I'm Vini Indriasari, an Indonesian. From Dec '06 till Dec '08, I took master degree in GIS & Geomatic Engineering at Universiti Putra Malaysia (UPM). This blog is telling about my experiences during my days in UPM. "Tutup Buku" (Closing the Book) is the entry in this blog that marks the end of my story as a UPM student. I'd been back in my home country by the time I posted it. I keep a few entries for myself by setting them as private, but I share the rest for others. Thanks to ERJ who has suggested and facilitated me to create this blog.

Terpengaruh Bahasa Melayu

Setelah tinggal di Malaysia selama hampir 1,5 tahun, ternyata bhs saya mulai terpengaruh oleh bhs Melayu. Waktu balik ke Jakarta kemaren, beberapa kali saya kelepasan ngomong pake bhs Melayu saat berkomunikasi dengan orang² di luar. Misalnya pas lagi naek metromini, saya nanya ke supirnya, “Bang, BEJ lalu tak?” Untung sang supir kayaknya nggak terlalu ngedenger pas saya nanya itu. Buru² saya mengoreksi, “Bang, ini lewat BEJ nggak?”
Terus pas beli CD software di Glodok, saya nanya ke penjualnya, “Mas, di sini punya program TransCAD nggak?” Si penjual sepertinya nggak tau tentang program yg saya tanyain itu, maka dia nanya, “Itu program buat apa, ya?” Saya jawab lagi, “Itu untuk mapping, seperti ArcGIS, MapInfo, macam itu lah.”
Udah di bandara aja, ke petugas yg meriksa fiskal, saya nanya gini, “Pak, saya dah punya student pass, tak payah minta surat bebas fiskal lagi, kan?”

Yang paling lucu, waktu naek bis ngelewatin jembatan Semanggi, dan seperti biasa, disana ngeliat patroli polisi sedang berjaga-jaga, saya refleks meriksa tas, “Aduh, saya bawa paspor nggak, yah?” Walah… kacau nih, jadi serasa orang asing di negeri sendiri. :P Abis dah kebiasaan sih kalau jalan² di KL, kemana-mana mesti bawa paspor. Akhirnya di negeri sendiri pun masih sibuk mikirin paspor.

Emang sih, waktu di Jakarta kemaren itu, kalau sedang berada di luar, saya masih merasa berada di Malaysia. So, saat berkomunikasi dengan orang umum, saya menggunakan bhs Melayu. Padahal kalau sama keluarga atau saudara di rumah, atau dengan teman, nggak gitu lho… Sepertinya, kalau saya nambah tinggal di Malaysia satu tahun lagi aja, mungkin bukan hanya kosa kata saya yg terpengaruh, tapi juga logat. :)

This entry was posted on Wednesday, April 23rd, 2008 at 12:05 am and is filed under Bahasa.
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed.
Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed.