I'm Vini Indriasari, an Indonesian. From Dec '06 till Dec '08, I took master degree in GIS & Geomatic Engineering at Universiti Putra Malaysia (UPM). This blog is telling about my experiences during my days in UPM. "Tutup Buku" (Closing the Book) is the entry in this blog that marks the end of my story as a UPM student. I'd been back in my home country by the time I posted it. I keep a few entries for myself by setting them as private, but I share the rest for others. Thanks to ERJ who has suggested and facilitated me to create this blog.

Malaka

Setelah 2 minggu tidak saling bertemu sejak acara NISWP, akhirnya pada hari Sabtu 13 Januari lalu, kita new international students ini bisa bertemu kembali dalam acara jalan-jalan ke Malaka. Senangnya kita ketemu lagi, dalam event yg berbeda. Kali ini penampilan kita terlihat lebih santai.

Malaka adalah sebuah kota bersejarah di Malaysia. Terletak di tengah² Semenanjung Malaysia. Kaya akan sumber daya alam, cerita sejarah, dan legenda² rakyat. Nama “Malaka” mengikuti nama pohon “Melaka” yg tumbuh di wilayah ini. Di negeri ini lah bangsa Cina, Portugis, Belanda, dan Inggris memainkan peranan dalam membentuk sejarah negara Malaysia.

Bersama Rozita, kawan dari Thailand. Nampak di latar belakang adalah panggung Pentas Teja

Perjalanan ke sana dari Serdang, sekitar 2 jam, kira-kira seperti jarak dari Jakarta ke Bandung lewat tol Cipularang. Kita hanya pergi seharian, tanpa menginap, jadi dari jam 7.30 pagi (di sini jam 6 lewat baru adzan subuh, lho..) kita sudah berangkat. Rombongan kita terdiri dari 3 bis. Saya nggak tau pasti jumlah peserta yg ikut, tapi denger² dari obrolan panitia sih, sekitar 85 orang.

Tujuan kita ke Malaka sebenarnya adalah mengikuti seminar tentang Malaysian Culture, dan Cultural Trip. Pertama, kita ke Seri Warisan Resort. Di sana kita disambut oleh Puan Nor Adida, ketua IRO, baru selanjutnya presentasi tentang Malaysian Culture oleh H.E. Mr. Paul Vincent Galea, honorary consul dari Konsulat Rep. Malta. Beliau sudah lama tinggal di Malaysia, dan menikah dengan wanita Melayu pula, jadi beliau sudah mempelajari tentang adat, kebiasaan, dan budaya orang Melayu. Menarik presentasi dari Pak Vincent ini, karena yg dibahas adalah hal-hal yg umum berlaku di sekitar kita, seperti kebiasaan orang melayu yg suka ngaret, naik motor seradak-seruduk, nyebrang seenaknya, masuk rumah lepas sepatu, dan sebagainya.



Di tempat ini ada Taman Mini Malaysia dan Taman Mini ASEAN. Sama seperti Taman Mini Indonesia, di sini ada rumah² tradisional negeri² di Malaysia. Di Taman Mini ASEAN, ada rumah² perkampungan negara² ASEAN, termasuk Indonesia tentu. Oya, ada pertunjukan tarinya juga, namanya Pentas Teja. Wah, orang² Iran itu seneng banget deh kayaknya ngeliat pertunjukan tarian Melayu di pentas ini, padahal buat kita orang Indonesia sih nggak seberapa. Kita saling berbisik, “mereka belum lihat tarian Bali sih” :) .
Di akhir acara tarian, para penonton dilibatkan untuk ikut naik ke panggung dan menari bersama para penari. Ternyata banyak yg antusias lho, yg nggak ditarik ke depan pun pada inisiatif sendiri naek ke atas panggung. Rupanya mereka memang suka dancing. Terus selesai nari bareng, pada foto-foto bersama penarinya dengan gaya yg sok aksi banget deh, ada yg berlagak ala raja dikelilingi para dayang² (yg jadi dayang² ya penari²nya itu :P ).

Dibandingkan dengan Taman Mini Malaysia ini, dengan bangga saya bisa mengatakan bahwa Taman Mini Indonesia jauh lebih besar, lebih cantik, lebih indah, lebih menarik, dan lebih spektakuler :D .

Dari Taman Mini, kita makan siang dulu di Tom Yam Classic Restaurant. Sebelumnya, panitia sudah memberi tahu peserta bahwa makanan di Tom Yam ini adalah masakan Melayu, jadi rasanya agak pedas (sebab orang² Arab itu tak suka makanan pedas). Tapi pas saya nyicipin makanannya, ah… nggak ada pedes²nya sama sekali. Duh… jadi kangen makanan pedas di Indonesia nih. Sumpah, di sini susah banget nyari makanan pedas yg asli pedas.



Setelah kenyang, kita sighseeing keliling kota Malaka, dan berhenti di Stadthuys Museum Complex yg terdiri dari museum² sejarah dan etnografi. Begitu nyampe lokasi, saya langsung merasa seperti berada di daerah KOTA di Jakarta, penuh bangunan² tua dan antik, ada becak² yg dihiasi bunga-bunga (melihat ini, lagi² para student Iran itu norak foto², hehe… such an interesting object for them). Buku-buku tentang perjuangan rakyat Aceh ternyata ada juga lho di salah satu museum di sini. Terus ada yg namanya Marine Museum berupa kapal tua yg didesain jadi musium. Pas naek ke kapal, saya langsung teringat dengan film Kiamat Sudah Dekat, kan adegan pernikahannya si Fandi dan Sarah dilaksanakan di atas kapal tuh. Jadi mikir, jangan² film itu syutingnya di sini.

Acara ngelihat-lihat museum ini yg paling banyak menghabiskan waktu. Nggak kerasa udah sore aja, dan kita harus segera pulang supaya maghrib sudah sampai di kampus lagi.

This entry was posted on Wednesday, January 17th, 2007 at 1:39 am and is filed under Jalan-jalan.
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed.
Both comments and pings are currently closed.

One Response to “Malaka”

malaysia » Blog Archive » DBKL cultural troupe helps promote Malaysian culture (The Star Online) Says:

[…] Tujuan kita ke Malaka sebenarnya adalah mengikuti seminar tentang Malaysian Culture, dan Cultural Trip. Pertama, kita ke Seri Warisan Resort. Di sana kita disambut oleh Puan Nor Adida, ketua IRO , baru selanjutnya presentasi tentang … …READ MORE […]