Perlukah Memanggil Dengan Gelar?

Selain masalah transportasi, ada satu lagi perbedaan yg menonjol antara Indonesia dan Malaysia. Di Malaysia, seorang profesor harus dipanggil dengan “Prof”, dan seorang sarjana PhD harus dipanggil dengan “Doctor”. Di lingkungan kampus, mungkin ini bisa diterima, tapi di luar kampus, di jalan, di tempat umum, di lingkungan rumah, agak janggal rasanya kalau kita menyapa seseorang dengan Prof dan Dr. Lagipula, pembedaan panggilan ini bikin pusing. Nggak jarang kita salah memanggil dosen, semestinya Doctor kita panggil Encik, semestinya Prof kita panggil Doctor. Dan kalau salah manggil gini, kesannya jadi kurang sopan. Padahal, wajar kan kalo kita sebelumnya nggak tau?
Untunglah di Indonesia nggak kenal pembedaan gelar seperti ini. Mau doctor, mau profesor, kita cukup manggil dosen kita dengan sebutan “Pak”/”Bu” saja. Beres.

Itu dari segi gelar akademik. Sekarang dari segi status pernikahan. Untuk perempuan yg belum menikah dipanggil “Cik”, sedang untuk yg sudah menikah dipanggil “Puan”. Ini semua bikin kita sebagai perempuan langsung bisa ketahuan statusnya, sudah nikah atau belum. Padahal menurut saya, status pernikahan itu termasuk semi-privasi. Herannya, buat laki-laki nggak ada pembedaan panggilan buat yg sudah nikah dan belum nikah. Semua dipanggil dengan “Encik”. Hehe… curang yah? Jadi nggak ketahuan deh dia masih single atau married.

Untuk masalah gelar ini, saya bersyukur sebagai orang Indonesia, kita tidak mendewa²kan gelar akademik maupun membedakan panggilan status pernikahan. Kita bisa tetap berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah dengan orang yg memiliki gelar akademik lebih tinggi ataupun lebih rendah dari kita. Kita bisa tetap menjaga status pernikahan kita sebagai hak pribadi yg tidak semua orang perlu tau.

Oya, ada satu perbedaan lagi, bukan menyangkut gelar, tapi menyangkut nama. Orang Melayu Malaysia, semua menggunakan nama ayah sebagai nama belakangnya. Ini semua membuat semua orang bisa tau siapa nama ayah kita. Nama ayah ini pun, buat saya merupakan sebuah privasi. Buat kita orang Indonesia, nama ayah itu bukanlah sesuatu yg boleh diumbar. Kalau nggak ada kepentingan dan relevansi khusus, kita nggak sembarangan memberitahu nama orangtua kita ke orang lain. Nama ayah baru akan digunakan pada saat seorang wanita menikah, seseorang pergi haji, atau meninggal dunia. Sedang untuk urusan sekolah, nggak perlu kita gunakan nama ayah kita, toh orang menilai kita berdasarkan prestasi kita sendiri, bukan berdasarkan siapa orangtua kita. Kalau kebetulan kita anak pejabat terkenal, orang nggak perlu tau soal itu, sehingga orang nggak memandang kita sebagai anak Pak Fulan, nggak perlu mengistimewakan kita karena kita anak orang penting. Kita bisa dengan aman menerima perlakuan yg wajar, sama dengan yg diterima kawan² kita.
Jadi inget jaman sekolah, ada masa dimana kita seneng banget maen ledek²an nama bapak :) . Sampe² kita pelit memperlihatkan buku Rapor kita ke teman, bukan karena nggak mau dilihat nilai²nya, tapi karena nggak mau dilihat nama bapaknya, takut diledekin. Hihihi…

This entry was posted on Monday, July 16th, 2007 at 6:30 pm and is filed under Malaysia.
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed.
You can leave a response, or trackback from your own site.

7 Responses to “Perlukah Memanggil Dengan Gelar?”

muzzammil Says:

assalammualaikum.

pertama tamanya saya memohon maaf kerana ingin membuat sedikit teguran. sebenarnya nama orang melayu selepas menerima islam pada abad 14 dan sebelum adalah berbeda.jika dulu sebelum kedatangan islam nama orang melayu bagi lelaki adalah seperti jejaka,teruna,galak,jalak,adi dan bagi perempuan pula adalah seperi melati.kiambang,melur,delima,siantan,comel dan sebagainya.Namun apabila tanah melayu menerima islam nama nama tersebut tidak dipakai lagi.seterusnya hanya nama bercorak islam sahaja yang dipakai.orang melayu amat mengambil berat didalam pemberian nama anak anak mereka.sesuai dengan peringatan yang yang disuruh oleh rasullallah s.a.w.(juga adalah gelaran).Sesuai dengan anjuran itu maka lahir nama seperti azmi bin ismail atau pun khatijah binti hasyim.sepanjang perjalanan saya kenegeri negeri umat islam semuanya mempunyai kaedah yang sama.itulah sebabnya nama tokoh tokoh islam disebut sebegitu contohnya umar ibnu khatah, ali ibnu thalib. usman ibnu affan, muaz bin jabal. amru ibnul as .khalid ibnul walid dan banyak lagi sehinggakan rasullallah sendiri pun menggunakan nama muhammad bin abdullah sila rujuk didalam perjanjian hudaibiah yang terkenal itu. merujuk kepada nusantara kita ini pula iaitu malaysia,singapura,dan brunai kecuali indonesia umat islamnya semuanya menggunakan cara pengenalan yang serupa.Ini adalah unjuran dari nabi bukannya amalan bangsa melayu sila rujuk hadis hadis yang bersangkutan perkara ini.

mengenai gelaran pula harus difahami bahawa malaysia adalah negara beraja dan gelaran telah sebati dengan adat orang disini.gelaran bagi kami di sini adalah satu penghormatan dan sama sekali tidak bermaksud bermegah panggil tak apa tak panggil pun tak apa. cumanya dianggap kurang sopan jika jika si pemanggil mengetahui gelaran sesorang itu tidak menyebutkan gelaran itu.kami di malaysia mempunyai cara jika kita tak pasti tentang sesorang itu.Encik sudah memadai jika kita kurang pasti kerana itu adalah penghormatan umum.jika nak lebih hormat lagi perkataan tuan pula digunakan.bagi perempuan pula panggilan puan sebenarnya adalah penghormatan.Sebenarnya di malaysia jika agak berumur sedikit secara rambang kita akan memanggilnya puan .kalau agak muda pula kita akan memanggilnya cik.di pejabat pejabat kerajaan mau pun swasta pihak atasan tidak memanggil seorang perempuan itu puan walau pun dia sudah berkahwin dia hanya memanggil cik contohnya cik rohana ,cik lina ataupun cik khatijah.tidak timbul masalah pergaulan antara orang berpangkat atau tidak di malaysia ini melainkan jika ianya memang seorang yang sombong.saya berhenti dulu.assalammualaikum

Vini Says:

Wa ‘alaikum salam, En. Muzzammil. Are u Malaysian?
Thanks for giving a response to my post. Jarang² nih ada orang Malaysia komentar di sini. Hope you didn’t misunderstand every single word I wrote on my post since I used slang Indonesian language that might be difficult for Malaysian to understand :) .

Ngerti kok, bhw cara penamaan orang Melayu ini mengikut cara Islam. Yg saya tekankan di sini adalah nama ayah di belakang itu. Di Indonesia, meskipun nama islami sekali pun, seperti Ahmad, Umar, Reza, Fatimah, Farah, dsb, tapi “bin” dan “binti” itu tdk melekat pada nama resmi kita. Di Akta Kelahiran, Ijazah Sekolah, Paspor, IC, hanya nama kita saja yg kita pakai, tanpa nama ayah. Spt yg sudah saya tulis, we only use our father’s name to certain people for certain purposes. Di buku nikah, di paspor utk pergi haji, baru itu “bin” dan “binti” kita sertakan pada nama kita (note: paspor utk pergi haji di Indonesia dibedakan dengan paspor biasa. Warnanya lain, dan hanya bisa digunakan utk pergi haji, tdk bisa utk ke negara lain).
Yah, mungkin krn sudah jadi kebiasaan juga, di Indonesia nama ayah itu dianggap sbg salah satu data personal, sama seperti tgl lahir, nama spouse, nomer telepon, alamat, etc. And we do not give our personal data to everyone, do we?
Sedangkan di Malaysia, mungkin krn sudah biasa sejak lahir menggunakan nama ayah, jadi tdk merasa masalah lagi memberikan informasi tsb ke setiap orang.

Soal gelar, di sini pun saya menekankan khusus pada gelaran akademik. Kita pun menghormati seseorang yg memiliki gelar akademik, tapi hanya setakat dalam tulisan. Bahkan dalam undangan pernikahan pun banyak org menuliskan gelar akademik mereka. Tapi bukan utk panggilan. Coba lihat senarai nama² dosen di univ² di Indonesia, gelar akademik mereka pasti ditulis di situ, lengkap mulai dari Degree sampai PhD. But in conversation, mereka hanya dipanggil dengan “Pak” dan “Bu” saja. Apakah di Malaysia seorang doctor atau professor dipanggil “Doctor” dan “Prof” juga oleh jiran²nya di rumah?
Bukan sekali, lho… saya di Malaysia kena tegur krn salah memanggil gelar pensyarah. Seolah-olah saya ini sudah berbuat kesilapan yg memalukan saja, macam sudah merendahkan pensyarah tsb. Temen² saya yg orang Indonesia lainnya pun pernah mengalami hal yg sama. Sekarang kita lebih berhati-hati, sebelum memanggil pensyarah, tanya dulu ke student yg lain apa gelaran pensyarah itu.
Anyway, I start enjoying calling my lecturers as “Doctor” or “Professor”, since I’ve never had any opportunity to do that in ITB. It gives me a different sense of student :) .

wahyu Says:

Vini…

bedanya single sama lajang apa ya? *lirik posting*

Vini Says:

Wahyu: wah iya, salah tuh. Maksudnya “single atau married” :P

*buru2 edit post*

rohmat Says:

Sama juga non… di Ind juga… Sapaan Prof atau Doctor berlaku… mungkin ku pikir… lebih feodal di kita kali…
Coba deh cek ke UNPAD, UGM dll deh…

Vini Says:

Rohmat,
masa sih… di ITB nggak tuh

rzammil Says:

Assalammualaikum

Terimakasih diatas penjelasan Cik Vini.Sesungguhnya tiada yang salah diatas penerangan yang telah diberikan oleh Cik Vini. Cumanya perbedaan berlaku hanyalah sekitar adat yang berbeza.Sesungguhnya ini akan memperkayakan pengalaman kita sebenarnya.Panggilan DR atau Prof itu sebenarnya kalau di malaysia tidak terbatas hanya di Universiti sahaja.Samada jiran sebelah kah atau sesiapa saja yang mengetahui kita akan tetap memanggilnya dengan gelaran tersebut.Sebenarnya itu adalah panggilan hormat bagi kami disini dan tiada bermaksud lain.Sekali kita menjadi guru sampai mati gelaran cekgu akan melekat kepada kita.Sekali kita menjadi doktor sampai mati pula kita akan dipanggil Doktor.Walaupun berkemungkinan ganjil bagi masyarakat luar namun itu sudah menjadi adat pula bagi orang disini.Kalu Cik Vini pernah pergi ke Medan Sumatra saya rasa adatnya mirip benar dengan orang disini didalam segala hal.Tetapi itu 20 tahun dululah saya tak tau pula kalau sekarang sudah berubah.Cuma bagi saya selagi adat itu tidak bercanggah dengan islam boleh kita teruskan.
Assalammualaikum Cik Vini saya berhenti dulu

Leave a Reply