yg sudah ada. Tapi gak usah khawatir, hal ini pun dapat diupdate dalam sepersekian detik saja. Tinggal klik update, maka nomer² caption itu pun akan diurutkan kembali.
list of figure/table
Setelap judul² gambar dan tabel dinomori secara otomatis menggunakan caption, daftar gambar/tabel bisa digenerate secara otomatis. Satu list utk satu jenis caption.
cross-reference
Figure, tabel, equation, heading, appendix, umumnya akan disebutkan dalam text sebagai reference. Misalnya pada saat kita nulis, “The result can be seen in Table 2.X”, atau “Figure 3.2 shows how the research is carried out”, atau “as mentioned in section 2.3 on review of GIS and location science”. Nah, referensi² dalam text ini disebut dengan cross-reference. Caption, heading, bookmark, footnote, list, appendix, bisa dibuat cross reference-nya. Jika elemen² yg direfer ini suatu saat berubah, otomatis, cross-reference dlm textnya juga mesti diubah. Bayangkan betapa sulitnya melakukan ini secara manual. Mau gak mau kita harus membaca seluruh dokumen. Sedangkan hal tsb mungkin perlu kita lakukan beberapa kali sepanjang proses penulisan thesis. Jika kita menggunakan fasilitas cross-reference utk semua reference dalam text, spt halnya caption, pengubahan dapat dilakukan sekejap mata dengan mengklik update field.
section and pagination
Biasanya, halaman² sebelum chapter (daftar isi, acknowledgements, abstrak, approval sheet, declaration etc), harus diberi nomer halaman yg berbeda dengan nomer halaman chapter, dan ditulis dengan angka romawi. Sedangkan nomer halaman chapter ditulis dengan angka latin. Utk keperluan ini, maka halaman² sebelum chapter dan halaman chapter harus dibuat dalam section yg berbeda. Jika sectionnya berbeda, format nomer halaman, header dan footer utk masing² section pun bisa dibuat berbeda sesuai keperluan.
comment and track change
Sbg dosen, Sandra sering menerima tugas mhs-nya melalui email. Dia nanya, gimana caranya ngasih komentar atau koreksi thd tugas mahasiswanya tsb langsung di filenya, supaya bisa dia kirim lagi lewat email, gak usah diprint. Yah, kalo soal ini mah gampang, tinggal pake fasilitas comment. Jaman saya kerja di konsultan dulu, saya sering menggunakan fasilitas comment ini krn harus kerja dengan rekan yg kantornya berlainan. Krn udah menyinggung soal comment, sekalian saya pun memperkenalkan fitur track change. Saya juga belum lama kenal fitur tsb. Waktu ngirim revisi paper kemaren, editor jurnal meminta saya memanfaatkan fitur track change supaya perubahan yg saya buat bisa keliatan. Saat itulah mau gak mau saya harus mempelajari apa dan bagaimana menggunakan fasilitas track change. Sebenernya saya gak berniat memberikan materi ini ke temen² saya krn gak diperlukan utk formatting thesis, tapi mereka ngomong, “kita kan nanti pengen publish paper juga” hehe… iya deh, saya kasih.

Selain materi di atas, saya juga menjelaskan sedikit soal equation editor, spt gimana menambahkan tombol equation ke toolbar jika belum tersedia (umumnya memang belum tersedia kalo belum pernah dipake). Rata² sih mereka dah pernah make equation editor waktu kuliah S1 dulu, tapi sudah agak lupa cara makenya. Saya juga menjelaskan tentang formatting marks. Mark ini terutama utk mengecek apakah suatu paragraph atau heading terpecah dalam beberapa line atau satu line, krn tampilan keduanya sama aja. Kalo kita mengcopy text dari dokumen PDF, biasanya text tsb terpecah dalam beberapa line, jadi kita harus mengeditnya supaya menjadi satu line. Utk heading chapter, label chapter harus diletakkan di bawah nomer chapter, tetapi tetap harus berada dalam satu line, hanya diwrap saja supaya pindah ke baris berikutnya. Kalau dia berbeda line, maka akan terdefinisi sbg chapter berikutnya. Padahal bukan gitu yg kita inginkan.

Kendala yg dihadapi dalam pelatihan ini adalah: Riri menggunakan Word 2007! Duh, benci banget deh saya dengan interface Word 2007 ini, semua menu dan tombol diubah posisinya. Udah gitu si Riri tetep aja minta saya cariin, menu ini dimana, cara apply style gimana, cara ngewrap text gimana, dsb. Padahal saya juga gak tau. Jadi nambah kerjaan buat nyari². Kasian juga si Riri, yg laen udah jauh kemana, dia masih sibuk aja berkutat nyari² gimana supaya nomer heading otomatis terupdate ketika kita mengassign style heading tsb. Udah terakhir² baru ketemu caranya. Heran, ngapain sih Microsoft ngeganti² interface kayak gini? Bikin susah aja. Mending kalo lebih bagus, yg ada malah tambah ribet, terlalu banyak bells and whistles, sama spt AutoCAD Map versi 2006 ke atas. Makanya, saya gak tertarik utk ngeupgrade, biarpun katanya Word 2007 ini sudah dilengkapi dengan fitur citation tanpa harus menggunakan third party software spt Endnote, Reference Manager, Procite, dsb.

Oh iya, pas mulai belajar, waktu saya ngeliat mereka mencatat langkah² yg saya berikan, gak nahan saya langsung ngasih tau, “Duh, repot amat kayak begini dicatet. Bikin skrinsyut ajah!” Jadilah saya harus memberikan tutorial singkat gimana mengcapture skrinsyut langkah² kita. Mestinya sih pake SW khusus yg langsung menyimpan hasil capture skrinsyut ini dalam file JPG. Saya biasa melakukan hal ini dalam praktikum GIS, krn kita harus bekerja sambil mengikuti intruksi yg diberikan oleh demonstrator. Gak sempet deh kalo mesti nyatet² segala.

Meskipun berlangsung 3 jam, pelatihan malam tadi belum selesai. Masih ada beberapa materi yg belum tersampaikan, seperti membuat style utk table, character dan list number. Materi yg sudah diberikan juga masih ada yg perlu dijelaskan ulang, krn banyak yg ketinggalan, terutama Riri.

Saya puas banget bisa memberikan sesuatu yg mudah²an berguna buat temen² saya ini. Bukan cuma temen² Indonesia. Di kampus, temen² sejurusan pun banyak yg kursus informal dengan saya, belajar Word utk bikin thesis atau project mereka. Kerasa sih hemat waktunya, antara bekerja secara otomatis dengan bekerja secara manual.

Berobat ke PK

November 4th, 2008

Senin, 3 Nov ‘08. Sudah hampir seminggu tangan saya terluka akibat terkena asap panas dari air yg sedang mendidih. Kecil sih lukanya, kira² diameter 4 cm. Kulit di bagian luka tsb menjadi gosong dan memerah. Pas baru² kena, saya sempet mengoleskan salep kulit yg biasa saya pake kalo kulit saya kering dan pecah². Rupanya salep tsb membuat luka di bawah lapisan kulit yg gosong tadi mengeluarkan cairan. Akibatnya kulit gosong tsb menggelembung spt balon. Lama² balon ini pecah dan cairannya pun keluar. Saya pencet² biar lebih cepet kempes. Saya gak tau luka ini mesti diapain. Yg jelas rasanya perih, apalagi kalau mandi. Jadi saya olesin betadine. Tapi bagian luarnya doang yg kena, sedangkan kulit luar yg udah gosong ini kan sebenernya sudah mati. Yg perlu diobatin sebenernya luka yg di bawah itu. Akhirnya, pelan² dan hati², saya buka kulit yg gosong ini. Tampaklah kulit di bawahnya yg merah spt daging. Woah… ngeri banget ngeliatnya, rasanya riskan sekali kalo tersenggol atau tergesek sesuatu. Perihnya juga makin kerasa, sampe² saya ngerasa sakit kalo meluruskan tangan, yg membuat kulit di bagian luka ini ketarik.

Kebetulan kakak ipar saya dokter. Saya telpon dia, konsultasi tentang luka saya ini. Sebenernya dia bilang gak apa² sih, luka saya ini didiemin aja juga lama² kulitnya numbuh sendiri. Tapi dia nyaranin saya utk beli salep kulit khusus luka bakar, supaya sembuhnya lebit cepet. Krn ngerasa sakit utk mandi, shg gak nyaman utk bepergian, saya minta tolong Riri utk beliin salep tsb di apotik di PK buat saya. Tapi ternyata gak bisa beli obat langsung gitu. Saya mesti periksa ke dokter, dikasih resep dokter, baru PK mau ngasih obat. Terpaksalah saya mandi dan dateng sendiri ke PK. Wah, ternyata pengobatan buat saya heboh banget. Dikasih obat luar dalem, pake disuntik segala lagi. Tapi perawatnya bilang luka saya ini dah membaik, kulitnya dah mulai numbuh. Padahal baru tadi pagi kulit itu terbuka. Pertama dia bersihkan dulu bagian kulit yg memerah ini dengan alkohol. Setelah itu luka ditutup dengan lapisan plastik, kemudian ditutup lagi dengan perban. Plastik penutup luka ini bukan sembarang plastik, melainkan mengandung obat. Saya disuruh membuka plastik ini setelah 3 hari. Hah, kenyataannya baru satu hari plastik itu dipake, udah lepas sendiri. :P Mungkin sayanya juga yg terlalu brutal dan banyak gerak, hehe… Plastik ini juga berfungsi menjaga supaya luka tidak terkena air.

Saya disuntik di lengan atas. Menurut kakak ipar saya, itu suntikan tetanus. Padahal saya sudah pernah disuntik tetanus jaman imunisasi dulu. Tapi mungkin di Malaysia gak semua orang sudah disuntik tetanus. Obat dalem dikasih antibiotik, sementara obat luar ya salep utk luka bakar tadi. Semua biaya pemeriksaan, perawatan, dan obat-obatan tentu saja gratis, krn saya berobat di PK kampus. Untung saya berobat ke PK, luka saya jadi cepet sembuh krn diobatin. Biasanya kan saya gak pernah pergi ke dokter. Di rumah, kalau cuma sakit demam, batuk atau luka spt ini, ayah atau kakak ipar dengan mudah bisa mendapatkan obat dari Rumah Sakit. Yah, nasib merantau sendirian di negeri orang, mau gak mau deh, harus rajin² ke dokter.

Keliling Pusat Kota

October 31st, 2008

Kamis, 30 Okt ‘08Entah kenapa, tiba² aja saya kangen nonton serial TV Amerika jaman dulu, seperti Full House dan Step by Step. Selama beberapa hari, saya menghabiskan waktu nonton cuplikan² serial tsb di Youtube. Tapi tentu saja gak puas cuma nonton dari Youtube. Filmnya gak tuntas, gambarnya pun gak jelas. Saya pengen banget beli DVD original serial tsb. Setau saya di Kotaraya ada satu mall yg menjual DVD original drama² Korea. Nah, mungkin disana juga dijual serial TV Amerika. Maka, jadilah hari ini saya plesiran ke pusat kota untuk hunting. Sekalian tante saya yg di Jakarta nitip DVD original film kartun Malaysia, Upin dan Ipin. Selain nyari DVD, saya juga mau nyari travel bag kecil, sebab tas saya yg lama dah rusak, sementara saya perlu bawa banyak barang pas pulang nanti.

Saya pergi sendirian, naek bis Metro 17 yg rutenya langsung dari kampus UPM sampe Kotaraya. Di mall Kotaraya, saya dah keliling satu lantai yg berisi deretan pertokoan DVD drama Korea. Tapi rupanya gak ada yg jual serial Amerika yg saya cari. Paling adanya film² bioskop aja. Film² Indonesia malah ada. Yah, akhirnya saya cuma keliling² aja di mall sekitar situ, ngeliat-liat. Rencananya, saya mau beli travel bag di Giant Mines, deket stasiun Serdang, sepulang dari Kotaraya ini. Tapi pas keliling di mall Kotaraya itu, saya liat banyak banget toko yg menjual travel bag. Murah² dan bagus² lagi. Model dan merknya pun macem². Dipikir-pikir, ngapain juga saya pergi ke Giant? Udah di Kotaraya mah, beli aja kopernya di sana. Malah enak kalo beli di sana, pas balik saya tinggal naek bis Metro lagi, gak perlu jalan jauh nenteng² koper spt kalo saya belanja di Giant. Waktu itu niat pengen beli di Giant kan krn emang blm ada rencana jalan² ke Kotaraya. Nah, skarang udah nyampe di Kotaraya, ya beli aja di situ. Akhirnya, saya pun jadi beli koper di sana. Tapi gak langsung beli saat itu, krn saya masih pengen keliling² dulu. Kan repot kalo jalan² sambil bawa koper. Jadi koper itu baru saya beli pas udah mau balik dan tinggal naek ke bis.

Sambil nyari² DVD, saya memperhatikan kalau² ada apotik di sekitar situ. Saya mau beli obat utk luka saya kena asap air mendidih. Saya pun sempet masuk ke toserba Mydin, siapa tau ada dijual DVD di situ. Tapi gak ada. Saya terus jalan, akhirnya nyampe ke Pasar Seni. Yah, kalo udah di Pasar Seni, terpaksa deh, saya tidak bisa menahan diri utk beli kacang Pistacheaus. Gak tau, saya kok doyan banget ya? Mana harganya mahal, sama dengan kacang Almond. Tapi tetep aja saya beli seplastik gede, krn semakin gede, harga per kilonya semakin murah. Biarin deh, sekali² jajan. Gak sering² saya maen ke Pasar Seni gini. Lagipula, saya emang mau puas²in jajan. Selagi masih di Malaysia, jajanlah jajanan yg jarang bisa ditemui di Indonesia.

Di Pasar Seni sebenernya kemungkinannya kecil utk bisa menemukan toko yg jual DVD. Tapi… gak disangka, di antara toko² yg menjual barang antik, ternyata ada satu kios yg menjual DVD. Dan setelah saya tanya, ternyata di kios ini saya bisa pesen DVD kedua serial yg saya cari. Wuaahh… betapa sukacitanya saya. Langsung aja saya pesen 4 season utk masing² serial. Harga per season-nya RM66, lebih murah dibanding kalo saya beli ke Amazon dan harus menanggung ongkos kirim. So, jalan² hari ini sukses. Rencana beli travel bag kesampean, DVD pun dah bisa pesen. Nanti kalo barangnya dah ada, mereka akan hubungi saya, dan saya baru akan bayar kalo barang sudah datang. Jadi gak sabar pengen cepet² nonton.

Pesta Pempek

October 30th, 2008

Rabu, 29 Okt ‘08. Salah satu temen ada yg bawain Pempek dari Riau. Pempek ini sudah lama tersimpan di kamar Indah, satu²nya di antara kita, geng Kolej serumpun, yg punya kulkas di kamar. Gak lama² banget sih, abis lebaran yg jelas. Hari ini, kita pun berniat utk makan pempek itu. Waktu kita buka, ternyata kondisinya udah agak rusak. Pempek itu ditaburi tepung terigu, supaya gak basi, dan tepung terigunya itu sudah mencair spt lendir dan agak bau. Rahmi dan sayalah yg mencuci pempek itu. Kita sendiri udah gak yakin, pempek itu masih bisa dimakan apa gak. Tapi kita coba aja mencuci pempek tsb dengan air panas, membuang cairan bekas tepung terigunya sampe bersih, membuang ujung² pempek yg sudah menguning dan mengeras. Setelah dicuci dan dibilas berkali-kali, dan setelah cairan terigunya hilang, lumayan… bau apeknya berkurang.

Kita lalu merebus pempek tsb, kemudian menggorengnya sampe kecoklatan. Biar mati deh tuh kuman²nya. Pesta pempek dilakukan di kamar saya. Rame yg ikutan, ada Rahmi, Erra, Sandra, Winda, Ayu, Riri, Indah dan saya tentunya. Mengingat kondisi pempek ini sudah hampir basi, sebelum makan, kita nanya² dulu “Ada yg punya obat sakit perut?” Buat jaga². Setelah Indah bilang dia punya obat sakit perut, dan cukup banyak persediaannya, baru kita berani makan. Haha.. ngeri banget ya, mau makan kok resikonya bakalan keracunan dan sakit perut. Tapi gak aneh juga. Masalahnya baru² ini, waktu acara Family Gathering PPI UPM kemaren, konon 90% peserta menderita sakit perut sehabis makan di acara tsb, sampai² mereka harus pergi ke klinik kampus. Kebetulan banget, saya gak dateng acara itu. Tapi malemnya saya ikut mencicipi makanan yg disajikan, krn beberapa temen sekolej membawakan beberapa kotak makanan yg tersisa, dan kita makan bareng² di kolej malem harinya. Cuma, krn memang sebagian lauk udah terasa bau, ya saya buang. Rupanya tepat saya melakukan itu. Kalo gak, mungkin saya pun bakalan sakit perut juga. Nah, gara² insiden sakit perut ini, kita jadi agak trauma, takut makan makanan yg udah agak bau.

Sayalah yg pertama kali berani mencicipi pempek tsb. Setelah direbus dan digoreng, ternyata enak kok. Gak ada tanda² pempek tsb hampir basi. Saya makan sampe 3 potong, Rahmi bahkan 4 potong. Winda dan Ayu, yg kebetulan tidak melihat kondisi pempek tsb sebelum dimasak, menyatakan pempek tsb enak² aja kok. Jadi insya Allah aman lah. Cuma Indah yg gak berani ikutan makan sama sekali. Katanya, melihat kondisi pempek itu sebelum dimasak, selera dia langsung hilang, hihihi… Yg agak mengkhawatirkan justru kuahnya. Kalaupun kita sakit perut, mungkin bukan krn pempek yg basi, tapi krn kuah pempek yg emang tajem di perut. Saya pun kalo udah lama gak makan pempek, kadang² suka sakit perut juga sekalinya makan. Yah, demi mencegah terkena sakit perut, kali ini saya makan kuahnya sedikit aja, gak dipuas²in seperti biasanya.

Yang lucu, kalo lagi ngumpul² begini, kita biasanya ributnya bukan maen. Pernah kejadian pas ulang tahun Sandra, ada student yg datang ke kamar dan protes, “Maaf, kak, kami sedang ujian. Boleh tolong jangan terlalu ribut.” Memang waktu itu bertepatan dengan minggu² ujian akhir. Saya sendiri gak ikutan krn sedang ada di Jkt. Nah, semenjak kejadian itu, kalau kita lagi ngumpul dan ribut begini, lalu tiba² ada yg mengetuk pintu, kita langsung ketakutan. Demikian pula sekarang. Lagi heboh²nya kita makan dan ngobrol, tiba² ada yg mengetuk pintu kamar. Kontan semuanya naek ke tempat tidur saya, supaya tidak terlihat dari arah pintu. Bego juga yah, biarpun ngumpet, tapi sendal yg bertebaran di luar kan gak bisa menipu bhw di kamar ini memang banyak orang. Sebagai tuan kamar, saya lah yg membukakan pintu. Ternyata yg dateng adalah Maryam, student Iran temen deketnya Rahmi. Lega deh saya. Mendengar suara Maryam, anak² yg sedang bertumpuk dan ketakutan di atas tempat tidur saya pun langsung terbahak-bahak. Wah… adegan mereka tergopoh-gopoh naek ke tempat tidur itu pasti menggelikan jika direkam dgn video. Rupanya Maryam dateng cuma mau ngasih tau bhw dia sedang masak Iranian soup, dan akan membaginya buat kita. Duh, bikin panik aja.

Thesis Corrections

October 29th, 2008

Sebenernya perbaikan thesis yg perlu saya lakukan gak banyak, namanya juga minor correction. Tapi saya membuat koreksi lebih dari yg diminta. Saya baru mulai ngerjain perbaikan pas udah balik ke Jkt. Eh, sebelumnya dah sempet searching literature sih, krn saya harus menambah literature review tentang location-allocation problems. Ini permintaan Prof Ruslan. Sebenernya saya agak bingung juga, thesis saya tentang location modeling, dan saya sudah melakukan literature review beberapa model yg ada, seperti PMP, PCP, LSCP, MCLP, MECP dll. Jadi, review gimana lagi yg beliau mau? Tapi akhirnya bisa juga saya laksanakan. Saya ngereview location-allocation dari segi aplikasi. Jadi bukan ngebahas model empiris spt PMP, PCP dan sebagainya itu, melainkan lebih kpd contoh real problem, dan gimana GIS dapat dimanfaatkan utk menyelesaikan problem tsb. Tambahan literature review ini saya sisipkan sbg subsection dari section tentang GIS dan Location Science.

Kritikan examiner lainnya yg perlu saya koreksi adalah perbedaan ukuran hexagon dan square utk tessellation dan ukuran grid raster utk pemilihan candidate site. Kelihatannya sih ini perkara remeh, padahal sebenernya ini pekerjaan besar! Mengganti ukuran figure dan grid raster berarti menghasilkan set candidate site yg berbeda. Krn set candidate site menjadi input utk proses optimisasi, maka saya harus mengulang proses optimisasi. Otomatis output akhir juga akan berbeda. Diskusi result serta conclusion pun berubah. Gambar peta, grafik, dan tabel juga perlu diupdate sesuai output yg baru. Kalau dipikir-pikir, sebenernya yg saya kerjain ini minor atau major correction sih? :) Tapi saya seneng. Krn ukuran figure dan grid raster diseragamkan, gak terlalu banyak parameter yg saya bandingkan. Penelitian saya jadi lebih simpel, result yg perlu dianalisis pun lebih sedikit. Saya juga gak perlu lagi menyebut-nyebut Sensitivity Analysis, krn gak ada parameter yg diubah-ubah. Semuanya udah fixed diset dari awal.

Section terakhir dari Chapter 2 saya reorganize lagi. Bagian yg mendiskusikan kriteria site suitability evaluation utk pemadam kebakaran saya pindahin ke Chapter 3. Waktu awal² dulu, bagian ini memang udah saya bikin di Chapter 3. Tapi krn dalam penyusunan kriteria itu saya masih menggunakan literature, menurut Dr Rashid, itu semestinya masuk Chapter 2. Chapter 3 haruslah murni mendeskripsikan metode kita. Tapi menurut saya, utk kasus ini, meskipun saya masih menyebutkan literature, saya tidak melakukan review. Saya mendesain sendiri kriteria pemilihan lokasi pemadam kebakaran, tapi mengadopsi dari beberapa sumber. Jadi literature tsb hanya menjadi bahan rujukan. Lagipula pemadam kebakaran itu hanya contoh utk simulasi model yg saya kembangkan, jadi kurang cocok kalo kriteria lokasinya ditaro di literature review. Sebab pemilihan pemadam kebakaran utk simulasi itu sendiri baru disinggung di Chapter 3.

Diskusi tentang kriteria pemilihan heuristic saya pindahin ke section lain yg mereview tentang heuristic. Dengan demikian, section terakhir dari Chapter 2 ini hilang. Tapi sebagai gantinya, saya membuat satu section summary. Summary ini juga saya buat di Chapter 3 dan Chapter 4, sesuai saran dari salah satu examiner. Penjelasan tentang Nearest-neighbor analysis, yg semula di Chapter 4, saya pindahin ke Chapter 3, krn salah satu examiner berkomentar bhw sebagian metodologi masih ada di Chapter 4, padahal itu semestinya ada di Chapter 3. Saya gak tau metodologi mana yg dimaksud. Mungkin yg nearest-neighbor ini termasuk.

Peta² di bagian lampiran saya update kembali krn saya harus menyertakan skala dan kompas. Output optimal site gak lagi saya muat di lampiran, melainkan saya masukkan di Chapter 4. Sebab saya bukan hanya menampilkan result terbaik dari 4 eksperimen yg dilakukan (2 heuristic thd 2 dataset), melainkan result seluruh eksperimen. Ini karena salah satu examiner (yg saya duga adalah Prod Ruslan) meminta saya melakukan analisis dan presentasi coverage secara spatial, bukan hanya dari segi persentase coverage. Beliau pun meminta saya menunjukkan secara spatial area yg memperoleh tambahan dan pengurangan coverage. Biar gak ngabisin halaman, 4 peta coverage tsb saya bikin dalam satu halaman. Yup, ukurannya kecil² emang. Tapi so what? Emang gak perlu gede² kok. Jadi saya nambahin satu section di Chapter 4 yg khusus secara spatial mendiskusikan coverage dan sebaran lokasi pemadam kebakaran hasil eksperimen. Jumlah peta dalam lampiran pun berkurang. Padahal peta coverage existing akhirnya saya pindahin juga ke lampiran, biar semua peta ngumpul di situ.

Lalu saya memperbaiki Chapter 1. Bukan hanya problem statement dan objective, tapi saya juga merewrite kembali background, study scope dan thesis organization. Ya, sebab memang ada perubahan di beberapa chapter. Otomatis uraian thesis organizationnya juga mesti diupdate. Background saya update kembali sesuai dengan background di paper MSAP yg saya kirim ke IJGIS. Demikian pula problem statement. Utk objective, saya diminta menyesuaikan objective study dengan perubahan judul thesis yg disarankan. Akhirnya saya buat objective study saya hanya satu, yaitu membangun model lokasi emergency facilities, dengan mengintegrasikan GIS di dalamnya. Objective² lainnya saya pindahin jadi study scope. Sebab dipikir-pikir itu memang bukan objective study, melainkan prosedur kerja yg umum dilakukan dalam study tentang location modeling, jadi lebih cocok dimasukkan sbg study scope. Setelah direwrite, saya merasa Chapter 1 yg sekarang ini jauh lebih tepat. Problem statement, objective dan study scopenya lebih mencerminkan penelitian saya yg sebenernya. Oya, koreksi dari para reviewer paper MSAP mengenai kesalahan penggunaan beberapa terminologi dalam optimization theory juga saya lakukan utk thesis ini.

Sampai di sini, saya udah keburu harus kembali ke UPM. Jadi perbaikan selanjutnya saya lakukan di UPM. Tinggal dikit lagi sih, cuma rewrite abstrak dan perbaiki peta study area. Abstract dibuat dengan mengikutsertakan sedikit problem statement, alasan perlunya dilakukan study, objective study dan lebih banyak ringkasan result. Peta study area saya pindahin ke Chapter 3, di section tentang study area. Hari Kamis, sehari setelah saya nyampe ke UPM, dari subuh langsung saya kerjain dua hal ini. Setelah beres, maka perbaikan pun selesai. Tinggal saya mengupdate daftar isi, daftar tabel, daftar gambar, bikin daftar lampiran dan daftar publikasi. Hehe… setelah ada paper yg diaccept, saya dah bisa bikin daftar publikasi nih skarang. ;) Sengaja saya menyelesaikan semuanya pagi², sebab saya mau menemui Dr Ahmad hari itu juga, sekalian mau numpang ngeprint halaman berwarna pake printer beliau. Jadi semua gambar yg perlu diprint berwarna harus udah siap, termasuk peta study area itu. Syukur Dr Ahmad pagi itu ada di ruangannya. Saya bawain oleh² kue kastengel bikinan saya sendiri utk beliau. Saya minta bantuan beliau utk mengoreksi abstrak versi bahasa Melayu yg saya bikin pake bahasa Indonesia, hehe… Ternyata banyak perbedaannya. Misalnya, “sebuah metode” diganti jadi “satu kaedah”; “persentase” jadi “peratusan”; “solusi” jadi “penyelesaian”, dll. Target numpang ngeprint halaman berwarna gak kesampean krn printer Dr Ahmad bermasalah. Saya pun gak punya driver printer tsb di laptop saya. Krn gak enak kelamaan ngeganggu Dr Ahmad, saya ngeprint di rental aja deh. Toh cuma satu exp yg perlu disubmit.

Koreksi thesis ini disertai dengan approval form yg harus ditanda-tangan oleh kedua internal examiner, chairman examiner dan chairman supervisor, serta form pengesahan dari Bendahari dan Perpus yg menyatakan bhw kita udah gak ada utang apa² lagi dengan pihak univ, dan gak ada buku yg belum dikembalikan ke perpus. Kamis sore (16 Okt ‘08), saya sudah ke Bendahari dan Perpus utk minta pengesahan ini. Hari Jumat (17 Okt ‘08), saya ke fakulti Environment utk mencari internal examiner saya, Dr Firuz Ramli, yg gak hadir di viva saya. Saya sempet nyasar krn rupanya fakulti ini pindah ke gedung bekas fakulti Medik lama. Sebenernya saya cuma mau ngecek, Dr Firuz ini ada apa gak di UPM. Sebab menurut info di situs fakulti Environment, Dr Firuz sedang cuti sabbatical leave. Ternyata beliau ada di UPM, cuma saat itu sedang ada acara di fakulti. Ya sudah, yg penting saya dah tau beliau ada, dan tau ruangannya dimana. Hari Senin bisa saya coba cari lagi. Saya juga sempet ngirim email ke beliau. Ternyata email saya sudah dibalas dan beliau mempersilakan saya dateng hari Senin sore (20 Okt ‘08), krn pagi beliau ikut konvo, siang ada presentasi dengan student² postgrad. Syukurlah, jadi pagi hari saya ke fakulti Engineering dulu utk nyari Prof Amin. Tapi gak berhasil. Beberapa kali saya dateng ke ruangannya, beliau gak ada. Akhirnya saya telepon beliau. Ternyata beliau sedang ada di Bangkok, dan baru balik hari Senin (27 Okt ‘08) depan! Aduh… padahal deadline submit perbaikan thesis ini hari Sabtu ini (25 Okt ‘08). Mana Prof Bujang sbg chairman gak mau menanda-tangan form approval saya sebelum seluruh examiner menanda-tangan. Hari Jumat sebelumnya (17 Okt ‘08), setelah dari fakulti Environment, saya dah sempet menjumpai beliau, dan beliau bilang chairman examiner haruslah menjadi the last person yg menanda-tangan form tsb. Prof Amin menyarankan saya utk meminta Prof Desa Ahmad, ketua departemen beliau, utk mewakili beliau menanda-tangan form saya. Tapi Prof Desa menolak. Katanya, yg lebih tepat melakukan itu adalah chairman examiner saya, bukan dia. Sementara waktu saya bilang soal kepergian Prof Amin ini ke Prof Bujang, beliau malah nyuruh saya mengajukan permohonan extension utk submit perbaikan, supaya saya bisa nunggu sampe Prof Amin balik. Rupanya, di saat² terakhir saya di UPM, saya masih harus mengalami kejadian² spt ini. Tapi saya udah gak bisa marah dan kesel. Mungkin memang harus begini lah skenarionya. Lagipula, saya introspeksi diri aja, saya juga salah. Hari Jumat itu, saya dateng ke fakulti dah sore banget. Coba kalo saya dateng lebih pagi, mungkin masih bisa ketemu Prof Amin. Rencana ketemu Dr Firuz sendiri sukses. Saya dateng ke ruangan beliau tepat jam 5 sore. On time. Ternyata waktu itu beliau gak dateng ke viva saya krn sedang ikut pelatihan GIS di UI Depok! Oalah… malah sedang beredar di deket rumah saya toh, hihihi…

Krn koreksi udah selesai, gak ada apa² lagi yg perlu saya kerjain selama menunggu Prof Amin. Saya pun iseng ngutak-ngatik kembali gambar² peta. Entah kenapa saya ngerasa gak puas dengan gambar peta² di thesis. Krn gambar² tsb berupa image, pas diprint hasilnya gak bagus, resolusinya buruk sekali. Saya berpikir, gimana ya membuat gambar vector dari peta² tsb, supaya pas diprint tajem gitu. Eh, ternyata baru sekarang saya tau, layout peta di ArcGIS itu bisa diconvert dalam format EMF. Wah, tau gitu dari dulu aja saya ngelayout peta di situ. Ya, selama ini gambar peta selalu saya capture sbg screenshot, lalu semua diedit di Photoshop atau Visio. Saya memang belum pernah ngelayout peta di ArcGIS. Make ArcGIS juga baru pas kuliah di UPM ini aja kok. Sebelumnya kan saya masih pake ArcView 3.X. Makanya, masih belum familiar dgn fitur² layout di ArcGIS. Kini selagi ada waktu lapang, saya punya kesempatan mengexplore fitur² layout tsb. Wow, ternyata jauh lebih canggih daripada ArcView (ya iyalah, versinya lebih baru gitu lho). Pembuatan legend, scale bar dan kompas jauh lebih fleksibel dan banyak pilihan. Saya akhirnya bisa melaksanakan keinginan saya utk menampilkan graticule di semua peta. Krn gambar layout tsb bisa di-convert ke EMF, saya pun berhasil mendapatkan gambar vector utk gambar peta dan element² peta lainnya. Kalau diprint hasilnya cantik, tajem dan halus. Dengan semangat saya pun membuat layout utk semua peta di ArcGIS. Bukan hanya peta² besar yg di lampiran, bahkan peta² kecil utk presentasi result pun saya layout di ArcGIS. Kalau presentasi result peta ini disertai dengan screenshot tabel dan text penjelasan, saya buat layoutnya di Ms Word langsung. Ujung²nya semua figure di Chapter 4 gak ada lagi yg saya bikin dengan Visio.

Hari Selasa (28 Okt) baru saya bisa menemui Prof Amin, krn hari Seninnya libur. Sebelum urusan submit koreksi thesis ini beres, saya merasa gak tenang. Gak sabar rasanya pengen cepet² dapetin tanda-tangan Prof Amin. Sebab setelah itu saya masih harus dapetin tanda-tangan Prof Bujang. Saya khawatir, gimana kalo beliau sedang on leave dan saya mesti nunggu beberapa hari lagi sampe beliau balik? Duh, ini udah telat banget. Kalo bulan Oktober ini saya gak submit ke GSO, bisa² nama saya gak masuk di rapat senat bulan Desember. Pagi hari jam 8.30, saya sudah berhasil menemui Prof Amin. Beliau pun memeriksa dengan teliti list of corrections yg saya buat, sebelum menanda-tangan form approval. Beres urusan dengan Prof Amin, langsung saya mendatangi ruang Prof Bujang. Beliau gak ada, di-SMS pun gak direply. Duh, jangan² yg saya khawatirkan bener² terjadi. Tapi saya gak mau putus asa dulu. Setengah jam sekali, saya bolak-balik ke ruangan Prof Bujang, ngecek kalau² beliau dah dateng. Ternyata gak sia² saya berbuat begitu. Jam 11.30, setelah entah yg ke-berapa kali saya dateng dan mengetuk pintu ruangan beliau, terdengar sahutan dari dalam, “Come in!” Wuaa… saya pun bersorak dalam hati. Hihi… udah kayak menang lotere aja. :P Rupanya beliau baru aja selesai menghadiri presentasi studentnya. Pantes gak ngebales SMS. Maka, berhasil lah hari itu saya mendapatkan tanda-tangan Prof Amin dan Prof Bujang. Rasanya puas juga bhw form approval saya betul² ditanda-tangan oleh orang² yg bersangkutan, gak diwakili orang lain.

Setelah form approval lengkap ditanda-tangan, barulah saya merasa lega dan bisa rileks browsing² dulu di lab. Maunya langsung ke GSO utk submit, tapi tanggung siang itu dah hampir masuk waktu istirahat. Puas ngebrowsing, saya balik dulu ke kolej utk makan dan sholat Zuhur. Baru jam 3 sore saya pergi ke GSO utk submit koreksi thesis. Akhirnya, beres juga urusan submit koreksi thesis ini. Besoknya, pas saya cek student portal, status study saya sudah berubah menjadi “Completed”. Hore…!!! Dengan demikian saya betul² sudah tuntas menyelesaikan study saya.