Pelatihan Word Untuk Memformat Thesis

November 9th, 2008

Sabtu, 8 Nov ‘08. Sebentar lagi saya akan meninggalkan UPM. Sebelum pergi, saya pengen meninggalkan sesuatu yg berguna buat temen² saya di kolej, yg memang telah menjadi keluarga saya di UPM ini. Akhirnya terpikirlah ide, saya akan memberikan pelatihan menggunakan Word khusus utk keperluan menulis thesis. Kebetulan kita semua di sini bikin thesis, pastinya ilmu ini akan sangat dibutuhkan. Kalau hanya nulis thesis dengan Word, tentunya semua bisa. Tapi tidak semua orang memanfaatkan kecanggihan fitur² Word dengan optimal. Padahal kalau itu dilakukan akan membuat kerja kita lebih cepat dengan hasil yg lebih rapi dan lebih akurat. Oleh krn itu saya berniat memfamiliarkan pemanfaatan fitur² Word ini utk teman² sesama pelajar Indonesia di UPM yg masih berjuang dengan thesisnya. Selama ini saya memang sering membantu mereka utk urusan formatting dokumen thesis. Kalo ntar saya pulang, gak bisa lagi saya bantuin mereka. Mereka sangat antusias waktu saya melontarkan ide pelatihan ini. Bukan hanya Word, malah mereka juga minta saya memberikan pelatihan Photoshop dan Excel. Tapi yg 2 ini gak urgent banget lah.

Hingga saat ini, ada 10 orang student Indonesia yg tinggal di kolej serumpun, yaitu Ferra, saya, Indah, Ayu, Riri, Rahmi, Sandra, Winda, Erra dan Rahayu. Di antara kita bersepuluh, hanya Ferra-lah yg student PhD, dan agak jarang ngumpul dengan kita krn lebih sering sibuk di lab. Ayu, semenjak nikah bulan Juli lalu, cuma sempet balik ke sini sebentar, setelah itu pulang lagi ke Riau. Sampe skarang belum balik lagi ke UPM. Kayaknya sih dia dah hamil, krn waktu ke sini dah mulai mual². Jadi kita bisa dengan aman manggil Rahayu dengan Ayu saja, krn dah gak ada saingan nama Ayu lain. :)

Rahmi dan Winda kebetulan tadi malem gak ada di kolej. Rahmi nginep di rumah kakeknya, Winda gak tau kemana, sedangkan Ayu, katanya capek seharian abis nge-lab. Jadi yg ikut pelatihan semalem cuma Sandra, Indah, Riri dan Erra. Kita kumpul di kamar Sandra, semua bawa laptop masing². Materi yg saya ajarkan mencakup:

outline numbering
Fitur ini gunanya supaya ketika menulis thesis, kita gak sibuk lagi mikirin penomoran chapter dan heading. Kita tinggal insert atau delete heading, move satu heading ke heading lain, tanpa harus pusing mengatur kembali penomoran seluruh heading. Fasilitas outline numbering akan otomatis mengupdate dan mengurutkan nomer² heading secara real time pada saat kita melakukan insert, delete dan move. Dengan demikian penomoran dokumen kita dijamin tepat, dan kita pun bisa konsen memfokuskan perhatian kita pada isi thesis yg sedang kita tulis, tanpa diganggu oleh kesibukan mengurutkan nomer² heading.
style formatting
Utk bisa memahami cara kerja outline numbering, sebaiknya paham dulu konsep style formatting, sebab outline numbering ini akan mengassign style² tertentu utk tiap heading. Style formatting dapat menghemat waktu kita utk mengedit format elemen² dokumen, spt heading, paragraph, ordered list, unordered list, caption, title, character, bahkan table. Setiap elemen hendaklah diassignkan pada style yg tepat. Jika suatu saat kita ingin mengganti format elemen tsb, misalnya mengubah font type, font size, spasi, alignment, indentation, tab, page break, dsb, kita tdk perlu mengulang-ulang proses ini utk semua elemen yg terpencar-pencar dalam satu dokumen. Cukup kita edit style-nya saja. Maka seluruh elemen yg menggunakan style tsb akan otomatis berubah. Ini tentu sangat menghemat waktu jika dokumen kita besar, spt dokumen thesis yg biasanya lebih dari 100 halaman.
document map
Document map berfungsi utk keperluan navigasi. Jika heading² dlm dokumen kita terformat dengan baik menggunakan style² built-in di Word, outline seluruh heading bisa kita lihat di document map. Ini sangat berguna jika kita bekerja pada file yg besar, kemudian kita ingin bolak-balik dari satu heading ke heading yg lain, maka kita bisa pergi ke heading yg dituju dengan langsung mengklik melalui document map. Misalnya pada saat kita bikin methodologi di Chapter 3, mungkin kita perlu melihat beberapa literature review di Chapter 2. Atau ketika membuat diskusi result di Chapter 4, kita perlu merefer kembali review di Chapter 2 dan design methodologi di Chapter 3. Juga saat membuat conclusion di Chapter 5, kita perlu mencocokkan kembali dengan objective di Chapter 1. Jaman kuliah di ITB dulu, temen² saya banyak yg menyimpan bab² TA atau laporan studio dalam file² terpisah. Satu file utk satu bab. Alasannya, kalau semua digabung dalam satu file, pusing mau bolak-balik dari satu bagian ke bagian lain, nge-scroll-nya jauh banget. Nah, dengan document map, hal tsb tidak lagi menjadi masalah. Sampe 10 chapter aja sih document map-nya relatif masih pendek. Navigasinya masih mudah utk diikuti.
table of content
Setelah kawan² saya mengaplikasikan outline numbering dan memformat heading di thesis mereka dengan style yg sesuai, maka table of content atau daftar isi pun bisa digenerate secara otomatis, hanya dalam sepersekian detik. Sangat menghemat waktu, kan? Dibanding kalau kita harus membuat daftar isi secara manual. Belum lagi resiko salah nulis judul heading dan nomer halaman. Next time kita mengubah isi thesis kita, mengganti judul heading, memindahkan heading, menambah atau menghapus heading, maka kita tinggal update daftar isi tsb. Kita bisa mengupdate seluruh daftar, atau hanya nomer halamannya saja. Style utk table of content ini juga bisa diatur, sebagaimana style² utk elemen dokumen lainnya, krn Word otomatis meng-assign tiap level dalam daftar isi ini dengan style yg relevan. Biasanya kita perlu membuat nomer heading suatu level sejajar dengan label heading level di atasnya. Semua bisa dilakukan dengan drag-and-drop ruler marker dalam dokumen, kemudian update style utk level yg bersangkutan.
caption
Suatu thesis umumnya juga mengandung table, figure dan mungkin juga equation. Table/figure ini juga mesti dibuat daftarnya, setelah daftar isi. Supaya daftar table/figure ini juga bisa digenerate otomatis spt halnya daftar isi, penomoran judul² table/figure dlm dokumen harus dibuat menggunakan caption. Penomoran diberikan menurut caption. Bisa mengikutsertakan nomer chapter, bisa juga gak. By default, Word akan mengassign semua caption dengan style Caption. Kalau kita memerlukan style yg berbeda utk caption table dan figure, kita bisa membuat style sendiri dan mengassignkan masing² caption dgn style yg sesuai. Misalnya utk judul figure, krn diletakkan di bawah gambar, spasi before-nya perlu dibuat agak jauh supaya gak mepet dengan gambar di atasnya. Sementara utk judul table, krn diletakkan di atas tabel, spasi after-nya lah yg perlu dibuat agak jauh supaya gak mepet dengan tabel di bawahnya. Juga harus diset keep with next supaya judul tabel ini gak terpisah halaman dengan tabelnya. Berbeda dengan heading, nomer² caption ini gak secara real time berubah jika kita menambah/menghapus caption di atas atau di bawah caption yg sudah ada. Tapi gak usah khawatir, hal ini pun dapat diupdate dalam sepersekian detik saja. Tinggal klik update, maka nomer² caption itu pun akan diurutkan kembali.
list of figure/table
Setelap judul² gambar dan tabel dinomori secara otomatis menggunakan caption, daftar gambar/tabel bisa digenerate secara otomatis. Satu list utk satu jenis caption.
cross-reference
Figure, tabel, equation, heading, appendix, umumnya akan disebutkan dalam text sebagai reference. Misalnya pada saat kita nulis, “The result can be seen in Table 2.X”, atau “Figure 3.2 shows how the research is carried out”, atau “as mentioned in section 2.3 on review of GIS and location science”. Nah, referensi² dalam text ini disebut dengan cross-reference. Caption, heading, bookmark, footnote, list, appendix, bisa dibuat cross reference-nya. Jika elemen² yg direfer ini suatu saat berubah, otomatis, cross-reference dlm textnya juga mesti diubah. Bayangkan betapa sulitnya melakukan ini secara manual. Mau gak mau kita harus membaca seluruh dokumen. Sedangkan hal tsb mungkin perlu kita lakukan beberapa kali sepanjang proses penulisan thesis. Jika kita menggunakan fasilitas cross-reference utk semua reference dalam text, spt halnya caption, pengubahan dapat dilakukan sekejap mata dengan mengklik update field.
section and pagination
Biasanya, halaman² sebelum chapter (daftar isi, acknowledgements, abstrak, approval sheet, declaration etc), harus diberi nomer halaman yg berbeda dengan nomer halaman chapter, dan ditulis dengan angka romawi. Sedangkan nomer halaman chapter ditulis dengan angka latin. Utk keperluan ini, maka halaman² sebelum chapter dan halaman chapter harus dibuat dalam section yg berbeda. Jika sectionnya berbeda, format nomer halaman, header dan footer utk masing² section pun bisa dibuat berbeda sesuai keperluan.
comment and track change
Sbg dosen, Sandra sering menerima tugas mhs-nya melalui email. Dia nanya, gimana caranya ngasih komentar atau koreksi thd tugas mahasiswanya tsb langsung di filenya, supaya bisa dia kirim lagi lewat email, gak usah diprint. Yah, kalo soal ini mah gampang, tinggal pake fasilitas comment. Jaman saya kerja di konsultan dulu, saya sering menggunakan fasilitas comment ini krn harus kerja dengan rekan yg kantornya berlainan. Krn udah menyinggung soal comment, sekalian saya pun memperkenalkan fitur track change. Saya juga belum lama kenal fitur tsb. Waktu ngirim revisi paper kemaren, editor jurnal meminta saya memanfaatkan fitur track change supaya perubahan yg saya buat bisa keliatan. Saat itulah mau gak mau saya harus mempelajari apa dan bagaimana menggunakan fasilitas track change. Sebenernya saya gak berniat memberikan materi ini ke temen² saya krn gak diperlukan utk formatting thesis, tapi mereka ngomong, “kita kan nanti pengen publish paper juga” hehe… iya deh, saya kasih.

Selain materi di atas, saya juga menjelaskan sedikit soal equation editor, spt gimana menambahkan tombol equation ke toolbar jika belum tersedia (umumnya memang belum tersedia kalo belum pernah dipake). Rata² sih mereka dah pernah make equation editor waktu kuliah S1 dulu, tapi sudah agak lupa cara makenya. Saya juga menjelaskan tentang formatting marks. Mark ini terutama utk mengecek apakah suatu paragraph atau heading terpecah dalam beberapa line atau satu line, krn tampilan keduanya sama aja. Kalo kita mengcopy text dari dokumen PDF, biasanya text tsb terpecah dalam beberapa line, jadi kita harus mengeditnya supaya menjadi satu line. Utk heading chapter, label chapter harus diletakkan di bawah nomer chapter, tetapi tetap harus berada dalam satu line, hanya diwrap saja supaya pindah ke baris berikutnya. Kalau dia berbeda line, maka akan terdefinisi sbg chapter berikutnya. Padahal bukan gitu yg kita inginkan.

Kendala yg dihadapi dalam pelatihan ini adalah: Riri menggunakan Word 2007! Duh, benci banget deh saya dengan interface Word 2007 ini, semua menu dan tombol diubah posisinya. Udah gitu si Riri tetep aja minta saya cariin, menu ini dimana, cara apply style gimana, cara ngewrap text gimana, dsb. Padahal saya juga gak tau. Jadi nambah kerjaan buat nyari². Kasian juga si Riri, yg laen udah jauh kemana, dia masih sibuk aja berkutat nyari² gimana supaya nomer heading otomatis terupdate ketika kita mengassign style heading tsb. Udah terakhir² baru ketemu caranya. Heran, ngapain sih Microsoft ngeganti² interface kayak gini? Bikin susah aja. Mending kalo lebih bagus, yg ada malah tambah ribet, terlalu banyak bells and whistles, sama spt AutoCAD Map versi 2006 ke atas. Makanya, saya gak tertarik utk ngeupgrade, biarpun katanya Word 2007 ini sudah dilengkapi dengan fitur citation tanpa harus menggunakan third party software spt Endnote, Reference Manager, Procite, dsb.

Oh iya, pas mulai belajar, waktu saya ngeliat mereka mencatat langkah² yg saya berikan, gak nahan saya langsung ngasih tau, “Duh, repot amat kayak begini dicatet. Bikin skrinsyut ajah!” Jadilah saya harus memberikan tutorial singkat gimana mengcapture skrinsyut langkah² kita. Mestinya sih pake SW khusus yg langsung menyimpan hasil capture skrinsyut ini dalam file JPG. Saya biasa melakukan hal ini dalam praktikum GIS, krn kita harus bekerja sambil mengikuti intruksi yg diberikan oleh demonstrator. Gak sempet deh kalo mesti nyatet² segala.

Meskipun berlangsung 3 jam, pelatihan malam tadi belum selesai. Masih ada beberapa materi yg belum tersampaikan, seperti membuat style utk table, character dan list number. Materi yg sudah diberikan juga masih ada yg perlu dijelaskan ulang, krn banyak yg ketinggalan, terutama Riri.

Saya puas banget bisa memberikan sesuatu yg mudah²an berguna buat temen² saya ini. Bukan cuma temen² Indonesia. Di kampus, temen² sejurusan pun banyak yg kursus informal dengan saya, belajar Word utk bikin thesis atau project mereka. Kerasa sih hemat waktunya, antara bekerja secara otomatis dengan bekerja secara manual.

Berobat ke PK

November 4th, 2008

Senin, 3 Nov ‘08. Sudah hampir seminggu tangan saya terluka akibat terkena asap panas dari air yg sedang mendidih. Kecil sih lukanya, kira² diameter 4 cm. Kulit di bagian luka tsb menjadi gosong dan memerah. Pas baru² kena, saya sempet mengoleskan salep kulit yg biasa saya pake kalo kulit saya kering dan pecah². Rupanya salep tsb membuat luka di bawah lapisan kulit yg gosong tadi mengeluarkan cairan. Akibatnya kulit gosong tsb menggelembung spt balon. Lama² balon ini pecah dan cairannya pun keluar. Saya pencet² biar lebih cepet kempes. Saya gak tau luka ini mesti diapain. Yg jelas rasanya perih, apalagi kalau mandi. Jadi saya olesin betadine. Tapi bagian luarnya doang yg kena, sedangkan kulit luar yg udah gosong ini kan sebenernya sudah mati. Yg perlu diobatin sebenernya luka yg di bawah itu. Akhirnya, pelan² dan hati², saya buka kulit yg gosong ini. Tampaklah kulit di bawahnya yg merah spt daging. Woah… ngeri banget ngeliatnya, rasanya riskan sekali kalo tersenggol atau tergesek sesuatu. Perihnya juga makin kerasa, sampe² saya ngerasa sakit kalo meluruskan tangan, yg membuat kulit di bagian luka ini ketarik.

Kebetulan kakak ipar saya dokter. Saya telpon dia, konsultasi tentang luka saya ini. Sebenernya dia bilang gak apa² sih, luka saya ini didiemin aja juga lama² kulitnya numbuh sendiri. Tapi dia nyaranin saya utk beli salep kulit khusus luka bakar, supaya sembuhnya lebit cepet. Krn ngerasa sakit utk mandi, shg gak nyaman utk bepergian, saya minta tolong Riri utk beliin salep tsb di apotik di PK buat saya. Tapi ternyata gak bisa beli obat langsung gitu. Saya mesti periksa ke dokter, dikasih resep dokter, baru PK mau ngasih obat. Terpaksalah saya mandi dan dateng sendiri ke PK. Wah, ternyata pengobatan buat saya heboh banget. Dikasih obat luar dalem, pake disuntik segala lagi. Tapi perawatnya bilang luka saya ini dah membaik, kulitnya dah mulai numbuh. Padahal baru tadi pagi kulit itu terbuka. Pertama dia bersihkan dulu bagian kulit yg memerah ini dengan alkohol. Setelah itu luka ditutup dengan lapisan plastik, kemudian ditutup lagi dengan perban. Plastik penutup luka ini bukan sembarang plastik, melainkan mengandung obat. Saya disuruh membuka plastik ini setelah 3 hari. Hah, kenyataannya baru satu hari plastik itu dipake, udah lepas sendiri. :P Mungkin sayanya juga yg terlalu brutal dan banyak gerak, hehe… Plastik ini juga berfungsi menjaga supaya luka tidak terkena air.

Saya disuntik di lengan atas. Menurut kakak ipar saya, itu suntikan tetanus. Padahal saya sudah pernah disuntik tetanus jaman imunisasi dulu. Tapi mungkin di Malaysia gak semua orang sudah disuntik tetanus. Obat dalem dikasih antibiotik, sementara obat luar ya salep utk luka bakar tadi. Semua biaya pemeriksaan, perawatan, dan obat-obatan tentu saja gratis, krn saya berobat di PK kampus. Untung saya berobat ke PK, luka saya jadi cepet sembuh krn diobatin. Biasanya kan saya gak pernah pergi ke dokter. Di rumah, kalau cuma sakit demam, batuk atau luka spt ini, ayah atau kakak ipar dengan mudah bisa mendapatkan obat dari Rumah Sakit. Yah, nasib merantau sendirian di negeri orang, mau gak mau deh, harus rajin² ke dokter.

Keliling Pusat Kota

October 31st, 2008

Kamis, 30 Okt ‘08Entah kenapa, tiba² aja saya kangen nonton serial TV Amerika jaman dulu, seperti Full House dan Step by Step. Selama beberapa hari, saya menghabiskan waktu nonton cuplikan² serial tsb di Youtube. Tapi tentu saja gak puas cuma nonton dari Youtube. Filmnya gak tuntas, gambarnya pun gak jelas. Saya pengen banget beli DVD original serial tsb. Setau saya di Kotaraya ada satu mall yg menjual DVD original drama² Korea. Nah, mungkin disana juga dijual serial TV Amerika. Maka, jadilah hari ini saya plesiran ke pusat kota untuk hunting. Sekalian tante saya yg di Jakarta nitip DVD original film kartun Malaysia, Upin dan Ipin. Selain nyari DVD, saya juga mau nyari travel bag kecil, sebab tas saya yg lama dah rusak, sementara saya perlu bawa banyak barang pas pulang nanti.

Saya pergi sendirian, naek bis Metro 17 yg rutenya langsung dari kampus UPM sampe Kotaraya. Di mall Kotaraya, saya dah keliling satu lantai yg berisi deretan pertokoan DVD drama Korea. Tapi rupanya gak ada yg jual serial Amerika yg saya cari. Paling adanya film² bioskop aja. Film² Indonesia malah ada. Yah, akhirnya saya cuma keliling² aja di mall sekitar situ, ngeliat-liat. Rencananya, saya mau beli travel bag di Giant Mines, deket stasiun Serdang, sepulang dari Kotaraya ini. Tapi pas keliling di mall Kotaraya itu, saya liat banyak banget toko yg menjual travel bag. Murah² dan bagus² lagi. Model dan merknya pun macem². Dipikir-pikir, ngapain juga saya pergi ke Giant? Udah di Kotaraya mah, beli aja kopernya di sana. Malah enak kalo beli di sana, pas balik saya tinggal naek bis Metro lagi, gak perlu jalan jauh nenteng² koper spt kalo saya belanja di Giant. Waktu itu niat pengen beli di Giant kan krn emang blm ada rencana jalan² ke Kotaraya. Nah, skarang udah nyampe di Kotaraya, ya beli aja di situ. Akhirnya, saya pun jadi beli koper di sana. Tapi gak langsung beli saat itu, krn saya masih pengen keliling² dulu. Kan repot kalo jalan² sambil bawa koper. Jadi koper itu baru saya beli pas udah mau balik dan tinggal naek ke bis.

Sambil nyari² DVD, saya memperhatikan kalau² ada apotik di sekitar situ. Saya mau beli obat utk luka saya kena asap air mendidih. Saya pun sempet masuk ke toserba Mydin, siapa tau ada dijual DVD di situ. Tapi gak ada. Saya terus jalan, akhirnya nyampe ke Pasar Seni. Yah, kalo udah di Pasar Seni, terpaksa deh, saya tidak bisa menahan diri utk beli kacang Pistacheaus. Gak tau, saya kok doyan banget ya? Mana harganya mahal, sama dengan kacang Almond. Tapi tetep aja saya beli seplastik gede, krn semakin gede, harga per kilonya semakin murah. Biarin deh, sekali² jajan. Gak sering² saya maen ke Pasar Seni gini. Lagipula, saya emang mau puas²in jajan. Selagi masih di Malaysia, jajanlah jajanan yg jarang bisa ditemui di Indonesia.

Di Pasar Seni sebenernya kemungkinannya kecil utk bisa menemukan toko yg jual DVD. Tapi… gak disangka, di antara toko² yg menjual barang antik, ternyata ada satu kios yg menjual DVD. Dan setelah saya tanya, ternyata di kios ini saya bisa pesen DVD kedua serial yg saya cari. Wuaahh… betapa sukacitanya saya. Langsung aja saya pesen 4 season utk masing² serial. Harga per season-nya RM66, lebih murah dibanding kalo saya beli ke Amazon dan harus menanggung ongkos kirim. So, jalan² hari ini sukses. Rencana beli travel bag kesampean, DVD pun dah bisa pesen. Nanti kalo barangnya dah ada, mereka akan hubungi saya, dan saya baru akan bayar kalo barang sudah datang. Jadi gak sabar pengen cepet² nonton.

Pesta Pempek

October 30th, 2008

Rabu, 29 Okt ‘08. Salah satu temen ada yg bawain Pempek dari Riau. Pempek ini sudah lama tersimpan di kamar Indah, satu²nya di antara kita, geng Kolej serumpun, yg punya kulkas di kamar. Gak lama² banget sih, abis lebaran yg jelas. Hari ini, kita pun berniat utk makan pempek itu. Waktu kita buka, ternyata kondisinya udah agak rusak. Pempek itu ditaburi tepung terigu, supaya gak basi, dan tepung terigunya itu sudah mencair spt lendir dan agak bau. Rahmi dan sayalah yg mencuci pempek itu. Kita sendiri udah gak yakin, pempek itu masih bisa dimakan apa gak. Tapi kita coba aja mencuci pempek tsb dengan air panas, membuang cairan bekas tepung terigunya sampe bersih, membuang ujung² pempek yg sudah menguning dan mengeras. Setelah dicuci dan dibilas berkali-kali, dan setelah cairan terigunya hilang, lumayan… bau apeknya berkurang.

Kita lalu merebus pempek tsb, kemudian menggorengnya sampe kecoklatan. Biar mati deh tuh kuman²nya. Pesta pempek dilakukan di kamar saya. Rame yg ikutan, ada Rahmi, Erra, Sandra, Winda, Ayu, Riri, Indah dan saya tentunya. Mengingat kondisi pempek ini sudah hampir basi, sebelum makan, kita nanya² dulu “Ada yg punya obat sakit perut?” Buat jaga². Setelah Indah bilang dia punya obat sakit perut, dan cukup banyak persediaannya, baru kita berani makan. Haha.. ngeri banget ya, mau makan kok resikonya bakalan keracunan dan sakit perut. Tapi gak aneh juga. Masalahnya baru² ini, waktu acara Family Gathering PPI UPM kemaren, konon 90% peserta menderita sakit perut sehabis makan di acara tsb, sampai² mereka harus pergi ke klinik kampus. Kebetulan banget, saya gak dateng acara itu. Tapi malemnya saya ikut mencicipi makanan yg disajikan, krn beberapa temen sekolej membawakan beberapa kotak makanan yg tersisa, dan kita makan bareng² di kolej malem harinya. Cuma, krn memang sebagian lauk udah terasa bau, ya saya buang. Rupanya tepat saya melakukan itu. Kalo gak, mungkin saya pun bakalan sakit perut juga. Nah, gara² insiden sakit perut ini, kita jadi agak trauma, takut makan makanan yg udah agak bau.

Sayalah yg pertama kali berani mencicipi pempek tsb. Setelah direbus dan digoreng, ternyata enak kok. Gak ada tanda² pempek tsb hampir basi. Saya makan sampe 3 potong, Rahmi bahkan 4 potong. Winda dan Ayu, yg kebetulan tidak melihat kondisi pempek tsb sebelum dimasak, menyatakan pempek tsb enak² aja kok. Jadi insya Allah aman lah. Cuma Indah yg gak berani ikutan makan sama sekali. Katanya, melihat kondisi pempek itu sebelum dimasak, selera dia langsung hilang, hihihi… Yg agak mengkhawatirkan justru kuahnya. Kalaupun kita sakit perut, mungkin bukan krn pempek yg basi, tapi krn kuah pempek yg emang tajem di perut. Saya pun kalo udah lama gak makan pempek, kadang² suka sakit perut juga sekalinya makan. Yah, demi mencegah terkena sakit perut, kali ini saya makan kuahnya sedikit aja, gak dipuas²in seperti biasanya.

Yang lucu, kalo lagi ngumpul² begini, kita biasanya ributnya bukan maen. Pernah kejadian pas ulang tahun Sandra, ada student yg datang ke kamar dan protes, “Maaf, kak, kami sedang ujian. Boleh tolong jangan terlalu ribut.” Memang waktu itu bertepatan dengan minggu² ujian akhir. Saya sendiri gak ikutan krn sedang ada di Jkt. Nah, semenjak kejadian itu, kalau kita lagi ngumpul dan ribut begini, lalu tiba² ada yg mengetuk pintu, kita langsung ketakutan. Demikian pula sekarang. Lagi heboh²nya kita makan dan ngobrol, tiba² ada yg mengetuk pintu kamar. Kontan semuanya naek ke tempat tidur saya, supaya tidak terlihat dari arah pintu. Bego juga yah, biarpun ngumpet, tapi sendal yg bertebaran di luar kan gak bisa menipu bhw di kamar ini memang banyak orang. Sebagai tuan kamar, saya lah yg membukakan pintu. Ternyata yg dateng adalah Maryam, student Iran temen deketnya Rahmi. Lega deh saya. Mendengar suara Maryam, anak² yg sedang bertumpuk dan ketakutan di atas tempat tidur saya pun langsung terbahak-bahak. Wah… adegan mereka tergopoh-gopoh naek ke tempat tidur itu pasti menggelikan jika direkam dgn video. Rupanya Maryam dateng cuma mau ngasih tau bhw dia sedang masak Iranian soup, dan akan membaginya buat kita. Duh, bikin panik aja.

Thesis Corrections

October 29th, 2008

Sebenernya perbaikan thesis yg perlu saya lakukan gak banyak, namanya juga minor correction. Tapi saya membuat koreksi lebih dari yg diminta. Saya baru mulai ngerjain perbaikan pas udah balik ke Jkt. Eh, sebelumnya dah sempet searching literature sih, krn saya harus menambah literature review tentang location-allocation problems. Ini permintaan Prof Ruslan. Sebenernya saya agak bingung juga, thesis saya tentang location modeling, dan saya sudah melakukan literature review beberapa model yg ada, seperti PMP, PCP, LSCP, MCLP, MECP dll. Jadi, review gimana lagi yg beliau mau? Tapi akhirnya bisa juga saya laksanakan. Saya ngereview location-allocation dari segi aplikasi. Jadi bukan ngebahas model empiris spt PMP, PCP dan sebagainya itu, melainkan lebih kpd contoh real problem, dan gimana GIS dapat dimanfaatkan utk menyelesaikan problem tsb. Tambahan literature review ini saya sisipkan sbg subsection dari section tentang GIS dan Location Science.

Kritikan examiner lainnya yg perlu saya koreksi adalah perbedaan ukuran hexagon dan square utk tessellation dan ukuran grid raster utk pemilihan candidate site. Kelihatannya sih ini perkara remeh, padahal sebenernya ini pekerjaan besar! Mengganti ukuran figure dan grid raster berarti menghasilkan set candidate site yg berbeda. Krn set candidate site menjadi input utk proses optimisasi, maka saya harus mengulang proses optimisasi. Otomatis output akhir juga akan berbeda. Diskusi result serta conclusion pun berubah. Gambar peta, grafik, dan tabel juga perlu diupdate sesuai output yg baru. Kalau dipikir-pikir, sebenernya yg saya kerjain ini minor atau major correction sih? :) Tapi saya seneng. Krn ukuran figure dan grid raster diseragamkan, gak terlalu banyak parameter yg saya bandingkan. Penelitian saya jadi lebih simpel, result yg perlu dianalisis pun lebih sedikit. Saya juga gak perlu lagi menyebut-nyebut Sensitivity Analysis, krn gak ada parameter yg diubah-ubah. Semuanya udah fixed diset dari awal.

Section terakhir dari Chapter 2 saya reorganize lagi. Bagian yg mendiskusikan kriteria site suitability evaluation utk pemadam kebakaran saya pindahin ke Chapter 3. Waktu awal² dulu, bagian ini memang udah saya bikin di Chapter 3. Tapi krn dalam penyusunan kriteria itu saya masih menggunakan literature, menurut Dr Rashid, itu semestinya masuk Chapter 2. Chapter 3 haruslah murni mendeskripsikan metode kita. Tapi menurut saya, utk kasus ini, meskipun saya masih menyebutkan literature, saya tidak melakukan review. Saya mendesain sendiri kriteria pemilihan lokasi pemadam kebakaran, tapi mengadopsi dari beberapa sumber. Jadi literature tsb hanya menjadi bahan rujukan. Lagipula pemadam kebakaran itu hanya contoh utk simulasi model yg saya kembangkan, jadi kurang cocok kalo kriteria lokasinya ditaro di literature review. Sebab pemilihan pemadam kebakaran utk simulasi itu sendiri baru disinggung di Chapter 3.

Diskusi tentang kriteria pemilihan heuristic saya pindahin ke section lain yg mereview tentang heuristic. Dengan demikian, section terakhir dari Chapter 2 ini hilang. Tapi sebagai gantinya, saya membuat satu section summary. Summary ini juga saya buat di Chapter 3 dan Chapter 4, sesuai saran dari salah satu examiner. Penjelasan tentang Nearest-neighbor analysis, yg semula di Chapter 4, saya pindahin ke Chapter 3, krn salah satu examiner berkomentar bhw sebagian metodologi masih ada di Chapter 4, padahal itu semestinya ada di Chapter 3. Saya gak tau metodologi mana yg dimaksud. Mungkin yg nearest-neighbor ini termasuk.

Peta² di bagian lampiran saya update kembali krn saya harus menyertakan skala dan kompas. Output optimal site gak lagi saya muat di lampiran, melainkan saya masukkan di Chapter 4. Sebab saya bukan hanya menampilkan result terbaik dari 4 eksperimen yg dilakukan (2 heuristic thd 2 dataset), melainkan result seluruh eksperimen. Ini karena salah satu examiner (yg saya duga adalah Prod Ruslan) meminta saya melakukan analisis dan presentasi coverage secara spatial, bukan hanya dari segi persentase coverage. Beliau pun meminta saya menunjukkan secara spatial area yg memperoleh tambahan dan pengurangan coverage. Biar gak ngabisin halaman, 4 peta coverage tsb saya bikin dalam satu halaman. Yup, ukurannya kecil² emang. Tapi so what? Emang gak perlu gede² kok. Jadi saya nambahin satu section di Chapter 4 yg khusus secara spatial mendiskusikan coverage dan sebaran lokasi pemadam kebakaran hasil eksperimen. Jumlah peta dalam lampiran pun berkurang. Padahal peta coverage existing akhirnya saya pindahin juga ke lampiran, biar semua peta ngumpul di situ.

Lalu saya memperbaiki Chapter 1. Bukan hanya problem statement dan objective, tapi saya juga merewrite kembali background, study scope dan thesis organization. Ya, sebab memang ada perubahan di beberapa chapter. Otomatis uraian thesis organizationnya juga mesti diupdate. Background saya update kembali sesuai dengan background di paper MSAP yg saya kirim ke IJGIS. Demikian pula problem statement. Utk objective, saya diminta menyesuaikan objective study dengan perubahan judul thesis yg disarankan. Akhirnya saya buat objective study saya hanya satu, yaitu membangun model lokasi emergency facilities, dengan mengintegrasikan GIS di dalamnya. Objective² lainnya saya pindahin jadi study scope. Sebab dipikir-pikir itu memang bukan objective study, melainkan prosedur kerja yg umum dilakukan dalam study tentang location modeling, jadi lebih cocok dimasukkan sbg study scope. Setelah direwrite, saya merasa Chapter 1 yg sekarang ini jauh lebih tepat. Problem statement, objective dan study scopenya lebih mencerminkan penelitian saya yg sebenernya. Oya, koreksi dari para reviewer paper MSAP mengenai kesalahan penggunaan beberapa terminologi dalam optimization theory juga saya lakukan utk thesis ini.

Sampai di sini, saya udah keburu harus kembali ke UPM. Jadi perbaikan selanjutnya saya lakukan di UPM. Tinggal dikit lagi sih, cuma rewrite abstrak dan perbaiki peta study area. Abstract dibuat dengan mengikutsertakan sedikit problem statement, alasan perlunya dilakukan study, objective study dan lebih banyak ringkasan result. Peta study area saya pindahin ke Chapter 3, di section tentang study area. Hari Kamis, sehari setelah saya nyampe ke UPM, dari subuh langsung saya kerjain dua hal ini. Setelah beres, maka perbaikan pun selesai. Tinggal saya mengupdate daftar isi, daftar tabel, daftar gambar, bikin daftar lampiran dan daftar publikasi. Hehe… setelah ada paper yg diaccept, saya dah bisa bikin daftar publikasi nih skarang. ;) Sengaja saya menyelesaikan semuanya pagi², sebab saya mau menemui Dr Ahmad hari itu juga, sekalian mau numpang ngeprint halaman berwarna pake printer beliau. Jadi semua gambar yg perlu diprint berwarna harus udah siap, termasuk peta study area itu. Syukur Dr Ahmad pagi itu ada di ruangannya. Saya bawain oleh² kue kastengel bikinan saya sendiri utk beliau. Saya minta bantuan beliau utk mengoreksi abstrak versi bahasa Melayu yg saya bikin pake bahasa Indonesia, hehe… Ternyata banyak perbedaannya. Misalnya, “sebuah metode” diganti jadi “satu kaedah”; “persentase” jadi “peratusan”; “solusi” jadi “penyelesaian”, dll. Target numpang ngeprint halaman berwarna gak kesampean krn printer Dr Ahmad bermasalah. Saya pun gak punya driver printer tsb di laptop saya. Krn gak enak kelamaan ngeganggu Dr Ahmad, saya ngeprint di rental aja deh. Toh cuma satu exp yg perlu disubmit.

Koreksi thesis ini disertai dengan approval form yg harus ditanda-tangan oleh kedua internal examiner, chairman examiner dan chairman supervisor, serta form pengesahan dari Bendahari dan Perpus yg menyatakan bhw kita udah gak ada utang apa² lagi dengan pihak univ, dan gak ada buku yg belum dikembalikan ke perpus. Kamis sore (16 Okt ‘08), saya sudah ke Bendahari dan Perpus utk minta pengesahan ini. Hari Jumat (17 Okt ‘08), saya ke fakulti Environment utk mencari internal examiner saya, Dr Firuz Ramli, yg gak hadir di viva saya. Saya sempet nyasar krn rupanya fakulti ini pindah ke gedung bekas fakulti Medik lama. Sebenernya saya cuma mau ngecek, Dr Firuz ini ada apa gak di UPM. Sebab menurut info di situs fakulti Environment, Dr Firuz sedang cuti sabbatical leave. Ternyata beliau ada di UPM, cuma saat itu sedang ada acara di fakulti. Ya sudah, yg penting saya dah tau beliau ada, dan tau ruangannya dimana. Hari Senin bisa saya coba cari lagi. Saya juga sempet ngirim email ke beliau. Ternyata email saya sudah dibalas dan beliau mempersilakan saya dateng hari Senin sore (20 Okt ‘08), krn pagi beliau ikut konvo, siang ada presentasi dengan student² postgrad. Syukurlah, jadi pagi hari saya ke fakulti Engineering dulu utk nyari Prof Amin. Tapi gak berhasil. Beberapa kali saya dateng ke ruangannya, beliau gak ada. Akhirnya saya telepon beliau. Ternyata beliau sedang ada di Bangkok, dan baru balik hari Senin (27 Okt ‘08) depan! Aduh… padahal deadline submit perbaikan thesis ini hari Sabtu ini (25 Okt ‘08). Mana Prof Bujang sbg chairman gak mau menanda-tangan form approval saya sebelum seluruh examiner menanda-tangan. Hari Jumat sebelumnya (17 Okt ‘08), setelah dari fakulti Environment, saya dah sempet menjumpai beliau, dan beliau bilang chairman examiner haruslah menjadi the last person yg menanda-tangan form tsb. Prof Amin menyarankan saya utk meminta Prof Desa Ahmad, ketua departemen beliau, utk mewakili beliau menanda-tangan form saya. Tapi Prof Desa menolak. Katanya, yg lebih tepat melakukan itu adalah chairman examiner saya, bukan dia. Sementara waktu saya bilang soal kepergian Prof Amin ini ke Prof Bujang, beliau malah nyuruh saya mengajukan permohonan extension utk submit perbaikan, supaya saya bisa nunggu sampe Prof Amin balik. Rupanya, di saat² terakhir saya di UPM, saya masih harus mengalami kejadian² spt ini. Tapi saya udah gak bisa marah dan kesel. Mungkin memang harus begini lah skenarionya. Lagipula, saya introspeksi diri aja, saya juga salah. Hari Jumat itu, saya dateng ke fakulti dah sore banget. Coba kalo saya dateng lebih pagi, mungkin masih bisa ketemu Prof Amin. Rencana ketemu Dr Firuz sendiri sukses. Saya dateng ke ruangan beliau tepat jam 5 sore. On time. Ternyata waktu itu beliau gak dateng ke viva saya krn sedang ikut pelatihan GIS di UI Depok! Oalah… malah sedang beredar di deket rumah saya toh, hihihi…

Krn koreksi udah selesai, gak ada apa² lagi yg perlu saya kerjain selama menunggu Prof Amin. Saya pun iseng ngutak-ngatik kembali gambar² peta. Entah kenapa saya ngerasa gak puas dengan gambar peta² di thesis. Krn gambar² tsb berupa image, pas diprint hasilnya gak bagus, resolusinya buruk sekali. Saya berpikir, gimana ya membuat gambar vector dari peta² tsb, supaya pas diprint tajem gitu. Eh, ternyata baru sekarang saya tau, layout peta di ArcGIS itu bisa diconvert dalam format EMF. Wah, tau gitu dari dulu aja saya ngelayout peta di situ. Ya, selama ini gambar peta selalu saya capture sbg screenshot, lalu semua diedit di Photoshop atau Visio. Saya memang belum pernah ngelayout peta di ArcGIS. Make ArcGIS juga baru pas kuliah di UPM ini aja kok. Sebelumnya kan saya masih pake ArcView 3.X. Makanya, masih belum familiar dgn fitur² layout di ArcGIS. Kini selagi ada waktu lapang, saya punya kesempatan mengexplore fitur² layout tsb. Wow, ternyata jauh lebih canggih daripada ArcView (ya iyalah, versinya lebih baru gitu lho). Pembuatan legend, scale bar dan kompas jauh lebih fleksibel dan banyak pilihan. Saya akhirnya bisa melaksanakan keinginan saya utk menampilkan graticule di semua peta. Krn gambar layout tsb bisa di-convert ke EMF, saya pun berhasil mendapatkan gambar vector utk gambar peta dan element² peta lainnya. Kalau diprint hasilnya cantik, tajem dan halus. Dengan semangat saya pun membuat layout utk semua peta di ArcGIS. Bukan hanya peta² besar yg di lampiran, bahkan peta² kecil utk presentasi result pun saya layout di ArcGIS. Kalau presentasi result peta ini disertai dengan screenshot tabel dan text penjelasan, saya buat layoutnya di Ms Word langsung. Ujung²nya semua figure di Chapter 4 gak ada lagi yg saya bikin dengan Visio.

Hari Selasa (28 Okt) baru saya bisa menemui Prof Amin, krn hari Seninnya libur. Sebelum urusan submit koreksi thesis ini beres, saya merasa gak tenang. Gak sabar rasanya pengen cepet² dapetin tanda-tangan Prof Amin. Sebab setelah itu saya masih harus dapetin tanda-tangan Prof Bujang. Saya khawatir, gimana kalo beliau sedang on leave dan saya mesti nunggu beberapa hari lagi sampe beliau balik? Duh, ini udah telat banget. Kalo bulan Oktober ini saya gak submit ke GSO, bisa² nama saya gak masuk di rapat senat bulan Desember. Pagi hari jam 8.30, saya sudah berhasil menemui Prof Amin. Beliau pun memeriksa dengan teliti list of corrections yg saya buat, sebelum menanda-tangan form approval. Beres urusan dengan Prof Amin, langsung saya mendatangi ruang Prof Bujang. Beliau gak ada, di-SMS pun gak direply. Duh, jangan² yg saya khawatirkan bener² terjadi. Tapi saya gak mau putus asa dulu. Setengah jam sekali, saya bolak-balik ke ruangan Prof Bujang, ngecek kalau² beliau dah dateng. Ternyata gak sia² saya berbuat begitu. Jam 11.30, setelah entah yg ke-berapa kali saya dateng dan mengetuk pintu ruangan beliau, terdengar sahutan dari dalam, “Come in!” Wuaa… saya pun bersorak dalam hati. Hihi… udah kayak menang lotere aja. :P Rupanya beliau baru aja selesai menghadiri presentasi studentnya. Pantes gak ngebales SMS. Maka, berhasil lah hari itu saya mendapatkan tanda-tangan Prof Amin dan Prof Bujang. Rasanya puas juga bhw form approval saya betul² ditanda-tangan oleh orang² yg bersangkutan, gak diwakili orang lain.

Setelah form approval lengkap ditanda-tangan, barulah saya merasa lega dan bisa rileks browsing² dulu di lab. Maunya langsung ke GSO utk submit, tapi tanggung siang itu dah hampir masuk waktu istirahat. Puas ngebrowsing, saya balik dulu ke kolej utk makan dan sholat Zuhur. Baru jam 3 sore saya pergi ke GSO utk submit koreksi thesis. Akhirnya, beres juga urusan submit koreksi thesis ini. Besoknya, pas saya cek student portal, status study saya sudah berubah menjadi “Completed”. Hore…!!! Dengan demikian saya betul² sudah tuntas menyelesaikan study saya.

Dinner Masakan Arab

October 25th, 2008

Jumat, 24 Okt ‘08. Udah lama Habshi pengen ngajak saya makan di restoran Arab, bersama Dr Ahmad. Saya bilang ke dia, kalau mau ngajak saya makan di restoran mesti buruan, soalnya gak banyak waktu tersisa buat saya di sini. So, hari ini rencana kita pun terlaksana. Kita berangkat dinner setelah sholat Maghrib, naek mobil Dr Ahmad. Kita makan di sebuah restoran Arab di daerah Cyberjaya, namanya Restoran Saba’.

O iya, Habshi ini temen saya dari Yaman. Satu jurusan dengan saya dan sama² di bawah supervision Dr Ahmad. Lab kerja dia di sebelah lab kerja saya, jadi kita sering ngobrol² bareng dan diskusi soal penelitian kita masing². Waktu saya baru dateng, dia masih student master. Mulai semester ini dia udah jadi student PhD. Boleh dibilang, student Dr Ahmad yg udah lama kuliah di sini cuma kita berdua, yg laen rata² baru. Ditambah lagi, kita berdua sama² computer geek (tapi kadar ke-geek-an saya belum separah dia :P ), sehingga Dr Ahmad sering nyuruh kita ngisi kuliah beliau yg kebetulan tentang IT. Kita juga udah sering makan bertiga bareng Dr Ahmad. Biasanya sih Dr Ahmad yg traktir. Tapi kali ini, memang Habshi yg ngajak. So, dialah yg jadi Bos.

Pelayan di Restoran Saba’ itu campur², ada orang Arab, India bahkan Indonesia. Tapi semua bisa bahasa Arab. Habshi sendiri komunikasi dengan mereka pake bhs Arab. Dr Ahmad, Habshi dan saya, masing² pesen makanan yg berbeda. Kita beli roti Khopez, Hummus dan garlic sauces utk dimakan bareng². Buat per orangnya, semuanya pesen nasi dan ayam. Saya gak begitu inget nama² makanannya. Kalo gak salah yg saya pesen adalah chicken Kapsa, Habshi pesen chicken Hanith, dan Dr Ahmad pesen grilled chicken. Standar masakan Arab, nasinya itu dimasak dengan minyak yg bau dan rasanya khas banget. Yg gak nahan, porsinya itu lho… banyak banget. Udahlah ukuran piringnya besar dan berbentuk elips, shg lebih panjang dari piring bunder, nasinya menggunung pula. Itu porsi mestinya buat 2 atau 3 orang. Jelas saya gak bisa ngabisin makanan sebanyak itu. Saya cuma makan separo, sisanya dibawa pulang. Tapi Dr Ahmad dan Habshi abis lho! Hebat ya mereka. Kebetulan Dr Ahmad hari itu puasa, Syawalan, jadi beliau emang ngaku, laper. Sedangkan Habshi, mungkin emang udah biasa makan dengan porsi segitu. Saya bilang ke mereka, kalau di Indonesia, kita bisa pesen porsi nasi setengah. Sebab gak semua orang makannya banyak. Sementara kalo kita beli makanan kebanyakan, akhirnya makanannya jadi terbuang, mubazir. Uang kita pun terbuang percuma utk membayar makanan yg gak dimakan. Di restoran ini gak ada tuh budaya beli makan porsi separo, hehe… Kali dianggap aneh kalo kita melakukannya.

OK. Hari ini Habshi sudah menjadi bos utk saya dan Dr Ahmad. Tinggal saya nih, yg belum kesampean jadi bos ngajak makan Dr Ahmad dan Habshi. Waktu itu sehari setelah viva, sebenernya saya pengen ngajakin Dr Ahmad dan Habshi lunch bareng, sekalian merayakan kelulusan viva saya. Tapi Dr Ahmad sibuk ikutan workshop di KL selama seminggu. Kayaknya rencana itu harus segera dilaksanakan secepatnya, selagi saya masih di Malaysia, sekalian sbg farewell party.

Idul Fitri 1429 H

October 3rd, 2008

Ada beberapa hal yg istimewa dan berkesan dalam lebaran kali ini. Pertama, beberapa hari sebelum masuk bulan Ramadhan, saya baru saja melewati viva Master saya yg alhamdulillah sukses, sehingga saya bisa menjalani ibadah puasa di bulan Ramadhan dengan tenang dan lega. Kedua, untuk pertama kalinya setelah sekian tahun saya berhasil puasa sebulan penuh, gak bocor sama sekali. Dan pas hari raya pun bisa ikutan sholah juga. Ini krn tepat sehari sebelum Ramadhan, saya baru aja selesai period dan kebetulan siklus period saya lebih dari 30 hari. Alhamdulillah, jadi saya gak punya utang puasa utk tahun ini.

Hal ketiga sebenernya merupakan hal yg menyedihkan. Seminggu sebelum saya viva (Selasa, 19 Ags ‘08), om saya, Syamsil Ajirismandiar, atau yg biasa kita panggil dengan om Cacam, meninggal dunia krn sakit. Tiga hari sebelum lebaran, kita mengadakan tahlil peringatan 40 hari meninggalnya beliau. Saat acara kumpul² keluarga pas hari raya, terasa ada yg hilang dari kami, krn om Cacam ini yg biasanya paling membuat rame suasana. Orangnya lucu abis. Sedih memang, 2 om saya sudah pergi mendahului kami. Om Mindra dan om Cacam. Sekarang saya hanya punya satu om dari pihak ibu, om Azir. Mesti disayang-sayang nih.

Hal terakhir adalah hal paling membahagiakan buat saya. Tepat pada hari Idul Fitri, 1 Okt ‘08, paper saya di IJGIS akhirnya diterima, setelah 3 kali submission. Alhamdulillah… ini pertama kalinya saya nulis paper ilmiah, ke jurnal internasional, dalam bhs inggris pula. Ternyata bisa diterima. Gak percuma saya selama bulan Ramadhan ini selalu berdoa sehabis sholat, supaya paper saya ini bisa diterima sebelum saya lulus. Trimakasih Tuhan, telah kau kabulkan doaku. Tinggal satu paper lagi nih yg blm ada kabar. Moga-moga hasilnya juga positif. Kalo urusan perbaikan thesis nanti dah beres, saya berencana akan menulis satu paper lagi, dan mempublishnya ke jurnal lain. Pokoknya, dalam research master ini, saya mentargetkan bisa mempublish 3 paper ke jurnal internasional. Semoga bisa tercapai.

Paper Suitability Submitted

September 13th, 2008

Selasa, 16 Sep ‘08. Paper yg satu ini sudah tertunda lama sekali submissionnya. Sebenernya ini adalah paper pertama saya yg saya kasih ke Dr Ahmad utk beliau review, setelah beliau mengembalikan first draft thesis saya. Jadi, sudah dari bulan Februari lalu. Waktu itu saya gak mau langsung submit krn Dr Ahmad minta saya mensubmit paper tsb ke jurnal internasional, sedangkan saya pengen ke jurnal lokal aja. Nah, krn utk dikirim ke jurnal internasional, saya pengen meng-improve lagi paper tsb supaya lebih memenuhi standar jurnal internasional. Dr Noordin dan Dr Rashid juga sudah mereview paper saya ini. Review dari Dr Rashid yg paling banyak memerlukan perbaikan, dan beliau mengembalikan review tsb paling belakangan. Masalahnya, krn akhir Juni itu saya keburu mendapatkan respon dari paper MSAP, akhirnya selama 5 minggu saya sibuk ngerjain perbaikan utk paper MSAP itu. Kebetulan komentar dari reviewer paper MSAP itu pun banyak yg berkaitan dengan paper Suitability ini. Jadi saya pun harus melakukan koreksi thd paper tsb. Setelah resubmit paper MSAP, saya masih belum bisa langsung memperbaiki paper Suitability krn sibuk latihan nari utk acara International Student Carnival di Sunway College, ditambah kesibukan persiapan mengajar AutoCAD. Sampai akhirnya keburu viva. Baru setelah viva, saya bisa ngerjain lagi paper ini dengan konsen, sampe tuntas hari ini.

Paper ini saya rombak total. Pokoknya isinya sudah banyak berubah dari versi yg dibaca oleh Dr Ahmad, Dr Noordin dan Dr Rashid. Di antara mereka bertiga, komentar dari Dr Rashid lah yg paling banyak berkontribusi mengimprove tulisan saya. Dalam versi yg dibaca Dr Rashid, saya sudah menentukan shape dan size geometric figure yg ideal utk tessellation. Jadi saya tidak lagi melakukan perbandingan antara shape dan size geometric figure yg berbeda. Juga, di paper ini saya sudah merumuskan 4 hal yg harus diperhatikan dalam menerapkan tessellation utk pemilihan candidate site, yaitu: 1) satu geometri figure tidak boleh mengandung terlalu banyak best points; 2) best point dalam dua geometri yg bersebelahan tidak boleh terlalu dekat; 3) best point tidak boleh berada terlalu ke pinggir study area; 4) best point tidak boleh bertepatan dengan existing facility. Dr Rashid lalu berkomentar, gimana saya mengimplementasikan keempat hal ini dalam penelitian saya?

Supaya penelitian dalam paper ini lebih kompleks shg memenuhi standar jurnal internasional, saya pun melakukan perbandingan antara size geometric figure yg berbeda (hexagon dan square) dan size yg berbeda (radius 1000 m dan 1500 m). Dengan demikian ada 4 simulasi yg dilakukan. Algoritma utk proses optimisasi hanya 1, krn yg menjadi fokus penelitian ini memang bukan membandingkan result antar algoritma, melainkan mengkaji bagaimana konfigurasi shape dan size geometric figure yg berbeda bisa mempengaruhi sebaran candidate site, yg pada gilirannya akan mempengaruhi output lokasi optimal dalam proses optimisasi. Sama spt di thesis, saya pun melakukan preliminary test utk menguji apakah ada isu² yg membuat metode yg diusulkan tidak berjalan sebagaimana yg diharapkan. Tentu saja aja. Lalu diperkenalkanlah langkah² utk menyelesaikan dan menghindari isu² tsb supaya kita bisa mendapatkan candidate site yg menyebar di seluruh study area. Di kesimpulan, baru saya keluarkan 4 hal yg perlu diperhatikan tadi. Jadi, memenuhi pertanyaan Dr Rashid, saya melakukan simulasi² dulu utk menerapkan metode pemilihan lokasi yg saya usulkan. Empat hal yg dikemukakan tadi merupakan perumusan berdasarkan results dan findings yg diperoleh, bukannya didesain sejak awal.

Terus terang saya merasa penulisan paper Suitability ini agak sedikit berantakan. Tapi saya juga udah capek mau ngedit² lagi. Mau minta tolong Dr Ahmad atau Dr Noordin meriksa lagi, duh, nanti lama lagi saya harus nungguin mereka selesai baca. Tambah telah aja deh submissionnya. Ya sudahlah, akhirnya paper itu saya kirimkan apa adanya. Biarlah, toh nanti para reviewer juga akan memberi komentar. Saya bisa melakukan perbaikan setelah ada komentar dari reviewer, sekalian mengakomodir komentar mereka. Lebih efisien kan?

No Woman Pictures

September 9th, 2008

Ada temen saya, cowok, orang Jordan, selama kuliah di UPM ini dia rajin bawa kamera dan ngambil foto di acara² yg kebetulan saya juga ikutan. Udah lama saya minta ke dia utk ngasih foto² tsb ke saya, tapi gak dikasih juga. Bukan apa², dia sendiri pusing nyariin dimana dia nyimpen file foto² tsb. Akhirnya saya usulkan, saya aja deh yg nyari sendiri foto² itu di harddisk dia. Sebenernya gak susah kan, kita tinggal search file berekstensi jpg di komputer dia, pasti ketemu.

Kemaren saya udah ngubek² hard disk dia, dan dapet semua foto yg dimaksud. Tapi ada hal lain yg menarik, saya sama sekali gak menemukan ‘foto cewek’ dalam hard disk temen saya itu! Ini hard disk cowok gitu lho. Jaman kuliah dulu, temen² cowok saya, disketnya aja penuh dengan foto cewek, apalagi hard disk. Gak cuma foto kali, tapi juga video. Hihi… emang beda ya cowok Jordan dengan cowok Indonesia. Untungnya, saya baru belakangan inget, bhw cowok tuh biasa menyimpan ‘foto cewek’ di dalam harddisknya. Kalo inget duluan, pasti saya akan sungkan utk ngubek² isi harddisk temen saya itu. Gak dapet deh koleksi foto dia.

BTW, dia saya kasih liat foto² saya dan temen² jaman kuliah dulu. Dia keliatan interest sekali dengan profil mahasiswa-mahasiswi di Indonesia. Dia bilang, kalo saja dia hidup di Indonesia, pasti akan lebih menyenangkan. Entah apa maksudnya. Mungkin dia gak begitu suka dengan gaya hidup orang² di negaranya sendiri. Setelah melihat foto² saya dan temen² kuliah itu, dia jadi bersemangat banget utk mengunjungi Indonesia.

Revise Paper MSAP

September 7th, 2008

Kamis, 4 Sep ‘08. Tgl 23 Ags lalu, saya sudah menerima decision letter dari IJGIS atas resubmission paper MSAP saya. Kali ini editor tidak menyuruh saya utk resubmit, hanya ada perintah revise menurut komentar para reviewer. Gak banyak revisi yg perlu dilakukan. Sepertinya Reviewer 1 orangnya tetep, sementara Reviewer 2 ganti, sebab commentnya baru. Reviewer 1 menyarankan saya utk kembali memasukkan algoritma lama, dan dicompare bareng² dgn algoritma baru, krn performance kedua algoritma lama tsb sangat kompetitif. Revisi lainnya cuma minor aja, seperti gambar² contoh service area susunannya mesti disesuaikan dengan uraian dalam text, nama dan tahun referensi ada yg salah, satu referensi gak ada di list, term optimum dan maximum mestinya optimal dan maximal, kemudian beberapa typo dan grammar correction. Reviewer 2 minta saya lebih memperjelas MCDM process utk memperoleh 63 candidate sites. Utk Genetic Algorithm, dia minta supaya saya menuliskan formula utk encoding dan fitness function secara explicit. Dia juga minta saya mengemukakan di bagian Conclusion mengenai kemungkinan digunakannya metode saya utk multi-objective problem. Komentar minor beliau, skala peta gak ada, judul gambar disuruh diperbaiki lebih bagus lagi.

Setelah viva, saya sempet vacuum gak ngerjain urusan kuliah selama seminggu. Tarik napas dulu dong, menenangkan diri. Shock berat nih abis melewati viva yg menegangkan :) . Seperti biasa, hiburan saya di saat santai adalah menonton serial drama Korea. Setelah puas istirahat, baru saya mulai membuka kembali paper saya, dan melakukan revisi. Kalo dikerjain mah, revisi ini, 2 hari beres!

Saya menggunakan fitur Track Changes di Ms Word. Krn editor sangat mewanti-wanti saya utk tidak membuat paper saya lebih panjang dari yg skarang, maka beberapa komentar dari para reviewer dengan terpaksa tidak saya penuhi. Lagipula beberapa di antaranya memang saya gak setuju. Sebenernya saya agak khawatir juga gak mengikuti saran dari reviewer. Tapi di pihak lain, saya gak bisa memenuhi saran mereka tanpa membuat paper saya menjadi lebih panjang. Saya sempet konsultasi ke Dr Noordin soal ini. Dia bilang sih, gak apa² kita gak ngikutin saran reviewer, asal kita bisa ngasih argumen yg kuat ke editor. Saya sibuk berpikir, gimana yah bikin argumen yg diplomatis dan bijaksana, serta tidak terkesan sok lebih bener dari reviewer. Akhirnya saya tulis spt ini, Basically we have no objection to the comments from reviewers. But since we must tighten our manuscript, we consider strictly the urgency of adding more material in response to the reviewers’ comments. As a result, some changes are made and other changes are not made.

Untuk setiap saran yg gak saya penuhi, saya pun kasih argumen yg lebih spesifik dan detil kenapa saya merasa saran tsb tidak perlu saya ikuti. Semoga aja, sang editor bisa menerima argumen saya. Sebelum klik tombol submit, saya baca Bismillah dulu. Ya Tuhan, mudah²an skarang paper saya bisa Accepted for publication.