I'm Vini Indriasari, an Indonesian. From Dec '06 till Dec '08, I took master degree in GIS & Geomatic Engineering at Universiti Putra Malaysia (UPM). This blog is telling about my experiences during my days in UPM. "Tutup Buku" (Closing the Book) is the entry in this blog that marks the end of my story as a UPM student. I'd been back in my home country by the time I posted it. I keep a few entries for myself by setting them as private, but I share the rest for others. Thanks to ERJ who has suggested and facilitated me to create this blog.

Kuala Lumpur vs Jakarta

Tinggal di Kuala Lumpur dan di Jakarta, hampir bisa dikatakan sama. Iklim kotanya sama, orang²nya sama (melayu), bahasanya pun mirip. Singkatnya, penyesuaian diri yg harus saya lakukan sebagai orang yg biasa tinggal di Jakarta terhadap KL, sedikit sekali, kalau nggak bisa dikatakan nggak ada. Hanya saja ada satu hal yg membuat terasa banget, kalau saya ini sedang berada di KL, bukan Jakarta, yaitu pada saat saya naik KTM, LRT, Monorail, bahkan naik bis sekali pun. Yup, KTM di KL jelas beda dengan KRL Jabotabek di Jakarta. LRT dan Monorail, jelas lah, Jakarta nggak punya. Bis, di sini semua bis mewah, ber-AC, kayak bis TransJakarta. Yg model kayak RapidKL, itu jenis tiketnya harian. Jadi kalau kita sudah beli tiket sekali, sehari itu kita naek bis dengan nomer trayek yg sama nggak perlu beli tiket lagi. Sangat menguntungkan jika kita naik bis tsb pulang-pergi. Tarifnya pun relatif murah. Terus, di sini bis itu tertib, hanya berhenti menaikkan dan menurunkan penumpang di tempat² tertentu, dan ngetem di tempat tertentu pula.

Dari segi transportasi, dengan berat hati harus saya akui, KL emang jauh lebih maju dibanding Jakarta. Tapi ada bagusnya juga lho, buat saya yg biasa hidup di kota Jakarta yg semrawut, biasa naik bis dan kereta api yg penuh sesak, tanpa AC, dan suka berenti sembarangan, sehingga kadang kita harus bisa naik atau turun bis selagi bis masih bergerak, tinggal di kota macam KL gini jadi terasa mudah banget buat saya. Seperti pengalaman ke kantor Dr Noordin kemaren, nyari alamat ke tempat yg kita belum tau pun nggak masalah, kecil kemungkinan untuk nyasar, asal kita bisa mengikuti petunjuk² yg tersedia. Bayangkan, saya di KL ini orang asing, dateng ke tempat yg belum pernah didatangi, nggak tau pula daerah situ, tapi saya bisa nyampe ke sana, sendirian, naik kendaraan umum. Coba di Jakarta, mana bisa begitu. Biasanya kalo mesti cari alamat ke tempat yg asing sama sekali kayak begitu, saya bakalan naek mobil pribadi (minta diantar orang yg lebih tau jalan), atau naik taksi. Orang Jakarta pindah ke KL, akan merasa nyaman, sebaliknya orang KL yg pindah di Jakarta, pasti bakalan stress berat. Hehe… :P

Di stasiun juga keliatan, misalnya kita mau pergi ke arah Seremban, kita mesti nunggu di platform nomor berapa. Daftar nama² stasiun yg dilalui kereta pun disediakan pula, jadi misalkan kita nggak tau, kereta yg mau kita naikkin itu ke arah mana, cuma tau stasiun tujuan kita aja, kita bisa cek di daftar nama² stasiun itu. Nggak usah nanya orang kayak di Jakarta, “Saya mau ke arah Bogor, mesti nunggu di jalur sini apa nyebrang ya?”
Daftar nama² stasiun ini juga terpampang di dinding dalam kereta, sehingga kita bisa tau, stasiun tujuan kita masih jauh nggak, berapa stasiun lagi yg mesti dilewatin, sehingga kita bisa siap² kalau stasiun tujuan kita udah deket.
Jam berapa kereta akan datang dan berangkat pun ada, seperti di bandara. Beda lho rasanya, nunggu kereta yg jam datangnya kita tau pasti dengan nunggu kereta yg jam datangnya kita nggak tau pasti. Nunggu sesuatu yg nggak tau pasti, tentunya lebih kerasa lama.

Bukan cuman kereta yg pengaturannya rapi begitu, bis pun sama. Di halte bis, ada papan informasi bis² yg lewat halte tsb, beserta trayeknya. Di Wangsa Maju kemaren, saya bisa tau bis apa yg mesti dinaikkin untuk pergi ke kantor Taman Melawati pun, ya dari ngeliat papan informasi itu. Demikian pula waktu saya pergi ke Kedutaan Indonesia tempo hari, naik bis dari Kotaraya. Kalo udah tau bisnya, tinggal bilang ke supirnya deh, kita mau kemana, biar nanti dia kasih tau tempat kita turun, meskipun dengan adanya peta, sebenarnya kita bisa ngira² sendiri. Makanya saya bilang, di KL, nggak usah nanya ke orang pun kita bisa pergi jalan² sendiri. Ikuti saja petunjuk² yg tersedia, niscaya nggak akan nyasar. Nah, untuk bisa mengikuti petunjuk² ini, mungkin itu yg perlu dipelajari dulu. Tiket kerata, baik KTM, LRT, maupun Monorail, semuanya bisa dibeli baik di loket maupun melalui mesin. Kita mesti bisa cara beli tiket dengan mesin, sebab kadang² petugas di loket itu nggak ada, terutama di stasiun² kecil. Atau mungkin antrian di loket terlalu panjang, beli lewat mesin bisa jadi alternatif karena mesin untuk membeli tiket biasanya disediakan banyak.

Belum lagi menyebut KL Express dan KL Transit, kereta aerodinamis yg mengantarkan kita dari pusat kota KL langsung ke bandara. Buat orang yg mau naik pesawat, nggak perlu pusing dengan macetnya lalu-lintas dalam perjalanan menuju bandara, nggak perlu takut terlambat hingga ketinggalan pesawat. Bandingkan dengan di Jakarta, kita mau ke bandara Soekarno-Hatta, naik DAMRI, udah lah mesti ngelewatin lalu-lintas yg macet, kalau sedang musim hujan, jalan tol bandara suka banjir! Coba itu ya… mau naek pesawat bisa terlambat cuma gara² jalanan bajir nggak bisa dilewatin.

Intinya, di hati kecil yg paling dalam, saya iri dengan orang KL, orang Malaysia, mereka dah punya transportasi yg nyaman dan mudah seperti itu. Kapan ya Jakarta bisa begitu?

This entry was posted on Wednesday, July 11th, 2007 at 4:15 pm and is filed under Malaysia.
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed.
Both comments and pings are currently closed.

One Response to “Kuala Lumpur vs Jakarta”

Hamdi Says:

Iya…beda banget dengan Jakarta…kalo di KL kotanya bersih banget..dan banyak tempat wisatanya..kaya sunway Lagoon and Twin tower