<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress/1.5.2" -->
<rss version="2.0" 
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
<channel>
	<title>Comments on: Perlukah Memanggil Dengan Gelar?</title>
	<link>http://blog.elvini.net/malaysia/perlukah-memanggil-dengan-gelar/</link>
	<description>The Story of an Indonesian Student in UPM</description>
	<pubDate>Tue, 06 Jan 2009 12:14:10 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=1.5.2</generator>

	<item>
 		<title>Comment on Perlukah Memanggil Dengan Gelar? by: rzammil</title>
		<link>http://blog.elvini.net/malaysia/perlukah-memanggil-dengan-gelar/#comment-61</link>
		<pubDate>Mon, 13 Aug 2007 05:57:03 +0000</pubDate>
		<guid>http://blog.elvini.net/malaysia/perlukah-memanggil-dengan-gelar/#comment-61</guid>
					<description>Assalammualaikum

Terimakasih diatas penjelasan Cik Vini.Sesungguhnya tiada yang salah diatas penerangan yang telah diberikan oleh Cik Vini. Cumanya perbedaan berlaku hanyalah sekitar adat yang berbeza.Sesungguhnya ini akan memperkayakan pengalaman kita sebenarnya.Panggilan DR atau Prof itu sebenarnya kalau di malaysia tidak terbatas hanya di Universiti sahaja.Samada jiran sebelah kah atau sesiapa saja yang mengetahui kita akan tetap memanggilnya dengan gelaran tersebut.Sebenarnya itu adalah panggilan hormat bagi kami disini dan tiada bermaksud lain.Sekali kita menjadi guru sampai mati gelaran cekgu akan melekat kepada kita.Sekali kita menjadi doktor sampai mati pula kita akan dipanggil Doktor.Walaupun berkemungkinan ganjil bagi masyarakat luar namun itu sudah menjadi adat pula bagi orang disini.Kalu Cik Vini pernah pergi ke Medan Sumatra saya rasa adatnya mirip benar dengan orang disini didalam segala hal.Tetapi itu 20 tahun dululah saya tak tau pula kalau sekarang sudah berubah.Cuma bagi saya selagi adat itu tidak bercanggah dengan islam boleh kita teruskan.
Assalammualaikum Cik Vini saya berhenti dulu</description>
		<content:encoded><![CDATA[	<p>Assalammualaikum</p>
	<p>Terimakasih diatas penjelasan Cik Vini.Sesungguhnya tiada yang salah diatas penerangan yang telah diberikan oleh Cik Vini. Cumanya perbedaan berlaku hanyalah sekitar adat yang berbeza.Sesungguhnya ini akan memperkayakan pengalaman kita sebenarnya.Panggilan DR atau Prof itu sebenarnya kalau di malaysia tidak terbatas hanya di Universiti sahaja.Samada jiran sebelah kah atau sesiapa saja yang mengetahui kita akan tetap memanggilnya dengan gelaran tersebut.Sebenarnya itu adalah panggilan hormat bagi kami disini dan tiada bermaksud lain.Sekali kita menjadi guru sampai mati gelaran cekgu akan melekat kepada kita.Sekali kita menjadi doktor sampai mati pula kita akan dipanggil Doktor.Walaupun berkemungkinan ganjil bagi masyarakat luar namun itu sudah menjadi adat pula bagi orang disini.Kalu Cik Vini pernah pergi ke Medan Sumatra saya rasa adatnya mirip benar dengan orang disini didalam segala hal.Tetapi itu 20 tahun dululah saya tak tau pula kalau sekarang sudah berubah.Cuma bagi saya selagi adat itu tidak bercanggah dengan islam boleh kita teruskan.<br />
Assalammualaikum Cik Vini saya berhenti dulu
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
	<item>
 		<title>Comment on Perlukah Memanggil Dengan Gelar? by: Vini</title>
		<link>http://blog.elvini.net/malaysia/perlukah-memanggil-dengan-gelar/#comment-53</link>
		<pubDate>Tue, 24 Jul 2007 05:01:56 +0000</pubDate>
		<guid>http://blog.elvini.net/malaysia/perlukah-memanggil-dengan-gelar/#comment-53</guid>
					<description>Rohmat,
masa sih... di ITB nggak tuh</description>
		<content:encoded><![CDATA[	<p>Rohmat,<br />
masa sih&#8230; di ITB nggak tuh
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
	<item>
 		<title>Comment on Perlukah Memanggil Dengan Gelar? by: rohmat</title>
		<link>http://blog.elvini.net/malaysia/perlukah-memanggil-dengan-gelar/#comment-52</link>
		<pubDate>Sun, 22 Jul 2007 07:48:34 +0000</pubDate>
		<guid>http://blog.elvini.net/malaysia/perlukah-memanggil-dengan-gelar/#comment-52</guid>
					<description>Sama juga non... di Ind juga... Sapaan Prof atau Doctor berlaku... mungkin ku pikir... lebih feodal di kita kali...
Coba deh cek ke UNPAD, UGM dll deh...</description>
		<content:encoded><![CDATA[	<p>Sama juga non&#8230; di Ind juga&#8230; Sapaan Prof atau Doctor berlaku&#8230; mungkin ku pikir&#8230; lebih feodal di kita kali&#8230;<br />
Coba deh cek ke UNPAD, UGM dll deh&#8230;
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
	<item>
 		<title>Comment on Perlukah Memanggil Dengan Gelar? by: Vini</title>
		<link>http://blog.elvini.net/malaysia/perlukah-memanggil-dengan-gelar/#comment-51</link>
		<pubDate>Sat, 21 Jul 2007 05:23:57 +0000</pubDate>
		<guid>http://blog.elvini.net/malaysia/perlukah-memanggil-dengan-gelar/#comment-51</guid>
					<description>Wahyu: wah iya, salah tuh. Maksudnya &quot;single atau married&quot; :P

*buru2 edit post*</description>
		<content:encoded><![CDATA[	<p>Wahyu: wah iya, salah tuh. Maksudnya &#8220;single atau married&#8221; <img src='http://blog.elvini.net/wp-images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> </p>
	<p>*buru2 edit post*
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
	<item>
 		<title>Comment on Perlukah Memanggil Dengan Gelar? by: wahyu</title>
		<link>http://blog.elvini.net/malaysia/perlukah-memanggil-dengan-gelar/#comment-50</link>
		<pubDate>Sat, 21 Jul 2007 05:15:02 +0000</pubDate>
		<guid>http://blog.elvini.net/malaysia/perlukah-memanggil-dengan-gelar/#comment-50</guid>
					<description>Vini...

bedanya single sama lajang apa ya? *lirik posting*</description>
		<content:encoded><![CDATA[	<p>Vini&#8230;</p>
	<p>bedanya single sama lajang apa ya? *lirik posting*
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
	<item>
 		<title>Comment on Perlukah Memanggil Dengan Gelar? by: Vini</title>
		<link>http://blog.elvini.net/malaysia/perlukah-memanggil-dengan-gelar/#comment-49</link>
		<pubDate>Sat, 21 Jul 2007 05:12:32 +0000</pubDate>
		<guid>http://blog.elvini.net/malaysia/perlukah-memanggil-dengan-gelar/#comment-49</guid>
					<description>Wa 'alaikum salam, En. Muzzammil. Are u Malaysian?
Thanks for giving a response to my post. Jarang² nih ada orang Malaysia komentar di sini. Hope you didn't misunderstand every single word I wrote on my post since I used &lt;i&gt;slang&lt;/i&gt; Indonesian language that might be difficult for Malaysian to understand :).

Ngerti kok, bhw cara penamaan orang Melayu ini mengikut cara Islam. Yg saya tekankan di sini adalah nama ayah di belakang itu. Di Indonesia, meskipun nama islami sekali pun, seperti Ahmad, Umar, Reza, Fatimah, Farah, dsb, tapi &quot;bin&quot; dan &quot;binti&quot; itu tdk melekat pada nama resmi kita. Di Akta Kelahiran, Ijazah Sekolah, Paspor, IC, hanya nama kita saja yg kita pakai, tanpa nama ayah. Spt yg sudah saya tulis, we only use our father's name to certain people for certain purposes. Di buku nikah, di paspor utk pergi haji, baru itu &quot;bin&quot; dan &quot;binti&quot; kita sertakan pada nama kita (note: paspor utk pergi haji di Indonesia dibedakan dengan paspor biasa. Warnanya lain, dan hanya bisa digunakan utk pergi haji, tdk bisa utk ke negara lain).
Yah, mungkin krn sudah jadi kebiasaan juga, di Indonesia nama ayah itu dianggap sbg salah satu data personal, sama seperti tgl lahir, nama spouse, nomer telepon, alamat, etc. And we do not give our personal data to everyone, do we?
Sedangkan di Malaysia, mungkin krn sudah biasa sejak lahir menggunakan nama ayah, jadi tdk merasa masalah lagi memberikan informasi tsb ke setiap orang.

Soal gelar, di sini pun saya menekankan khusus pada gelaran akademik. Kita pun menghormati seseorang yg memiliki gelar akademik, tapi hanya setakat dalam tulisan. Bahkan dalam undangan pernikahan pun banyak org menuliskan gelar akademik mereka. Tapi bukan utk panggilan. Coba lihat senarai nama² dosen di univ² di Indonesia, gelar akademik mereka pasti ditulis di situ, lengkap mulai dari Degree sampai PhD. But in conversation, mereka hanya dipanggil dengan &quot;Pak&quot; dan &quot;Bu&quot; saja. Apakah di Malaysia seorang doctor atau professor dipanggil &quot;Doctor&quot; dan &quot;Prof&quot; juga oleh jiran²nya di rumah?
Bukan sekali, lho... saya di Malaysia kena tegur krn salah memanggil gelar pensyarah. Seolah-olah saya ini sudah berbuat kesilapan yg memalukan saja, macam sudah merendahkan pensyarah tsb. Temen² saya yg orang Indonesia lainnya pun pernah mengalami hal yg sama. Sekarang kita lebih berhati-hati, sebelum memanggil pensyarah, tanya dulu ke student yg lain apa gelaran pensyarah itu.
Anyway, I start enjoying calling my lecturers as &quot;Doctor&quot; or &quot;Professor&quot;, since I've never had any opportunity to do that in &lt;abbr title=&quot;Institut Teknologi Bandung&quot;&gt;ITB&lt;/abbr&gt;. It gives me a different sense of student :).</description>
		<content:encoded><![CDATA[	<p>Wa &#8216;alaikum salam, En. Muzzammil. Are u Malaysian?<br />
Thanks for giving a response to my post. Jarang² nih ada orang Malaysia komentar di sini. Hope you didn&#8217;t misunderstand every single word I wrote on my post since I used <i>slang</i> Indonesian language that might be difficult for Malaysian to understand <img src='http://blog.elvini.net/wp-images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> .</p>
	<p>Ngerti kok, bhw cara penamaan orang Melayu ini mengikut cara Islam. Yg saya tekankan di sini adalah nama ayah di belakang itu. Di Indonesia, meskipun nama islami sekali pun, seperti Ahmad, Umar, Reza, Fatimah, Farah, dsb, tapi &#8220;bin&#8221; dan &#8220;binti&#8221; itu tdk melekat pada nama resmi kita. Di Akta Kelahiran, Ijazah Sekolah, Paspor, IC, hanya nama kita saja yg kita pakai, tanpa nama ayah. Spt yg sudah saya tulis, we only use our father&#8217;s name to certain people for certain purposes. Di buku nikah, di paspor utk pergi haji, baru itu &#8220;bin&#8221; dan &#8220;binti&#8221; kita sertakan pada nama kita (note: paspor utk pergi haji di Indonesia dibedakan dengan paspor biasa. Warnanya lain, dan hanya bisa digunakan utk pergi haji, tdk bisa utk ke negara lain).<br />
Yah, mungkin krn sudah jadi kebiasaan juga, di Indonesia nama ayah itu dianggap sbg salah satu data personal, sama seperti tgl lahir, nama spouse, nomer telepon, alamat, etc. And we do not give our personal data to everyone, do we?<br />
Sedangkan di Malaysia, mungkin krn sudah biasa sejak lahir menggunakan nama ayah, jadi tdk merasa masalah lagi memberikan informasi tsb ke setiap orang.</p>
	<p>Soal gelar, di sini pun saya menekankan khusus pada gelaran akademik. Kita pun menghormati seseorang yg memiliki gelar akademik, tapi hanya setakat dalam tulisan. Bahkan dalam undangan pernikahan pun banyak org menuliskan gelar akademik mereka. Tapi bukan utk panggilan. Coba lihat senarai nama² dosen di univ² di Indonesia, gelar akademik mereka pasti ditulis di situ, lengkap mulai dari Degree sampai PhD. But in conversation, mereka hanya dipanggil dengan &#8220;Pak&#8221; dan &#8220;Bu&#8221; saja. Apakah di Malaysia seorang doctor atau professor dipanggil &#8220;Doctor&#8221; dan &#8220;Prof&#8221; juga oleh jiran²nya di rumah?<br />
Bukan sekali, lho&#8230; saya di Malaysia kena tegur krn salah memanggil gelar pensyarah. Seolah-olah saya ini sudah berbuat kesilapan yg memalukan saja, macam sudah merendahkan pensyarah tsb. Temen² saya yg orang Indonesia lainnya pun pernah mengalami hal yg sama. Sekarang kita lebih berhati-hati, sebelum memanggil pensyarah, tanya dulu ke student yg lain apa gelaran pensyarah itu.<br />
Anyway, I start enjoying calling my lecturers as &#8220;Doctor&#8221; or &#8220;Professor&#8221;, since I&#8217;ve never had any opportunity to do that in <abbr title="Institut Teknologi Bandung">ITB</abbr>. It gives me a different sense of student <img src='http://blog.elvini.net/wp-images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> .
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
	<item>
 		<title>Comment on Perlukah Memanggil Dengan Gelar? by: muzzammil</title>
		<link>http://blog.elvini.net/malaysia/perlukah-memanggil-dengan-gelar/#comment-48</link>
		<pubDate>Wed, 18 Jul 2007 09:39:53 +0000</pubDate>
		<guid>http://blog.elvini.net/malaysia/perlukah-memanggil-dengan-gelar/#comment-48</guid>
					<description>assalammualaikum.

pertama tamanya saya memohon maaf kerana ingin membuat sedikit teguran. sebenarnya nama orang melayu selepas menerima islam pada abad 14 dan sebelum adalah berbeda.jika dulu sebelum kedatangan islam nama orang melayu bagi lelaki adalah seperti jejaka,teruna,galak,jalak,adi dan bagi perempuan pula adalah seperi melati.kiambang,melur,delima,siantan,comel dan sebagainya.Namun apabila tanah melayu menerima islam nama nama tersebut tidak dipakai lagi.seterusnya hanya nama bercorak islam sahaja yang dipakai.orang melayu amat mengambil berat didalam pemberian nama anak anak mereka.sesuai dengan peringatan yang yang disuruh oleh rasullallah s.a.w.(juga adalah gelaran).Sesuai dengan anjuran itu maka lahir nama seperti azmi bin ismail atau pun khatijah binti hasyim.sepanjang perjalanan saya kenegeri negeri umat islam semuanya mempunyai kaedah yang sama.itulah sebabnya nama tokoh tokoh islam disebut sebegitu contohnya umar ibnu khatah, ali ibnu thalib. usman ibnu affan, muaz bin jabal. amru ibnul as .khalid ibnul walid dan banyak lagi sehinggakan rasullallah sendiri pun menggunakan nama muhammad bin abdullah sila rujuk didalam perjanjian hudaibiah yang terkenal itu. merujuk kepada nusantara kita ini pula iaitu malaysia,singapura,dan brunai kecuali indonesia umat islamnya semuanya menggunakan cara pengenalan yang serupa.Ini adalah unjuran dari nabi bukannya amalan bangsa melayu sila rujuk hadis hadis yang bersangkutan perkara ini.

mengenai gelaran pula harus difahami bahawa malaysia adalah negara beraja dan gelaran telah sebati dengan adat orang disini.gelaran bagi kami di sini adalah satu penghormatan dan sama sekali tidak bermaksud bermegah panggil tak apa tak panggil pun tak apa. cumanya dianggap kurang sopan jika jika si pemanggil mengetahui gelaran sesorang itu tidak menyebutkan gelaran itu.kami di malaysia mempunyai cara jika kita tak pasti tentang sesorang itu.Encik sudah memadai jika  kita kurang pasti kerana itu adalah penghormatan umum.jika nak lebih hormat lagi perkataan tuan pula digunakan.bagi perempuan pula panggilan puan sebenarnya adalah penghormatan.Sebenarnya di malaysia jika agak berumur sedikit secara rambang kita akan memanggilnya puan .kalau agak muda pula kita akan memanggilnya cik.di pejabat pejabat kerajaan mau pun swasta pihak atasan tidak memanggil seorang perempuan itu puan walau pun dia sudah berkahwin dia hanya memanggil cik contohnya cik rohana ,cik lina ataupun cik khatijah.tidak timbul masalah pergaulan antara orang berpangkat atau tidak di malaysia ini melainkan jika ianya memang seorang yang sombong.saya berhenti dulu.assalammualaikum</description>
		<content:encoded><![CDATA[	<p>assalammualaikum.</p>
	<p>pertama tamanya saya memohon maaf kerana ingin membuat sedikit teguran. sebenarnya nama orang melayu selepas menerima islam pada abad 14 dan sebelum adalah berbeda.jika dulu sebelum kedatangan islam nama orang melayu bagi lelaki adalah seperti jejaka,teruna,galak,jalak,adi dan bagi perempuan pula adalah seperi melati.kiambang,melur,delima,siantan,comel dan sebagainya.Namun apabila tanah melayu menerima islam nama nama tersebut tidak dipakai lagi.seterusnya hanya nama bercorak islam sahaja yang dipakai.orang melayu amat mengambil berat didalam pemberian nama anak anak mereka.sesuai dengan peringatan yang yang disuruh oleh rasullallah s.a.w.(juga adalah gelaran).Sesuai dengan anjuran itu maka lahir nama seperti azmi bin ismail atau pun khatijah binti hasyim.sepanjang perjalanan saya kenegeri negeri umat islam semuanya mempunyai kaedah yang sama.itulah sebabnya nama tokoh tokoh islam disebut sebegitu contohnya umar ibnu khatah, ali ibnu thalib. usman ibnu affan, muaz bin jabal. amru ibnul as .khalid ibnul walid dan banyak lagi sehinggakan rasullallah sendiri pun menggunakan nama muhammad bin abdullah sila rujuk didalam perjanjian hudaibiah yang terkenal itu. merujuk kepada nusantara kita ini pula iaitu malaysia,singapura,dan brunai kecuali indonesia umat islamnya semuanya menggunakan cara pengenalan yang serupa.Ini adalah unjuran dari nabi bukannya amalan bangsa melayu sila rujuk hadis hadis yang bersangkutan perkara ini.</p>
	<p>mengenai gelaran pula harus difahami bahawa malaysia adalah negara beraja dan gelaran telah sebati dengan adat orang disini.gelaran bagi kami di sini adalah satu penghormatan dan sama sekali tidak bermaksud bermegah panggil tak apa tak panggil pun tak apa. cumanya dianggap kurang sopan jika jika si pemanggil mengetahui gelaran sesorang itu tidak menyebutkan gelaran itu.kami di malaysia mempunyai cara jika kita tak pasti tentang sesorang itu.Encik sudah memadai jika  kita kurang pasti kerana itu adalah penghormatan umum.jika nak lebih hormat lagi perkataan tuan pula digunakan.bagi perempuan pula panggilan puan sebenarnya adalah penghormatan.Sebenarnya di malaysia jika agak berumur sedikit secara rambang kita akan memanggilnya puan .kalau agak muda pula kita akan memanggilnya cik.di pejabat pejabat kerajaan mau pun swasta pihak atasan tidak memanggil seorang perempuan itu puan walau pun dia sudah berkahwin dia hanya memanggil cik contohnya cik rohana ,cik lina ataupun cik khatijah.tidak timbul masalah pergaulan antara orang berpangkat atau tidak di malaysia ini melainkan jika ianya memang seorang yang sombong.saya berhenti dulu.assalammualaikum
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
</channel>
</rss>
