I'm Vini Indriasari, an Indonesian. From Dec '06 till Dec '08, I took master degree in GIS & Geomatic Engineering at Universiti Putra Malaysia (UPM). This blog is telling about my experiences during my days in UPM. "Tutup Buku" (Closing the Book) is the entry in this blog that marks the end of my story as a UPM student. I'd been back in my home country by the time I posted it. I keep a few entries for myself by setting them as private, but I share the rest for others. Thanks to ERJ who has suggested and facilitated me to create this blog.

Thesis Corrections

October 29th, 2008

Sebenernya perbaikan thesis yg perlu saya lakukan gak banyak, namanya juga minor correction. Tapi saya membuat koreksi lebih dari yg diminta. Saya baru mulai ngerjain perbaikan pas udah balik ke Jkt. Eh, sebelumnya dah sempet searching literature sih, krn saya harus menambah literature review tentang location-allocation problems. Ini permintaan Prof Ruslan. Sebenernya saya agak bingung juga, thesis saya tentang location modeling, dan saya sudah melakukan literature review beberapa model yg ada, seperti PMP, PCP, LSCP, MCLP, MECP dll. Jadi, review gimana lagi yg beliau mau? Tapi akhirnya bisa juga saya laksanakan. Saya ngereview location-allocation dari segi aplikasi. Jadi bukan ngebahas model empiris spt PMP, PCP dan sebagainya itu, melainkan lebih kpd contoh real problem, dan gimana GIS dapat dimanfaatkan utk menyelesaikan problem tsb. Tambahan literature review ini saya sisipkan sbg subsection dari section tentang GIS dan Location Science.

Kritikan examiner lainnya yg perlu saya koreksi adalah perbedaan ukuran hexagon dan square utk tessellation dan ukuran grid raster utk pemilihan candidate site. Kelihatannya sih ini perkara remeh, padahal sebenernya ini pekerjaan besar! Mengganti ukuran figure dan grid raster berarti menghasilkan set candidate site yg berbeda. Krn set candidate site menjadi input utk proses optimisasi, maka saya harus mengulang proses optimisasi. Otomatis output akhir juga akan berbeda. Diskusi result serta conclusion pun berubah. Gambar peta, grafik, dan tabel juga perlu diupdate sesuai output yg baru. Kalau dipikir-pikir, sebenernya yg saya kerjain ini minor atau major correction sih? :) Tapi saya seneng. Krn ukuran figure dan grid raster diseragamkan, gak terlalu banyak parameter yg saya bandingkan. Penelitian saya jadi lebih simpel, result yg perlu dianalisis pun lebih sedikit. Saya juga gak perlu lagi menyebut-nyebut Sensitivity Analysis, krn gak ada parameter yg diubah-ubah. Semuanya udah fixed diset dari awal.

Section terakhir dari Chapter 2 saya reorganize lagi. Bagian yg mendiskusikan kriteria site suitability evaluation utk pemadam kebakaran saya pindahin ke Chapter 3. Waktu awal² dulu, bagian ini memang udah saya bikin di Chapter 3. Tapi krn dalam penyusunan kriteria itu saya masih menggunakan literature, menurut Dr Rashid, itu semestinya masuk Chapter 2. Chapter 3 haruslah murni mendeskripsikan metode kita. Tapi menurut saya, utk kasus ini, meskipun saya masih menyebutkan literature, saya tidak melakukan review. Saya mendesain sendiri kriteria pemilihan lokasi pemadam kebakaran, tapi mengadopsi dari beberapa sumber. Jadi literature tsb hanya menjadi bahan rujukan. Lagipula pemadam kebakaran itu hanya contoh utk simulasi model yg saya kembangkan, jadi kurang cocok kalo kriteria lokasinya ditaro di literature review. Sebab pemilihan pemadam kebakaran utk simulasi itu sendiri baru disinggung di Chapter 3.

Diskusi tentang kriteria pemilihan heuristic saya pindahin ke section lain yg mereview tentang heuristic. Dengan demikian, section terakhir dari Chapter 2 ini hilang. Tapi sebagai gantinya, saya membuat satu section summary. Summary ini juga saya buat di Chapter 3 dan Chapter 4, sesuai saran dari salah satu examiner. Penjelasan tentang Nearest-neighbor analysis, yg semula di Chapter 4, saya pindahin ke Chapter 3, krn salah satu examiner berkomentar bhw sebagian metodologi masih ada di Chapter 4, padahal itu semestinya ada di Chapter 3. Saya gak tau metodologi mana yg dimaksud. Mungkin yg nearest-neighbor ini termasuk.

Peta² di bagian lampiran saya update kembali krn saya harus menyertakan skala dan kompas. Output optimal site gak lagi saya muat di lampiran, melainkan saya masukkan di Chapter 4. Sebab saya bukan hanya menampilkan result terbaik dari 4 eksperimen yg dilakukan (2 heuristic thd 2 dataset), melainkan result seluruh eksperimen. Ini karena salah satu examiner (yg saya duga adalah Prod Ruslan) meminta saya melakukan analisis dan presentasi coverage secara spatial, bukan hanya dari segi persentase coverage. Beliau pun meminta saya menunjukkan secara spatial area yg memperoleh tambahan dan pengurangan coverage. Biar gak ngabisin halaman, 4 peta coverage tsb saya bikin dalam satu halaman. Yup, ukurannya kecil² emang. Tapi so what? Emang gak perlu gede² kok. Jadi saya nambahin satu section di Chapter 4 yg khusus secara spatial mendiskusikan coverage dan sebaran lokasi pemadam kebakaran hasil eksperimen. Jumlah peta dalam lampiran pun berkurang. Padahal peta coverage existing akhirnya saya pindahin juga ke lampiran, biar semua peta ngumpul di situ.

Lalu saya memperbaiki Chapter 1. Bukan hanya problem statement dan objective, tapi saya juga merewrite kembali background, study scope dan thesis organization. Ya, sebab memang ada perubahan di beberapa chapter. Otomatis uraian thesis organizationnya juga mesti diupdate. Background saya update kembali sesuai dengan background di paper MSAP yg saya kirim ke IJGIS. Demikian pula problem statement. Utk objective, saya diminta menyesuaikan objective study dengan perubahan judul thesis yg disarankan. Akhirnya saya buat objective study saya hanya satu, yaitu membangun model lokasi emergency facilities, dengan mengintegrasikan GIS di dalamnya. Objective² lainnya saya pindahin jadi study scope. Sebab dipikir-pikir itu memang bukan objective study, melainkan prosedur kerja yg umum dilakukan dalam study tentang location modeling, jadi lebih cocok dimasukkan sbg study scope. Setelah direwrite, saya merasa Chapter 1 yg sekarang ini jauh lebih tepat. Problem statement, objective dan study scopenya lebih mencerminkan penelitian saya yg sebenernya. Oya, koreksi dari para reviewer paper MSAP mengenai kesalahan penggunaan beberapa terminologi dalam optimization theory juga saya lakukan utk thesis ini.

Sampai di sini, saya udah keburu harus kembali ke UPM. Jadi perbaikan selanjutnya saya lakukan di UPM. Tinggal dikit lagi sih, cuma rewrite abstrak dan perbaiki peta study area. Abstract dibuat dengan mengikutsertakan sedikit problem statement, alasan perlunya dilakukan study, objective study dan lebih banyak ringkasan result. Peta study area saya pindahin ke Chapter 3, di section tentang study area. Hari Kamis, sehari setelah saya nyampe ke UPM, dari subuh langsung saya kerjain dua hal ini. Setelah beres, maka perbaikan pun selesai. Tinggal saya mengupdate daftar isi, daftar tabel, daftar gambar, bikin daftar lampiran dan daftar publikasi. Hehe… setelah ada paper yg diaccept, saya dah bisa bikin daftar publikasi nih skarang. ;) Sengaja saya menyelesaikan semuanya pagi², sebab saya mau menemui Dr Ahmad hari itu juga, sekalian mau numpang ngeprint halaman berwarna pake printer beliau. Jadi semua gambar yg perlu diprint berwarna harus udah siap, termasuk peta study area itu. Syukur Dr Ahmad pagi itu ada di ruangannya. Saya bawain oleh² kue kastengel bikinan saya sendiri utk beliau. Saya minta bantuan beliau utk mengoreksi abstrak versi bahasa Melayu yg saya bikin pake bahasa Indonesia, hehe… Ternyata banyak perbedaannya. Misalnya, “sebuah metode” diganti jadi “satu kaedah”; “persentase” jadi “peratusan”; “solusi” jadi “penyelesaian”, dll. Target numpang ngeprint halaman berwarna gak kesampean krn printer Dr Ahmad bermasalah. Saya pun gak punya driver printer tsb di laptop saya. Krn gak enak kelamaan ngeganggu Dr Ahmad, saya ngeprint di rental aja deh. Toh cuma satu exp yg perlu disubmit.

Koreksi thesis ini disertai dengan approval form yg harus ditanda-tangan oleh kedua internal examiner, chairman examiner dan chairman supervisor, serta form pengesahan dari Bendahari dan Perpus yg menyatakan bhw kita udah gak ada utang apa² lagi dengan pihak univ, dan gak ada buku yg belum dikembalikan ke perpus. Kamis sore (16 Okt ‘08), saya sudah ke Bendahari dan Perpus utk minta pengesahan ini. Hari Jumat (17 Okt ‘08), saya ke fakulti Environment utk mencari internal examiner saya, Dr Firuz Ramli, yg gak hadir di viva saya. Saya sempet nyasar krn rupanya fakulti ini pindah ke gedung bekas fakulti Medik lama. Sebenernya saya cuma mau ngecek, Dr Firuz ini ada apa gak di UPM. Sebab menurut info di situs fakulti Environment, Dr Firuz sedang cuti sabbatical leave. Ternyata beliau ada di UPM, cuma saat itu sedang ada acara di fakulti. Ya sudah, yg penting saya dah tau beliau ada, dan tau ruangannya dimana. Hari Senin bisa saya coba cari lagi. Saya juga sempet ngirim email ke beliau. Ternyata email saya sudah dibalas dan beliau mempersilakan saya dateng hari Senin sore (20 Okt ‘08), krn pagi beliau ikut konvo, siang ada presentasi dengan student² postgrad. Syukurlah, jadi pagi hari saya ke fakulti Engineering dulu utk nyari Prof Amin. Tapi gak berhasil. Beberapa kali saya dateng ke ruangannya, beliau gak ada. Akhirnya saya telepon beliau. Ternyata beliau sedang ada di Bangkok, dan baru balik hari Senin (27 Okt ‘08) depan! Aduh… padahal deadline submit perbaikan thesis ini hari Sabtu ini (25 Okt ‘08). Mana Prof Bujang sbg chairman gak mau menanda-tangan form approval saya sebelum seluruh examiner menanda-tangan. Hari Jumat sebelumnya (17 Okt ‘08), setelah dari fakulti Environment, saya dah sempet menjumpai beliau, dan beliau bilang chairman examiner haruslah menjadi the last person yg menanda-tangan form tsb. Prof Amin menyarankan saya utk meminta Prof Desa Ahmad, ketua departemen beliau, utk mewakili beliau menanda-tangan form saya. Tapi Prof Desa menolak. Katanya, yg lebih tepat melakukan itu adalah chairman examiner saya, bukan dia. Sementara waktu saya bilang soal kepergian Prof Amin ini ke Prof Bujang, beliau malah nyuruh saya mengajukan permohonan extension utk submit perbaikan, supaya saya bisa nunggu sampe Prof Amin balik. Rupanya, di saat² terakhir saya di UPM, saya masih harus mengalami kejadian² spt ini. Tapi saya udah gak bisa marah dan kesel. Mungkin memang harus begini lah skenarionya. Lagipula, saya introspeksi diri aja, saya juga salah. Hari Jumat itu, saya dateng ke fakulti dah sore banget. Coba kalo saya dateng lebih pagi, mungkin masih bisa ketemu Prof Amin. Rencana ketemu Dr Firuz sendiri sukses. Saya dateng ke ruangan beliau tepat jam 5 sore. On time. Ternyata waktu itu beliau gak dateng ke viva saya krn sedang ikut pelatihan GIS di UI Depok! Oalah… malah sedang beredar di deket rumah saya toh, hihihi…

Krn koreksi udah selesai, gak ada apa² lagi yg perlu saya kerjain selama menunggu Prof Amin. Saya pun iseng ngutak-ngatik kembali gambar² peta. Entah kenapa saya ngerasa gak puas dengan gambar peta² di thesis. Krn gambar² tsb berupa image, pas diprint hasilnya gak bagus, resolusinya buruk sekali. Saya berpikir, gimana ya membuat gambar vector dari peta² tsb, supaya pas diprint tajem gitu. Eh, ternyata baru sekarang saya tau, layout peta di ArcGIS itu bisa diconvert dalam format EMF. Wah, tau gitu dari dulu aja saya ngelayout peta di situ. Ya, selama ini gambar peta selalu saya capture sbg screenshot, lalu semua diedit di Photoshop atau Visio. Saya memang belum pernah ngelayout peta di ArcGIS. Make ArcGIS juga baru pas kuliah di UPM ini aja kok. Sebelumnya kan saya masih pake ArcView 3.X. Makanya, masih belum familiar dgn fitur² layout di ArcGIS. Kini selagi ada waktu lapang, saya punya kesempatan mengexplore fitur² layout tsb. Wow, ternyata jauh lebih canggih daripada ArcView (ya iyalah, versinya lebih baru gitu lho). Pembuatan legend, scale bar dan kompas jauh lebih fleksibel dan banyak pilihan. Saya akhirnya bisa melaksanakan keinginan saya utk menampilkan graticule di semua peta. Krn gambar layout tsb bisa di-convert ke EMF, saya pun berhasil mendapatkan gambar vector utk gambar peta dan element² peta lainnya. Kalau diprint hasilnya cantik, tajem dan halus. Dengan semangat saya pun membuat layout utk semua peta di ArcGIS. Bukan hanya peta² besar yg di lampiran, bahkan peta² kecil utk presentasi result pun saya layout di ArcGIS. Kalau presentasi result peta ini disertai dengan screenshot tabel dan text penjelasan, saya buat layoutnya di Ms Word langsung. Ujung²nya semua figure di Chapter 4 gak ada lagi yg saya bikin dengan Visio.

Hari Selasa (28 Okt) baru saya bisa menemui Prof Amin, krn hari Seninnya libur. Sebelum urusan submit koreksi thesis ini beres, saya merasa gak tenang. Gak sabar rasanya pengen cepet² dapetin tanda-tangan Prof Amin. Sebab setelah itu saya masih harus dapetin tanda-tangan Prof Bujang. Saya khawatir, gimana kalo beliau sedang on leave dan saya mesti nunggu beberapa hari lagi sampe beliau balik? Duh, ini udah telat banget. Kalo bulan Oktober ini saya gak submit ke GSO, bisa² nama saya gak masuk di rapat senat bulan Desember. Pagi hari jam 8.30, saya sudah berhasil menemui Prof Amin. Beliau pun memeriksa dengan teliti list of corrections yg saya buat, sebelum menanda-tangan form approval. Beres urusan dengan Prof Amin, langsung saya mendatangi ruang Prof Bujang. Beliau gak ada, di-SMS pun gak direply. Duh, jangan² yg saya khawatirkan bener² terjadi. Tapi saya gak mau putus asa dulu. Setengah jam sekali, saya bolak-balik ke ruangan Prof Bujang, ngecek kalau² beliau dah dateng. Ternyata gak sia² saya berbuat begitu. Jam 11.30, setelah entah yg ke-berapa kali saya dateng dan mengetuk pintu ruangan beliau, terdengar sahutan dari dalam, “Come in!” Wuaa… saya pun bersorak dalam hati. Hihi… udah kayak menang lotere aja. :P Rupanya beliau baru aja selesai menghadiri presentasi studentnya. Pantes gak ngebales SMS. Maka, berhasil lah hari itu saya mendapatkan tanda-tangan Prof Amin dan Prof Bujang. Rasanya puas juga bhw form approval saya betul² ditanda-tangan oleh orang² yg bersangkutan, gak diwakili orang lain.

Status studi saya sehari setelah submit perbaikan thesis

Setelah form approval lengkap ditanda-tangan, barulah saya merasa lega dan bisa rileks browsing² dulu di lab. Maunya langsung ke GSO utk submit, tapi tanggung siang itu dah hampir masuk waktu istirahat. Puas ngebrowsing, saya balik dulu ke kolej utk makan dan sholat Zuhur. Baru jam 3 sore saya pergi ke GSO utk submit koreksi thesis. Akhirnya, beres juga urusan submit koreksi thesis ini. Besoknya, pas saya cek student portal, status study saya sudah berubah menjadi “Completed”. Hore…!!! Dengan demikian saya betul² sudah tuntas menyelesaikan study saya.

Dinner Masakan Arab

October 25th, 2008

Jumat, 24 Okt ‘08. Udah lama Habshi pengen ngajak saya makan di restoran Arab, bersama Dr Ahmad. Saya bilang ke dia, kalau mau ngajak saya makan di restoran mesti buruan, soalnya gak banyak waktu tersisa buat saya di sini. So, hari ini rencana kita pun terlaksana. Kita berangkat dinner setelah sholat Maghrib, naek mobil Dr Ahmad. Kita makan di sebuah restoran Arab di daerah Cyberjaya, namanya Restoran Saba’.

Saya, Dr Ahmad dan Habshi

O iya, Habshi ini temen saya dari Yaman. Satu jurusan dengan saya dan sama² di bawah supervision Dr Ahmad. Lab kerja dia di sebelah lab kerja saya, jadi kita sering ngobrol² bareng dan diskusi soal penelitian kita masing². Waktu saya baru dateng, dia masih student master. Mulai semester ini dia udah jadi student PhD. Boleh dibilang, student Dr Ahmad yg udah lama kuliah di sini cuma kita berdua, yg laen rata² baru. Ditambah lagi, kita berdua sama² computer geek (tapi kadar ke-geek-an saya belum separah dia :P ), sehingga Dr Ahmad sering nyuruh kita ngisi kuliah beliau yg kebetulan tentang IT. Kita juga udah sering makan bertiga bareng Dr Ahmad. Biasanya sih Dr Ahmad yg traktir. Tapi kali ini, memang Habshi yg ngajak. So, dialah yg jadi Bos.

Sambel
Roti Khopez

Pelayan di Restoran Saba’ itu campur², ada orang Arab, India bahkan Indonesia. Tapi semua bisa bahasa Arab. Habshi sendiri komunikasi dengan mereka pake bhs Arab. Dr Ahmad, Habshi dan saya, masing² pesen makanan yg berbeda. Kita beli roti Khopez, Hummus dan garlic sauces utk dimakan bareng². Buat per orangnya, semuanya pesen nasi dan ayam. Saya gak begitu inget nama² makanannya. Kalo gak salah yg saya pesen adalah chicken Kapsa, Habshi pesen chicken Hanith, dan Dr Ahmad pesen grilled chicken. Standar masakan Arab, nasinya itu dimasak dengan minyak yg bau dan rasanya khas banget. Yg gak nahan, porsinya itu lho… banyak banget. Udahlah ukuran piringnya besar dan berbentuk elips, shg lebih panjang dari piring bunder, nasinya menggunung pula. Itu porsi mestinya buat 2 atau 3 orang. Jelas saya gak bisa ngabisin makanan sebanyak itu. Saya cuma makan separo, sisanya dibawa pulang. Tapi Dr Ahmad dan Habshi abis lho! Hebat ya mereka. Kebetulan Dr Ahmad hari itu puasa, Syawalan, jadi beliau emang ngaku, laper. Sedangkan Habshi, mungkin emang udah biasa makan dengan porsi segitu. Saya bilang ke mereka, kalau di Indonesia, kita bisa pesen porsi nasi setengah. Sebab gak semua orang makannya banyak. Sementara kalo kita beli makanan kebanyakan, akhirnya makanannya jadi terbuang, mubazir. Uang kita pun terbuang percuma utk membayar makanan yg gak dimakan. Di restoran ini gak ada tuh budaya beli makan porsi separo, hehe… Kali dianggap aneh kalo kita melakukannya.

Ini loh yg namanya “Hummus”
Makanan saya - chicken Kapsa
Makanan Habshi - chicken Hanith

OK. Hari ini Habshi sudah menjadi bos utk saya dan Dr Ahmad. Tinggal saya nih, yg belum kesampean jadi bos ngajak makan Dr Ahmad dan Habshi. Waktu itu sehari setelah viva, sebenernya saya pengen ngajakin Dr Ahmad dan Habshi lunch bareng, sekalian merayakan kelulusan viva saya. Tapi Dr Ahmad sibuk ikutan workshop di KL selama seminggu. Kayaknya rencana itu harus segera dilaksanakan secepatnya, selagi saya masih di Malaysia, sekalian sbg farewell party.

Ultah Winda

October 22nd, 2008

Selasa, 21 Okt ‘08. Winda merayakan ultahnya yg ke-26. Ini adalah ultahnya yg pertama sejak ia menikah bulan Juli lalu. Pesta diadakan di kamar Sandra. Gak tau juga kenapa Winda gak ngadain di kamarnya sendiri. Tapi kamar Sandra emang yg paling sering jadi tempat ngumpul kita. Peserta yg hadir, ada Indah, Riri, Erra, Ayu, Rahmi, saya dan Winda sendiri tentunya. Seperti biasa, kita pesen delivery McD dan kue ulang tahun. Paket McD, tentu saja yg empunya hajatan yg mentraktir. Sementara kue, kita lah yg patungan membelikan kue utk yg berulang-tahun. Happy birthday, Winda!

Idul Fitri 1429 H

October 3rd, 2008

Ada beberapa hal yg istimewa dan berkesan dalam lebaran kali ini. Pertama, beberapa hari sebelum masuk bulan Ramadhan, saya baru saja melewati viva Master saya yg alhamdulillah sukses, sehingga saya bisa menjalani ibadah puasa di bulan Ramadhan dengan tenang dan lega. Kedua, untuk pertama kalinya setelah sekian tahun saya berhasil puasa sebulan penuh, gak bocor sama sekali. Dan pas hari raya pun bisa ikutan sholah juga. Ini krn tepat sehari sebelum Ramadhan, saya baru aja selesai period dan kebetulan siklus period saya lebih dari 30 hari. Alhamdulillah, jadi saya gak punya utang puasa utk tahun ini.

Hal ketiga sebenernya merupakan hal yg menyedihkan. Seminggu sebelum saya viva (Selasa, 19 Ags ‘08), om saya, Syamsil Ajirismandiar, atau yg biasa kita panggil dengan om Cacam, meninggal dunia krn sakit. Tiga hari sebelum lebaran, kita mengadakan tahlil peringatan 40 hari meninggalnya beliau. Saat acara kumpul² keluarga pas hari raya, terasa ada yg hilang dari kami, krn om Cacam ini yg biasanya paling membuat rame suasana. Orangnya lucu abis. Sedih memang, 2 om saya sudah pergi mendahului kami. Om Mindra dan om Cacam. Sekarang saya hanya punya satu om dari pihak ibu, om Azir. Mesti disayang-sayang nih.

Hal terakhir adalah hal paling membahagiakan buat saya. Tepat pada hari Idul Fitri, 1 Okt ‘08, paper saya di IJGIS akhirnya diterima, setelah 3 kali submission. Alhamdulillah… ini pertama kalinya saya nulis paper ilmiah, ke jurnal internasional, dalam bhs inggris pula. Ternyata bisa diterima. Gak percuma saya selama bulan Ramadhan ini selalu berdoa sehabis sholat, supaya paper saya ini bisa diterima sebelum saya lulus. Trimakasih Tuhan, telah kau kabulkan doaku. Tinggal satu paper lagi nih yg blm ada kabar. Moga-moga hasilnya juga positif. Kalo urusan perbaikan thesis nanti dah beres, saya berencana akan menulis satu paper lagi, dan mempublishnya ke jurnal lain. Pokoknya, dalam research master ini, saya mentargetkan bisa mempublish 3 paper ke jurnal internasional. Semoga bisa tercapai.

Paper Suitability Submitted

September 13th, 2008

Selasa, 16 Sep ‘08. Paper yg satu ini sudah tertunda lama sekali submissionnya. Sebenernya ini adalah paper pertama saya yg saya kasih ke Dr Ahmad utk beliau review, setelah beliau mengembalikan first draft thesis saya. Jadi, sudah dari bulan Februari lalu. Waktu itu saya gak mau langsung submit krn Dr Ahmad minta saya mensubmit paper tsb ke jurnal internasional, sedangkan saya pengen ke jurnal lokal aja. Nah, krn utk dikirim ke jurnal internasional, saya pengen meng-improve lagi paper tsb supaya lebih memenuhi standar jurnal internasional. Dr Noordin dan Dr Rashid juga sudah mereview paper saya ini. Review dari Dr Rashid yg paling banyak memerlukan perbaikan, dan beliau mengembalikan review tsb paling belakangan. Masalahnya, krn akhir Juni itu saya keburu mendapatkan respon dari paper MSAP, akhirnya selama 5 minggu saya sibuk ngerjain perbaikan utk paper MSAP itu. Kebetulan komentar dari reviewer paper MSAP itu pun banyak yg berkaitan dengan paper Suitability ini. Jadi saya pun harus melakukan koreksi thd paper tsb. Setelah resubmit paper MSAP, saya masih belum bisa langsung memperbaiki paper Suitability krn sibuk latihan nari utk acara International Student Carnival di Sunway College, ditambah kesibukan persiapan mengajar AutoCAD. Sampai akhirnya keburu viva. Baru setelah viva, saya bisa ngerjain lagi paper ini dengan konsen, sampe tuntas hari ini.

Paper ini saya rombak total. Pokoknya isinya sudah banyak berubah dari versi yg dibaca oleh Dr Ahmad, Dr Noordin dan Dr Rashid. Di antara mereka bertiga, komentar dari Dr Rashid lah yg paling banyak berkontribusi mengimprove tulisan saya. Dalam versi yg dibaca Dr Rashid, saya sudah menentukan shape dan size geometric figure yg ideal utk tessellation. Jadi saya tidak lagi melakukan perbandingan antara shape dan size geometric figure yg berbeda. Juga, di paper ini saya sudah merumuskan 4 hal yg harus diperhatikan dalam menerapkan tessellation utk pemilihan candidate site, yaitu: 1) satu geometri figure tidak boleh mengandung terlalu banyak best points; 2) best point dalam dua geometri yg bersebelahan tidak boleh terlalu dekat; 3) best point tidak boleh berada terlalu ke pinggir study area; 4) best point tidak boleh bertepatan dengan existing facility. Dr Rashid lalu berkomentar, gimana saya mengimplementasikan keempat hal ini dalam penelitian saya?

Supaya penelitian dalam paper ini lebih kompleks shg memenuhi standar jurnal internasional, saya pun melakukan perbandingan antara size geometric figure yg berbeda (hexagon dan square) dan size yg berbeda (radius 1000 m dan 1500 m). Dengan demikian ada 4 simulasi yg dilakukan. Algoritma utk proses optimisasi hanya 1, krn yg menjadi fokus penelitian ini memang bukan membandingkan result antar algoritma, melainkan mengkaji bagaimana konfigurasi shape dan size geometric figure yg berbeda bisa mempengaruhi sebaran candidate site, yg pada gilirannya akan mempengaruhi output lokasi optimal dalam proses optimisasi. Sama spt di thesis, saya pun melakukan preliminary test utk menguji apakah ada isu² yg membuat metode yg diusulkan tidak berjalan sebagaimana yg diharapkan. Tentu saja aja. Lalu diperkenalkanlah langkah² utk menyelesaikan dan menghindari isu² tsb supaya kita bisa mendapatkan candidate site yg menyebar di seluruh study area. Di kesimpulan, baru saya keluarkan 4 hal yg perlu diperhatikan tadi. Jadi, memenuhi pertanyaan Dr Rashid, saya melakukan simulasi² dulu utk menerapkan metode pemilihan lokasi yg saya usulkan. Empat hal yg dikemukakan tadi merupakan perumusan berdasarkan results dan findings yg diperoleh, bukannya didesain sejak awal.

Terus terang saya merasa penulisan paper Suitability ini agak sedikit berantakan. Tapi saya juga udah capek mau ngedit² lagi. Mau minta tolong Dr Ahmad atau Dr Noordin meriksa lagi, duh, nanti lama lagi saya harus nungguin mereka selesai baca. Tambah telah aja deh submissionnya. Ya sudahlah, akhirnya paper itu saya kirimkan apa adanya. Biarlah, toh nanti para reviewer juga akan memberi komentar. Saya bisa melakukan perbaikan setelah ada komentar dari reviewer, sekalian mengakomodir komentar mereka. Lebih efisien kan?

No Woman Pictures

September 9th, 2008

Ada temen saya, cowok, orang Jordan, selama kuliah di UPM ini dia rajin bawa kamera dan ngambil foto di acara² yg kebetulan saya juga ikutan. Udah lama saya minta ke dia utk ngasih foto² tsb ke saya, tapi gak dikasih juga. Bukan apa², dia sendiri pusing nyariin dimana dia nyimpen file foto² tsb. Akhirnya saya usulkan, saya aja deh yg nyari sendiri foto² itu di harddisk dia. Sebenernya gak susah kan, kita tinggal search file berekstensi jpg di komputer dia, pasti ketemu.

Kemaren saya udah ngubek² hard disk dia, dan dapet semua foto yg dimaksud. Tapi ada hal lain yg menarik, saya sama sekali gak menemukan ‘foto cewek’ dalam hard disk temen saya itu! Ini hard disk cowok gitu lho. Jaman kuliah dulu, temen² cowok saya, disketnya aja penuh dengan foto cewek, apalagi hard disk. Gak cuma foto kali, tapi juga video. Hihi… emang beda ya cowok Jordan dengan cowok Indonesia. Untungnya, saya baru belakangan inget, bhw cowok tuh biasa menyimpan ‘foto cewek’ di dalam harddisknya. Kalo inget duluan, pasti saya akan sungkan utk ngubek² isi harddisk temen saya itu. Gak dapet deh koleksi foto dia.

BTW, dia saya kasih liat foto² saya dan temen² jaman kuliah dulu. Dia keliatan interest sekali dengan profil mahasiswa-mahasiswi di Indonesia. Dia bilang, kalo saja dia hidup di Indonesia, pasti akan lebih menyenangkan. Entah apa maksudnya. Mungkin dia gak begitu suka dengan gaya hidup orang² di negaranya sendiri. Setelah melihat foto² saya dan temen² kuliah itu, dia jadi bersemangat banget utk mengunjungi Indonesia.

Revise Paper MSAP

September 7th, 2008

Kamis, 4 Sep ‘08. Tgl 23 Ags lalu, saya sudah menerima decision letter dari IJGIS atas resubmission paper MSAP saya. Kali ini editor tidak menyuruh saya utk resubmit, hanya ada perintah revise menurut komentar para reviewer. Gak banyak revisi yg perlu dilakukan. Sepertinya Reviewer 1 orangnya tetep, sementara Reviewer 2 ganti, sebab commentnya baru. Reviewer 1 menyarankan saya utk kembali memasukkan algoritma lama, dan dicompare bareng² dgn algoritma baru, krn performance kedua algoritma lama tsb sangat kompetitif. Revisi lainnya cuma minor aja, seperti gambar² contoh service area susunannya mesti disesuaikan dengan uraian dalam text, nama dan tahun referensi ada yg salah, satu referensi gak ada di list, term optimum dan maximum mestinya optimal dan maximal, kemudian beberapa typo dan grammar correction. Reviewer 2 minta saya lebih memperjelas MCDM process utk memperoleh 63 candidate sites. Utk Genetic Algorithm, dia minta supaya saya menuliskan formula utk encoding dan fitness function secara explicit. Dia juga minta saya mengemukakan di bagian Conclusion mengenai kemungkinan digunakannya metode saya utk multi-objective problem. Komentar minor beliau, skala peta gak ada, judul gambar disuruh diperbaiki lebih bagus lagi.

Setelah viva, saya sempet vacuum gak ngerjain urusan kuliah selama seminggu. Tarik napas dulu dong, menenangkan diri. Shock berat nih abis melewati viva yg menegangkan :) . Seperti biasa, hiburan saya di saat santai adalah menonton serial drama Korea. Setelah puas istirahat, baru saya mulai membuka kembali paper saya, dan melakukan revisi. Kalo dikerjain mah, revisi ini, 2 hari beres!

Saya menggunakan fitur Track Changes di Ms Word. Krn editor sangat mewanti-wanti saya utk tidak membuat paper saya lebih panjang dari yg skarang, maka beberapa komentar dari para reviewer dengan terpaksa tidak saya penuhi. Lagipula beberapa di antaranya memang saya gak setuju. Sebenernya saya agak khawatir juga gak mengikuti saran dari reviewer. Tapi di pihak lain, saya gak bisa memenuhi saran mereka tanpa membuat paper saya menjadi lebih panjang. Saya sempet konsultasi ke Dr Noordin soal ini. Dia bilang sih, gak apa² kita gak ngikutin saran reviewer, asal kita bisa ngasih argumen yg kuat ke editor. Saya sibuk berpikir, gimana yah bikin argumen yg diplomatis dan bijaksana, serta tidak terkesan sok lebih bener dari reviewer. Akhirnya saya tulis spt ini, Basically we have no objection to the comments from reviewers. But since we must tighten our manuscript, we consider strictly the urgency of adding more material in response to the reviewers’ comments. As a result, some changes are made and other changes are not made.

Untuk setiap saran yg gak saya penuhi, saya pun kasih argumen yg lebih spesifik dan detil kenapa saya merasa saran tsb tidak perlu saya ikuti. Semoga aja, sang editor bisa menerima argumen saya. Sebelum klik tombol submit, saya baca Bismillah dulu. Ya Tuhan, mudah²an skarang paper saya bisa Accepted for publication.

Viva Voce

August 31st, 2008

Selasa, 26 Ags ‘08. Akhirnya, setelah menunggu 3,5 bulan sejak submit thesis tgl 5 Mei lalu, hari ini tibalah hari viva saya. Sejak jauh² hari, Pn. Meshiah, staf GSO yg khusus ngurusin viva utk fakulti Engineering, sudah memberi tahu saya bahwa viva saya akan dilaksanakan tgl 26 Ags ‘08 jam 9.30 pagi. Tapi waktu itu katanya masih tentative, masih menunggu konfirmasi dari satu orang examiner lagi. Nah, hari Kamis, 21 Ags, setelah Dr Ahmad nelepon ke GSO, baru mereka bilang dah confirm, tapi jadi jam 10 pagi. Herannya mereka kok gak ngasih tau saya gitu lho, baik via email maupun telepon. Sampe hari Senin, 25 Ags, sehari sebelum hari H, saya yg nelepon ke GSO utk memastikan. Ternyata bener udah confirm, dan mereka gak ngirim email katanya krn ada problem dengan server. Lagipula supervisor saya kan dah tau. Aduh… alesan deh GSO ini. Mentang² mereka tau saya udah stand by di sini, dientengin aja gak dikasih kabar. Gak nyadar ya, dalam viva ini, saya kan pemeran utama, kunci dari segala kunci. Gak lucu kan kalo semua examiner dan supervisor dateng lengkap, tapi sayanya sendiri sbg student yg mau viva malah gak ada? :D

Kondisi kesehatan saya gak terlalu fit dalam menghadapi viva ini. Sampe² hari Senin, saya minta izin gak masuk ngajar ke Dr Ahmad, utk hemat suara dan istirahat. Gara² malem Kamis saya begadangan nyiapin materi utk lab Autocad, tenggorokan saya meradang, plus badan meriang. Yg tadinya rencana hari Jumat saya mau pre-viva di depan Habshi dan Dr Rashid, akhirnya batal. Gimana mau presentasi kalo suara serak dan batuk²? Hari Minggu, saya bela²in ujan² naek taksi ke Sri Serdang utk beli obat batuk ke apotik. Eh, ternyata apotiknya tutup. Aneh, apotik kok hari Minggu tutup. Orang sakit mana kenal libur? Untung supir taksinya baik, dia mau nganterin saya muter² di sekitar pertokoan Sri Serdang itu, nyari apotik lain yg buka, tanpa minta ongkos tambahan (yup, taksi di sini tarifnya nego, bukan based on argo). Tapi gak ada, emang cuma ada satu apotik di situ. Udah hampir putus asa mau balik tanpa hasil, baru kepikiran bhw yg namanya obat batuk itu gak hanya tersedia di apotik, tapi biasanya supermarket juga jual. Saya coba lah cari di supermarket. Supermarket pertama yg dimasuki, sebenarnya jual, tapi kebetulan saat itu pas habis. At least ada harapan deh. Saya coba ke supermarket lain. Ada! Fiuhh… akhirnya, gak percuma ujan² sambil gak enak badan dibela²in ke luar, keluar ongkos banyak buat naek taksi, dapet juga obat batuknya. Saya udah gak perduli lagi mesti keluar uang berapa. Yg jelas, saat itu saya butuh banget obat batuk. Saya perlu sembuh dengan segera, supaya hari Selasa bisa presentasi dan menjawab pertanyaan² examiner dengan lancar, gak terbatuk-batuk.

Gara² keluar nyari obat batuk ini, saya sempet pilek, bersin², hidung mampet. Serba salah ya… pergi keluar dalam rangka ngobatin batuk, malah kena pilek. Sama seperti batuk, pilek juga bakal mengganggu jalannya viva. Saya cuma mengoleskan minyak kayu putih di sekujur tubuh dan ubun-ubun utk mengobati pilek ini, biar gak nambah parah. Hari Senin siang, kondisi saya masih buruk, tenggorokan masih sakit, badan meriang, hidung pun mampet. Saya dah pasrah deh, harus menjalani viva dalam kondisi spt ini. Habshi nyaranin saya utk minta GSO menunda viva kalo memang kondisi saya gak memungkinkan. Tapi saya gak mau, entah berapa lama lagi mesti nunggu viva kalo skarang ditunda. Selama wiken itu, saya banyakin tidur dan mempersedikit ngadepin komputer. Hari Minggu adalah acara International Culture Night. Tadinya saya pengen nonton tim Indonesia nari Mamri dan Jaipong, tapi akhirnya saya lebih memilih istirahat total di kamar. Malah mestinya saya jadi salah satu penari tuh. Script presentasi yg dulu saya siapkan utk pre-viva, baru saya baca kembali hari Senin malem. Ya, baru pas Senin malem, kondisi saya agak mendingan. Saya bisa keluar kamar, gabung sama rekan² kolej ngumpul di kamar Sandra. Malah sempet²nya nonton DVD. Tapi suara masih bindeng, tenggorokan masih sakit, dan kalo pas kerasa gatel, bakalan batuk² parah, perlu minum air. Saya cuma berdoa, moga² selama viva berlangsung, batuk saya gak kumat, dan saya bisa bertahan viva tanpa harus sebentar² minum.

Di depan ruang viva

Syukurnya, hari Senin malem itu saya bisa tidur dengan nyenyak. Gak susah tidur, gak sebentar² bangun utk kencing. Hasilnya, pagi hari saya merasa lebih seger. Krn badan masih agak meriang, saya mandi pake air panas. Tenggorokan sedikit lega. Ini yg penting deh. Kalo cuma meriang masih bisa saya tahanin. Sesuai rencana, saya pake kebaya biru yg selama di sini belum pernah saya pake. Malemnya dah sempat saya setrika dulu. Saya gak sarapan nasi, cuma minum susu dan minum energen. Takutnya kalo makan nasi nanti malah perutnya bermasalah pas viva. Setelah itu, saya baca surat Yaasin sekali dan Al-Ikhlas 11 kali. Menurut nasihat kawan, ini supaya saya gak ngerasa grogi pas presentasi, dan supaya apa yg ingin saya ucapkan bisa keluar dengan lancar, pikiran jernih, gak blank. Jam 9.30, baru saya berangkat dari kolej, dan sampai di GSO jam 10 kurang 10 menit. Wah, ternyata pagi itu rame yg viva. Tiga bilik viva yg ada di GSO, semuanya dipake. Di sofa depan TV di GSO situ, saya sempet ngobrol² dgn student lain yg mau viva juga. Hihi… rasanya jadi kayak pasien yg lagi nunggu dipanggil masuk ke ruang dokter. Nama² student yg viva tertera di kertas yg ditempel di dinding sekitar bilik viva, lengkap dengan informasi program, fakulti, jam dan ruang viva. Saya dapet di bilik viva 1, yg kebetulan paling deket dengan ruang TV GSO itu. Pas saya dateng, di bilik tsb belum ada siapa², sehingga saya bisa nyoba LCD-nya dulu, tapi makanan sudah disiapkan. Setelah beberapa menit nunggu, Dr Noordin dateng. Wah, saya seneng banget beliau akhirnya jadi dateng. Sebab pas saya SMS beberapa hari sebelumnya, beliau bilang hari Selasa itu beliau diminta utk melakukan site visit. Tapi beliau juga bilang mau mengusahakan kirim orang lain utk menggantikan beliau. Cuma aja, pas hari Senin saya tanya lagi, beliau tidak menjanjikan mau dateng. Jadi saya pun gak terlalu berharap beliau bisa dateng. Ya sudahlah, yg penting Dr Ahmad pasti dateng. Beliau sudah bilang ke saya bhw beliau tidak pernah melewatkan hadir di viva studentnya, biarpun beliau hanya co-supervisor utk student tsb. At least, saya gak spt Ira yg dateng viva bener² single fighter, tanpa satu pun anggota komite supervisor mendampingi. Eh, ternyata Dr Noordin dateng juga. Saya terharu beliau ternyata memilih utk menghadiri viva saya daripada melakukan site visit tsb. Kalo Dr Rashid sih, memang sudah tidak bisa diharapkan. Sepertinya beliau terlalu sibuk utk dateng ke viva saya.

Di UPM ini, student tidak diberitau nama² examiner sampe hari H viva. Itu merupakan hal yg confidential buat student. Pagi itu, baru Pn. Meshiah memberikan list nama² examiner ke saya. Ternyata satu pun gak ada yg saya kenal. Dr Helmi dan Dr Shattri, yg semula saya kira bakal jadi examiner atau chairman, gak ada di list tsb. Chairman saya adalah Prof. Bujang, dari Civil Engineering; Internal examiner 1, Prof Amin, dari Biological and Agriculture Engineering, satu departemen dengan Dr Rashid; Internal examiner 2, Dr Firuz Ramli, dari fakulti Environment; External examiner, Prof Ruslan Rainis, dari USM. Internal examiner 2 gak hadir, jadi hanya 2 orang examiner dan satu orang chairman yg menyidang saya.

Sebelum viva dimulai, para examiner dan chairman rapat dulu di ruang viva. Saya bersama Dr Ahmad dan Dr Noordin menunggu di luar. Kira² 5 menit kemudian, saya dipanggil masuk ke ruang viva. Dr Ahmad dan Dr Noordin ikut masuk. Suasana viva cukup hangat, dan saya juga gak ngerasa nervous. Mungkin ini krn saya sudah melakukan pre-viva, jadi dah well-prepared lah. Pertama mereka ngajak ngobrol dulu, nanya saya dari Indonesianya dari mana. Setelah itu saya diberi waktu 20 menit utk presentasi. Spt halnya waktu pre-viva, saya bisa melakukan presentasi dengan lancar. Krn beberapa slide sudah saya kurangi, gak nyampe 20 menit, saya dah selesai presentasi. Para examiner pun tidak melakukan interupsi selama saya presentasi.

Bersama supervisor dan examiner - Dr Noordin, saya, Prof Ruslan, Prof Bujang, Dr Ahmad

Oya, hari Minggu sebelum viva, saya dah dapet decision letter dari IJGIS mengenai status paper saya. Para reviewer sudah merekomendasikan publikasi, tapi masih perlu sedikit revisi. Minor changes sih, itu pun revisinya bukan thd content paper, cuma disuruh menyesuaikan urutan gambar dengan uraian, judul gambar, tahun referensi ada yg salah, ada referensi yg dicite tapi gak ada di Daftar Pustaka, term “optimum solution” mestinya “optimal solution”, peta² mesti ada skala, dsb. Biarpun editornya belum nulis Accepted, tapi boleh dibilang paper saya ini udah diaccept lah, krn revisinya bisa saya kerjakan dalam beberapa hari saja. Saya tanya ke Dr Ahmad, boleh gak saya bilang ke examiner soal paper saya ini. Beliau bilang, boleh banget. Memang sepatutnya examiner tau kalo kita sudah publish paper, biar mereka gak nanya macem². So, setelah selesai presentasi, saya pun memberi tambahan informasi kpd para examiner, bhw paper saya sudah accepted with revision di International Journal of GIS. Saya juga bilang kalo saya baru menerima decision letter kemaren. Prof Amin langsung berkomentar, “very timely”. Yup, memang pas banget kan waktunya?

Jalannya viva lumayan lama, 2 jam. Saya masuk sekitar jam 10.15, keluar jam 12.15. Pertanyaan² dari Prof Amin sih, bisa saya jawab semua dengan lancar. Beliau cuma nanya, apa sih service area itu? Apakah saya memperhitungkan road network barriers dalam menghitung travel time zone? Bagaimana saya menentukan speed utk tiap hirarki jalan raya? Apakah saya memperhitungkan daerah² yg sering terkena kebakaran dalam menetapkan kriteria lokasi fire station? Kenapa saya menggunakan cell size dan figure size yg berbeda utk hexagon dan square? Itu yg saya inget. Kayaknya masih ada pertanyaan² lain. Chairman cuma mempertanyakan, apakah bener di Jakarta, truk pemadam kebakaran itu diperbolehkan melewati jalan searah ke arah yg berlawanan? Saya sudah melakukan interview soal ini ke salah satu staf Dinas Pemadam Kebakaran di Jakarta kemaren. Dan dia bilang memang iya, boleh. Jadi saya berani bilang, ya, memang spt itu. Ambulance dan truk pemadam kebakaran yg sedang bertugas dan membunyikan alarm, diizinkan melewati jalan searah ke arah yg berlawanan. Kita pengguna jalan yg lain harus minggir dan memberi jalan pada mereka.

Pertanyaan dari external examiner nih, yg makan waktu lama. Saya gak tau deh, ini krn pertanyaan dia terlalu sulit saya mengerti, apa dia yg terlalu sulit memahami thesis saya? Pertama dia nanya, pernah gak saya pake SW ArcInfo. Katanya ArcInfo juga bisa melakukan location modeling. Saya tau sih, ArcInfo dan TransCAD bisa melakukan location modeling. Tapi, location modeling yg tersedia built-in di GIS software tsb gak fleksibel. Problem type yg bisa diselesaikan terbatas. Algoritma yg tersedia juga terbatas. Makanya saya lebih prefer melakukan loose-coupling aja, dan coding algoritma sendiri. OK, itu cuma wacana doang. Sang examiner belum mulai menyidang saya. Agak sulit juga nyeritain, sebenernya dia nanya apa. Sebab dari kesan yg saya dapat, dia kok sptnya gak paham thesis saya yah? Memahami formula MSAP aja susah. Harus saya terangin berulang², xij itu apa, xi itu apa. Memahami algoritma saya juga susah. Apa bedanya GA dengan GATT. Pas beliau mengklarifikasi dgn gambar, baru saya tau bhw beliau mengira algoritma saya itu memilih demand point, padahal algoritma saya memilih site. Pantes gak nyambung. Pertanyaan² beliau juga aneh. Misalnya beliau nanya, di antara tiga definisi service area yg saya kemukakan, yaitu circular coverage, Thiessen polygon, travel time zone, mana yg cocok utk equally distributed demand? Sementara, perbedaan dari ketiga definisi tsb bukan terletak pada apakan demandnya terdistribusi merata atau gak, melainkan pada cara penghitungan distancenya. Yg satu menggunakan straight-line distance, satu lagi based on road network. Khusus yg Thiessen polygon, semua lokasi akan diassign ke fasiliti terdekat. Jadi gak bakalan ada area yg gak tercover. So, semua bisa dipake utk memodelkan demand yg terdistribusi merata. Kenapa beliau nanya spt itu?

Ini thesisku..

Beliau juga nanya, kenapa site selection saya gak berhenti sampe pas udah dapet candidate site aja. Lah, berarti road accessibility considerationnya belom masuk dong?! Atau, kenapa saya gak langsung aja melakukan modeling tanpa harus menggenerate service area. Lah, justru service area itu lah yg ingin dioptimasi dalam problem lokasi saya. Gimana tho? Beliau bilang, formula yg saya bikin ini udah ada. Bagaimana mungkin? Sedangkan problem lokasi saya jelas² baru, yaitu memaksimalkan area of coverage. Dan formula tsb bisa jadi spt yg skarang krn saya menggunakan discrete points sbg surrogate information utk mengukur total area of coverage dari satu set fasiliti yg mana service area polygonnya bertumpuk. Penghitungan area of coverage dengan metode semacam itu, sayalah yg menentukan. Kalau saya menggunakan metode lain, maka formula yg dihasilkan juga akan berbeda. Bagaimana mungkin beliau bisa bilang formula utk problem tsb udah ada? Ada dimana? Dikenal dengan problem lokasi apa? Rasanya terlalu banyak misunderstanding beliau thd thesis saya. Tapi saya sudah menulis paper yg direview oleh ahli optimization theory, dan para reviewer ini gak ada masalah memahami location problem dan formula saya. Kayaknya emang yg bisa dengan mudah memahami penelitian saya justru para ahli optimization theory deh. Emang sih, formula MCLP, itu gak baru. Kemampuan GIS utk menghitung travel time zone berdasarkan road network analysis, juga gak baru. Tapi mengintegrasikan kemampuan GIS ini ke dalam MCLP, itu hal yg baru. Sejauh ini saya tidak menemukan paper yg sudah melakukan itu.

Jujur saya gak puas hati dengan examiner external ini. Bahkan apa yg dilakukan algoritma saya aja dia gak ngerti. Kalau spt Prof. Amin, yg memang bukan ahli GIS, beliau malah gak nanya macem². Tapi justru spt Prof. Ruslan ini, yg ahli GIS, tapi gak ahli optimization, pertanyaannya malah jadi membingungkan. Kayaknya beliau mengira, thesis saya ini bertujuan membangun algoritma. Atau malah dia gak bisa nangkep, tujuan penelitian saya ini apa. Soal saya melakukan komparasi dengan kondisi existing juga dipermasalahkan. Mestinya kalo membandingkan sesuatu, harus ada variabel yg sama-nya. Beliau bilang, yg existing itu gak pake metode apa², jadi gak bisa dibandingin. Saya gak ngerti deh. Justru, saya ingin membandingkan coverage area yg dicapai melalui metode buatan saya dengan coverage area existing yg gak pake metode apa-apa. Pengen ngeliat, ada peningkatan apa gak. Kalo ada, berarti kita bisa simpulkan bhw lokasi fire station yg skarang ini gak optimal, banyak overlap, krn sebenernya dengan jumlah fire station yg ada skarang, area of coveragenya bisa dibikin lebih luas bila lokasinya dipilih melalui metode buatan saya. Variabel yg samanya, ya jumlah fire station dan travel time. Saya bawa contoh² paper tentang facility location problem. Saya ingin menunjukkan bahwa, penelitian tentang facility location problem itu mencakup penjelasan tentang konsep location problem yg ingin diselesaikan, mathematical formulation dari problem tsb, teknik² solusi atau algoritma² utk menyelesaikan problem tsb, dan diskusi dan komparasi result yg diperoleh dari algoritma² yg dipakai. Itu prosedur standar dari penelitian tentang development of facility location modeling. Saya juga mengikuti prosedur yg sama. Hanya saja, selain membandingkan result antar algoritma, saya juga membandingkan ke kondisi existing. Kenapa sepertinya gak sah saya melakukan itu? Asli gak ngerti.

Bersama rekan2 kolej - Sandra, Indah, Rahmi, saya, Riri

Ada sih beberapa masukan dari Prof Ruslan ini yg cukup bagus, dan akan saya akomodir dlm perbaikan thesis. Misalnya, dalam mendiskusikan algoritma GATT, saya sebaiknya mengemukakan penyebab, kenapa hasil algoritma ini lebih rendah dibanding hasil dari GA. Side by side comparison coverage area antara existing dan new coverage sebaiknya ditunjukkan secara spatial, menggunakan GIS tentunya. Sehingga bisa keliatan dimana area yg tadinya gak tercover sekarang tercover, dan sebaliknya. Utk grafik performance of algorithms, jangan pake continuous line. Sebab nilai 1, 2, 3 pada sumbu X bukan menunjukkan continuous values, melainkan hanya ID site yg dijadikan sbg initial point. Lebih tepat kalo saya pake bar chart misalnya.

Mungkin juga, Prof Ruslan ini lieur krn thesis saya terlalu banyak proses. Kebanyakan area of research, kata Dr Noordin. Mestinya saya ambil satu aja, tapi diteliti sedalam-dalamnya. Nah, masalahnya, seluruh proses tsb, dari awal sampe akhir, merupakan proses yg kontinyu, gak bisa diambil sepotong² doang. Jadi gimana dong? Waktu menentukan judul aja sampe susah deh, bagian mana dari thesis ini yg merupakan kontribusi penelitian saya dan layak diambil sbg judul. Judul yg ada dianggap terlalu luas cakupannya. Mesti dibikin lebih spesifik. Akhirnya saya usulkan “Integration of travel time zone for optimal siting of emergency facilities”. Tapi sebenernya saya masih ngerasa ada yg kurang dgn judul itu. Kalo kita mengatakan “integration” mestinya ada keterangan, kepada apa? Mungkin lebih tepat kalau “Integration of travel time zone into the Maximal Covering Location Problem …” Atau bisa juga gak pake kata “Integration”, melainkan “Incorporation”. Ah, pusing. Nanti saya pikirin lagi deh judul yg lebih tepat. Yg penting ada yg udah diterima dulu di ruang viva ini.

Di depan kantor SGS, tempat viva dilaksanakan

Ngomong², selama viva, saya berhasil gak batuk² lho. Mungkin krn saking konsentrasinya saya menjawab pertanyaan² dari Prof Ruslan, sampe lupa kalo saya lagi batuk. Lama banget sih diskusi dengan beliau ini. Prof Amin aja sampe meninggalkan ruang viva sebelum usai. Yah, mungkin beliau ada urusan lain juga sih. Tapi ini menunjukkan bhw viva saya memang ‘kelamaan’. Pas keluar dari ruang viva, saya duduk lemes deh di sebelah Dr Ahmad. Capek. Saya cuma ngedengerin aja waktu Dr Noordin sibuk ngebahas jalannya viva saya dengan Dr Ahmad. Temen² kolej rupanya dah pada dateng. Indah, Sandra, Riri, Rahmi dan Erra. Mereka memang udah janji bakalan menunggui dan menemani saya di luar ruang viva. Saya pun gabung ngedeketin mereka. Mereka sibuk menyalami dan memberi selamat pada saya. Gak lama kemudian saya dipanggil masuk lagi oleh Prof Bujang utk menerima hasil viva. Alhamdulillah, ternyata lulus dgn minor correction! Saya kaget juga. Kirain, dengan begitu memusingkannya diskusi saya dengan Prof Ruslan, saya bakalan dapet major correction. Apalagi beliau kayak yg sangsi gitu paper saya udah accepted di IJGIS. Sampe saya perlu ngomong, “do you want to see the comments?” Kebetulan saya memang sudah mempersiapkan membawa decision letter dari editor dan comments dari reviewers utk diperlihatkan pada examiners, kalo² mereka meminta. Tapi rupanya gak perlu kok. Baru saya nanya gitu aja, Prof Ruslan kayaknya dah percaya, hehe…

Setelah dapet result, barulah saya bisa merasa lega. Saya pun sibuk berfoto ria dengan temen² kolej, bahkan sempet berfoto dengan para examiner dan supervisor di ruang viva. Sayang Prof Amin dah pergi duluan, jadi gak kefoto deh, gak lengkap examiner saya. Mereka menikmati hidangan lunch yg disajikan. Saya juga ditawarin sih, tapi males banget makan bareng mereka. Bapak² semua! Haha.. Lagian gak ada selera juga.

Makan-makan

Seolah-olah menyesuaikan dengan suasana hati saya, pas saya viva itu, seharian cuaca cerah, gak ujan sama sekali. Padahal hari² sebelumnya ujan terus tiap sore sampe malem. Jadi hari itu benar² hari saya. Sehabis viva, saya pulang dulu ke kolej, istirahat. Sore hari kira² pukul 6, saya pergi lagi bersama temen² sekolej dan beberapa temen dari kolej lain pergi makan² ke McD di daerah Sri Serdang. Tadinya kita 10 orang, tapi pas di sana ketemu Ferra yg kebetulan mau jajan McD juga. Jadilah kita bersebelas. Saya, Erra, Rahmi, pergi bareng dari kolej. Di dekat CIMB pas mau ngambil uang ke ATM, Ayu gabung dengan kita. Baru di kolej Moh. Rashid, kita gabung dengan rombongan dari kolej 2, mbak Dian, Sinta, Lina, bersama dengan Indah, Sandra dan Riri yg memang lagi ngumpul di sana. Wuah, sepanjang perjalanan itu kita foto² deh, mulai dari masih di CIMB, di jembatan, di taman kolej Moh. Rashid, sampe di dalem bis RapidKL! Sampe² penumpang yg laen gak ada yg berani berdiri di depan kita, krn kitanya sibuk foto², hihi… gak enak hati kali mereka, takut ngalangin. Abis kita duduk pas adep²an sih.

Di McD, masing² orang dapet 2 potong ayam, sebungkus french fries, dan minuman. Krn kita pesen banyak, lumayan lama juga nungguin ayamnya dateng, sehingga waktu sudah keburu masuk maghrib. Susahnya disana gak ada mushola (aneh, baru nemu nih tempat makan di Malaysia yg gak nyediain mushola). Kita pun membungkus sisa ayam yg ada, dan buru² pergi utk cari masjid terdekat. Udah jam 8 lewat pas kita sampe masjid itu, tapi syukur masih kebagian sholat sih. Kebetulan masjid hijau tempat kita sholat ini, letaknya di depan rumah mas Suli. Beberapa hari ini konon mas Suli gak enak badan, ginjalnya sakit katanya. So, kita sekalian aja mampir. Wah, mas Suli bakalan ke-GR-an nih, ditengokin 10 orang cewek². Sakitnya pasti langsung sembuh :D .

Di antara kita bersepuluh, yg udah pernah ke rumah mas Suli cuma saya. Tapi saya juga gak inget nomer rumahnya berapa. Ya udah, kira² di depan rumah itu, saya teriak aja manggil, hihi… berhasil. Orangnya keluar kan? Mas Suli tinggal serumah dengan pak Asep dan pak Bambang. Pertama sih kita bilang ke mas Suli kalo kita dateng mau nengokin dia, tapi dia langsung tau bhw sebenernya kita sedang merayakan acara saya. Kita pun ngeriung rame² di ruang tamu, ngobrol macem² deh. Mulai dari pengalaman viva saya, pengalaman vivanya pak Iing dulu, peraturan di UPM yg konon semester depan bakalan berubah lagi, sampe ngegosipin anggota² PPI.

Di dalem bis RapidKL
Makan-makan di McD, Sri Serdang
Di rumah mas Suliadi

Dari rumah mas Suli, kita pun balik ke kolej masing². Pffhh… hari yg melelahkan, tapi menyenangkan. Kuliah by research di UPM ini emang seru banget. Gak heran, saat² viva menjadi saat yg menghebohkan, event besar! Makanya, student yg lulus dari program by research ini pasti beritanya langsung tersebar ke seluruh anggota PPI. Beda dengan student yg lulus dari program by course. Kayaknya adem ayem aja gitu. Di milis, saya liat inbox saya sudah dibanjiri oleh ucapan selamat dari rekan² PPI atas kelulusan viva saya. Oya, sehari sebelum saya, pak Kudus juga sudah melewati viva PhD-nya. Jadi selain ucapan selamat buat saya, ramai juga ucapan selamat buat pak Kudus. Dan pak Kudus ini kuliah di UPM sudah lama sekali. Ada kali 5 tahun lebih. Makanya, selain dari student PPI yg masih aktif, ucapan selamat utk beliau juga datang dari para alumni yg sudah kembali ke tanah air. Pak Kudus dan saya sudah seiring sejalan dari mulai kita baru mau submit thesis, bareng² dengan Ira dan Farhan. Taunya sekarang vivanya juga deketan. OK deh, Pak. Selamat atas gelar PhD-nya. Semoga kita bisa menggunakan ilmu yg diperoleh untuk kemaslahatan negara dan agama. Aamiin.

Dinner Gathering

August 16th, 2008

Jumat, 15 Ags ‘08. Untuk ke-2 kalinya, saya mengikuti acara makan² di Executive Lounge fakulti Engineering atas undangan Dr Rashid. Dulu, beliau ngadain selametan dalam rangka pulang naik haji. Sekarang, beliau mengundang kita, komunitas research di fakulti Engineering, utk dinner bersama. Emang ya, dosen saya yg satu ini friendly banget. Senang rasanya ketemu banyak orang di acara non formal seperti ini di fakulti.

Temen² Melayu saya boleh dibilang dah habis nih, dah pada lulus. Aliaa, Farah, Encik Wan. Tapi masih ada temen² lain, baik yg lama maupun yg baru, seperti Nik Norasma, Fauzul, Habshi, Islah, Ranya, Shahrzad, dll. Dosen² yg dateng, ada Dr Noordin, Dr Helmi, Prof Amin, Prof Desa Ahmad, Prof Norman, dan beberapa dosen lain yg gak saya kenal. Dr Ahmad entah kemana gak keliatan. Dr Rashid sendiri membawa keluarganya, istri, anak perempuan dan anak lelakinya. Baru kali itu saya bertemu keluarga beliau.

Acara makan malam ini memang bukan dalam rangka apa-apa, asli cuma utk kumpul-kumpul. Silaturahmi kali ya… Dr Rashid emang suka sih bikin event semacam ini. Dengan student² yg under supervision beliau aja, kadang beliau suka mengadakan presentasi di tempat wisata. Biasanya yg suka ngadain acara begitu kan orang² kantoran. Di kampus, apalagi student dan dosen, jarang banget. Dr Ahmad aja gak pernah bikin acara spt itu utk student²nya. Dalam kesempatan dinner ini, beberapa student Dr Rashid yg berprestasi atau telah berpartisipasi menjadi trainer dalam sebuah training menerima piagam penghargaan.

Beberapa student yg punya anak, pada dateng membawa anak²nya. Lucunya, anak² itu bisa bermain bersama meskipun mereka bicara dalam bahasa yg berbeda. Ada yg ngomong Melayu, Arab, Iran, Cina, bahkan Inggris. Sepertinya bahasa tidak menjadi penghalang bagi mereka utk bermain. Meskipun hanya berkomunikasi dengan bahasa tarzan, yg penting mereka happy, lari² kesana-kemari meramaikan suasana.

Makanan yg disajikan cukup enak dan mengenyangkan, meskipun kurang pedes menurut standar saya. Setelah acara makan² selesai dan para tamu sudah bersiap² utk pulang, sebagai tuan rumah, Dr Rashid sibuk mempersilakan para tamu utk membungkus dan membawa pulang makanan yg tersisa. Trimakasih banyak buat Dr Rashid yg telah mengundang kita semua utk dinner bersama ini. Moga² kemurahan hati beliau mendapat ganjaran yg setimpal dari Tuhan.

International Student Carnival

August 12th, 2008

Sabtu, 9 Ags ‘08. Setelah lolos dari audisi tgl 23 Juli lalu, hari ini tibalah saatnya kita, tim penari dari UPM, tampil di acara International Student Carnival, Sunway University College. Seluruh anggota tim ada 15 orang, terdiri dari 9 orang penari laki-laki, 5 orang penari perempuan, plus Iyep sang koordinator yg akan memimpin tari Poco-poco. Yg laki-laki membawakan tari Mamri, sebuah tarian perang dari Papua, sementara yg perempuan membawakan tari Jaipong. Penari laki-laki yaitu Tri Paduka, Amar, Teza, Heri, Rudy, pak Naim, pak Sriyanto, pak Catur dan pak Sayuti. Penari perempuan yaitu Sandra, Riri, Nisa, Rahmi dan saya. Indah, yg mestinya masuk dalam tim, krn satu hal harus pulang ke Padang, shg tdk bisa ikut tampil bersama kita.

Jujur aja, tari Jaipong ini susah banget. Tarian Mamri kayaknya lebih sederhana, gerakannya energik dan mudah diikuti. Meskipun gak pernah latihan, kalo kita mau ikutan nari, niscaya langsung bisa menyelaraskan gerakan kita dgn gerakan penari yg lain. Sementara Jaipong, udah latihan aja, belum tentu bisa ngikutin. Saking putus asanya saya krn gak bisa² nari Jaipong ini, beberapa hari sebelumnya saya sempat berniat utk mengundurkan diri. Ditambah lagi saya juga sibuk mesti bikin paper. Persiapan menari ini sangat menyita waktu, tenaga dan pikiran. Paper saya bener² terbengkalai gara² sibuk latihan dan audisi. Tapi kemudian saya malah bertekad latihan nari ini sampe bisa. Saya latihan sendiri di kamar, sampe hapal gerakannya, sampe bener² gak usah mikir lagi. Menurut saya, gerakan tari Jaipong baru bisa dibikin enak kalo kita sudah familiar dgn gerakan tsb. Dari latihan sendiri ini, saya berhasil sampe taraf hapal dan terbiasa. Lalu dari latihan dgn pelatih, baru saya berlatih gerakan yg bener. Misalnya kaki harus lebih ditekuk, badan harus lebih merendah, bahu harus lebih diputar, goyangan harus lebih centil, dsb. Yah… kalau dibilang sibuk sih, kita pasti sibuk terus. Tapi saya pengen ikutan berpartisipasi dalam tim tari ini, krn saya berpikir, mungkin inilah terakhir kali saya punya kesempatan ikut berpartisipasi. Kalo tahun ini saya lulus, dan gak jadi nyambung PhD, maka sekarang lah kesempatan terakhir saya utk ikut berpartisipasti. Makanya, biarpun sibuk mesti bikin paper, saya tetep mendaftarkan diri ikut dalam tim tari ini.

Acara carnivalnya sebenernya malem hari. Tapi dari siang, kita para penari sudah harus berangkat utk mengikuti gladi resik. Oya, selain utk para penari, IO juga mempersiapkan 6 bus utk student international UPM yg akan jadi audience di acara carnival ini. Student Indonesia dapet jatah 30 tiket. Saya agak stress juga menyadari bhw 6 bus audience tsb akan menjadi suporter kita. Ya, krn kita lah, student Indonesia, satu²nya wakil dari UPM dalam carnival ini. Beberapa audience ada yg berangkat siang hari juga bareng kita. Entah mau ngapain mereka dateng awal². Mungkin pengen nonton gladi resiknya juga, atau sekedar melihat-lihat kampus Sunwaynya sendiri. Tapi kita para penari, berangkat naek bus khusus, gak gabung dengan para audience ataupun dengan staf IO lainnya. Bis artis, istimewa dong, hihi…

Kostum laki-laki, perlu rumbai-rumbai utk kepala, tangan dan kaki, dan ini kita bikin sendiri. Sedangkan kaos, celana, panah dan busur, dibeli dengan uang IO. Nantinya juga akan jadi barang inventaris IO. Kostum tari perempuan, baju kita pinjam dari KBRI. Buat kepala, kita pake jilbab item yg dihiasi bandana, plus bros bunga sbg penghias. Nah, bandananya ini juga kita bikin sendiri, krn harus disesuaikan dgn warna baju. Semaleman sebelum hari H, kita di kamar Sandra sibuk ngejait bandana dan nyetrika kain yg memang harus dilipat secara khusus, dibikin rempel. Sampe jam 1 malem kita ngerjain ini. Kebetulan, 4 dari 5 penari cewek tinggal di satu kolej. Cuma Nisa yg terpisah tinggal di kolej 2. Bandana buat dia pun terpaksa kita juga yg jaitin. Coba tuh, kalo dipikir² lumayan juga kan pengorbanan kita dalam membawa nama UPM ini. Sampe nyiapin kostum pun, kita sendiri para penari yg harus repot ngurusin. Mestinya kan artis tau beres, tinggal tampil aja.

Jam 12 siang kita berangkat dari UPM, dan tiba di Sunway sekitar jam 1. Ternyata kita sudah disuguhkan makan siang, jadi kita makan dulu. Sunway nih, kampusnya kayak mall. Hanya terdiri dari satu bangunan besar, semuanya ada di satu gedung, mulai dari ruang kuliah, kafe, panggung pertunjukan, tempat olahraga. Beda lah dengan kampus UPM yg luas dan bangunannya mencar². Sebagai alumni ITB yg terbiasa dengan kampus kecil, saya lebih seneng kampus model Sunway gini. Kemana-mana tinggal jalan, gak banyak buang waktu utk nunggu bis. Aktivitas pun jadi lebih mudah. Kafe Sunway sendiri, modelnya spt food court. Selain kita rombongan dari UPM, student² lain yg bakalan ngisi acara juga makan siang di situ. Tapi kayaknya kita yg paling rame dan heboh deh. Entah siapa yg bawa gitar, yg jelas, gara² ada gitar ini, karakter Indonesia kita pun muncul. Mulai dari berlagak seperti pengamen yg biasa nyanyi di depan orang makan, lengkap dengan gaya minta uangnya, sampe nyanyi bareng² diiringi gitar tsb. Kebetulan si Tri jago maen gitar, semua lagu daerah bisa dia iringi. Lagu Padang, Sunda, Riau, Aceh. Orang² asing di sekitar kita sampe terbengong² deh ngeliat kita nyanyi² kayak pengamen jalanan gini, hehe…

Abis makan, kita sholat zuhur, kemudian langsung menuju ke ruang pertunjukan untuk mengikuti gladi resik. Kita dapet giliran tampil ke-2 setelah tim tuan rumah. Kostum gak perlu dipake dulu waktu gladi ini. Aneh, sebelum²nya saya gak ngerasa grogi sama sekali, tapi begitu udah di ruang pertunjukan ini, udah siap² naek panggung, kok tiba² saya jadi deg²an yah. Padahal ini bukan pertama kalinya kita nari di atas panggung. Kemaren sempet juga audisi di UPM, utk acara International Culture Night tgl 24 Ags nanti. Dan kita tampil lebih dari sekali di situ, jadi mestinya saya udah gak demam panggung lagi. Tapi mungkin krn cahaya panggungnya lain, auranya juga beda, walau akhirnya kita bisa menjalani gladi resik dengan lancar sih.

Selain kita, ada penari² Cina yg bawa² payung, tari Bolywood, tari India tapi yg bawain student² Cina, permainan biola, tari Bunga Seroja, tari Saman, tari Kuda Kepang, tabuh gendang, tari dan nyanyi dari serombongan besar student Afrika, dan entah apa lagi, saya gak liat semuanya. Pas penari² Bolywood tampil, cowok² langsung pada ribut deh. Tarian mereka agak vulgar sih. Itu cowok² yg nonton langsung teriak, “harga pisang naek, harga susu turun!” Haha… Saya heran juga dengan panitia pertunjukan Sunway ini. Mereka sepertinya ketat banget menerapkan peraturan mengenai kostum tari. Kostum harus sopan. Ini Malaysia gitu lho! Tari Mamri, sbg tarian perang, mestinya kan gak pake baju dan body painting. Krn hal tsb dilarang di Malaysia, ya kita pake kaos lah. Pas gladi resik itu, salah satu panitia ada yg bertanya pada kita, kostum tarian kita spt apa. Sepertinya dia ingin memastikan bhw kostum kita tidak akan melanggar norma² yg berlaku di Malaysia. Nah, tapi kayaknya larangan tsb hanya berlaku utk kostum, tapi tidak berlaku utk gerakan. Buktinya, para penari Bolywood ini, gerakannya banyak yg tidak senonoh dan lumayan vulgar, tapi toh mereka bisa lolos audisi dan gerakan tsb nyampe ke gladi resik. Berarti kan gak diprotes oleh panitia. Aneh, kan?

Ruang² kelas yg ada di sekitar ruang pertunjukan, dijadikan sbg kamar ganti. Sebagai penari, kita rada keteteran dengan masalah kostum. Gak ada yg bantuin kita masang kostum. Mana kostum tari Jaipong itu kan ribet, mesti pake kaen yg dililit dengan stagen. Gak mungkin masang sendiri. Untung ada Reny, istrinya Iyep yg ikutan mendampingi kita. Dia lumayan jago masangin kaen ini. Tapi ya, cuma ada dia seorang utk bantuin kita 5 orang penari, tetep aja keteteran.
Oya, tim dari UKM, yg tampil student Indonesia juga. Mereka membawakan tari Saman. Waktu audisi, kita udah sempet ketemu mereka. Kalau mereka sih, memang sudah ada sanggar seninya. Jadi kapan aja ada panggilan utk tampil, mereka sudah siap. Dari USM, konon yg tampil student Indonesia juga, bawain tari Kuda Kepang. Wah, keren ya Indonesia, mewakili 3 universitas sekaligus. Rasanya saya bangga juga bisa menjadi salah satu duta yg memamerkan kesenian Indonesia di ajang internasional. Jarang² nih dapet kesempatan begini.

Kita kebagian tampil jam 9.30 malem. Tapi dari jam 8 kita udah siap dengan kostum, dan nunggu di backstage. Ribut banget kita waktu di backstage itu, apalagi pak Naim yg suaranya emang stereo. Panitianya sampe berulang-ulang nyuruh kita diem, tapi tetep aja nanti kita lupa dan ribut lagi. Pada demam panggung kali yah, jadi ribut dalam rangka menghilangkan grogi. Hihi… Setelah nunggu cukup lama, tibalah giliran kita untuk tampil. Pertama tim cowok dulu nari Mamri. Pas cowok² nari, kita yg cewek² bersiap di entrance panggung. Dari situ kedengeran suara tepuk tangan audience menggelegar pas tim cowok tampil. Kayaknya gak berenti² deh tepuk tangan itu. Duh, bikin tambah grogi aja. Setelah tim cowok selesai, langsung kita nyambung dengan tarian Jaipong. Syukur, pas di panggung itu, saya gak bisa ngeliat penonton. Entah krn cahaya yg terlalu silau, atau krn ada efek asap, yg jelas figur² penonton sama sekali gak keliatan oleh saya. So, saya bisa tampil dengan tenang, walaupun suara mereka tetap kedengeran sih. Kita cukup lancar membawakan tarian Jaipong ini, gak ada yg lupa gerakannya. Setelah tim cewek selesai nari, kita tetep stay di panggung, sementara tim cowok balik lagi ke panggung, baris di belakang kita. Iyep masuk dan berdiri di depan kita. Ya, kita mau menampilkan tari Poco-poco. Gak disangka, sambutan penonton hangat sekali waktu musik Poco-poco sudah terdengar. Mereka ikut bertepuk tangan mengikuti irama musik. Kayaknya Poco-poco emang lagi ngetrend nih di Malaysia, banyak yg suka. Kita bawain tarian poco-poco ini gak full, cuma satu putaran aja. Setelah itu, masih diiringi musik, kita pun berjalan keluar dari panggung. Begitu udah nyampe di backstage lagi, wuah… rasanya legaaaaa banget. Akhirnya… tugas kita terlaksana sudah. Kita sudah tampil. Penampilan kita di Sunway ini merupakan puncak dari latihan² sebelumnya. Gak percuma latihan² kita selama ini, akhirnya kita bisa tampil dengan sukses.

Para penari diizinkan menonton acara dari balkon di bagian belakang ruang pertunjukan. Karena kita tampil cukup awal, setelah kita masih banyak lagi penari² yg akan tampil. So, setelah tampil, kita pun bergegas pergi ke balkon untuk menonton para penari yg lain. Dari balkon situ, baru deh kita bisa ngeliat rekan² kita, student Indonesia, yg dateng sbg audience. Banyak juga jumlah mereka. Mungkin tadi mereka lah yg ramai bertepuk tangan. Atau mungkin audience yg lain pun ikut bertepuk tangan.

Ternyata setelah semua tarian selesai ditampilkan, kita para performer, disuruh naek bareng² ke panggung dan nari bebas di situ. Acara penutup lah. Jadi, lagi asik² nonton di balkon, kita disuruh turun oleh panitianya, dan bersiap-siap kembali ke backstage. Tarian terakhir sebelum acara penutup ini, adalah tarian Kuda Kepang dari USM. Gak nyangka, ternyata yg nari bukan student Indonesia aja lho, tapi orang² bule. Katanya sih, mereka ada yg berasal dari Eropa dan Australia. Tentunya mereka student USM juga. Wah, saya terharu sekali, tarian kita dibawakan oleh orang² bule itu. Biarpun gerakan mereka lucu dan kaku, tapi kita para penonton tetap terpesona menyaksikan penampilan mereka. Mungkin semua sama seperti saya, merasa salut dengan para penari tsb yg bersedia menarikan tarian tradisional negara lain, yg pastinya sulit buat mereka.

Balik lagi ke acara penutup, tadinya para performer berbaris rapi, dan kita cuma goyang² di tempat aja. Lama², kita mulai cari pasangan dengan performer dari univ lain dan negara lain. Lama² makin heboh deh, kita muter² dan mencar. Perlengkapan tari udah tertukar kemana-mana. Panah dari para penari cowok udah dipegang oleh penari lain. Payung dari penari Cina udah dipegang oleh bule² penari kuda kepang, sementara kuda kepang mereka sendiri dipegang oleh student Iran. Student² dari Afrika menarikan gerakan Poco² dipimpin oleh salah satu dari kita. Rasanya semua sudah berbaur dan bersatu-padu di penampilan penutup ini.

Setelah selesai acara penutup, kita tim penari dari UPM tetep stay dulu di atas panggung utk berfoto. Wah, gak disangka, ternyata para audience juga banyak yg pengen foto bersama kita. Ngeliat kita lagi berpose, mereka pun langsung join. Gak abis² deh yg nebeng foto bareng kita, bener² laris manis, hihi… Kalo dipikir² wajar sih, kostum cowok² tuh heboh banget. Udahlah rumbai²nya itu menarik perhatian dan wajah mereka yg dicoreng moreng dengan odol, ditambah pula bawa² panah. Gak heran kalo mereka jadi obyek yg menarik utk difoto. Kita juga sempet berfoto dengan Pn. Adida, ketua IO. Mudah²an IO gak kecewa yah memilih kita sbg duta UPM. Moga² penampilan kita cukup memuaskan mereka. Setelah kembali ganti baju dan bersiap-siap utk pulang, kita tim tari nge-yel dulu meneriakkan nama Indonesia dan UPM. Senang rasanya terlibat dalam kerja tim seperti ini. Saat² latihan, audisi, bikin kostum, persiapan, gladi resik, tampil, dan pasca tampil, menjadi saat² yg penuh rasa kebersamaan dan kekompakan. Saya bersyukur kemaren gak jadi mengundurkan diri. Ternyata gak percuma saya ngorbanin kesibukan kuliah saya utk berpartisipasi dalam tim tari ini. Saya bisa mendapatkan pengalaman mengesankan yg gak sembarang orang punya kesempatan utk mendapatkannya.