Selametan Bu Nel

Kamis, 13 Maret ‘08. Acara pengajian hari kamis minggu ini agak beda. Bu Nel, tgl 10 Maret kemaren dah berhasil lulus viva PhD-nya dan bermaksud mengadakan selametan dengan makan² nasi kuning. Pas banget, hari ini ustadz yg mestinya ngisi pengajian nggak dateng, padahal yg dateng pengajian rame banget lho. Yg udah lama nggak nongol (termasuk saya), entah kenapa hari ini pada nongol. Jadilah acara pengajian kali ini diisi dengan cerita² pengalaman bu Nel dalam menghadapi viva. Wah, kalo denger cerita vivanya bu Nel nih kita ikutan gondok, deh. Bayangin, beliau nunggu viva sampai 6 bulan dari setelah submit thesis. Setengah tahun, bo! Dan itu katanya krn salah satu examinernya, setelah 2 bulan, menyatakan nggak bersedia jadi examiner. Terpaksa pihak univ harus mencari pengganti. Sialan banget nggak sih tuh examiner. Kalo emang nggak sanggup jadi examiner, kenapa nggak ngomong dari awal?! Lagian, kok bisa sih sampe kejadian examiner itu 2 bulan baru mengundurkan diri. Padahal setau saya, GSO hanya memberikan waktu 1 bulan pada calon examiner utk mengirimkan report setelah thesis dikirimkan ke mereka. Berarti mestinya, setelah 1 bulan si calon examiner nggak ngasih kabar, GSO langsung menggugurkan examiner tsb dan cari pengganti, nggak usah nunggu sampe 2 bulan. Kesimpulan saya GSO nggak ngontrol examiner tsb. Mereka membiarkan saja waktu berlalu tanpa si examiner mengirimkan report. Tinggallah student yg bersangkutan menunggu dan menunggu.

Tapi ada hikmahnya juga bu Nel lama nunggu viva, dia jadi sempet publish 2 paper ke jurnal internasional, sehingga viva dia pun bisa berlangsung dengan singkat. Ciri khas orang Indonesia nih, sambil nunggu pun tetap bisa melakukan sesuatu yg produktif. :)

Ada yg lucu nih, bu Nel cerita bhw ketika ingin presentasi, dia bilang gini ke para examiner, “Maaf, saya akan melakukan presentasi dan menjawab pertanyaan² dalam 2 bahasa.” Orang² yg mendengar langsung pada riuh berdecak. Padahal kan maksud kalimat tsb adalah, “Maaf, bhs Inggris saya kurang lancar, jadi harap maklum kalau sesekali saya akan menggunakan bahasa Melayu.” Tapi kalo cara ngomongnya spt bu Nel itu, kedengerennya kok jadi keren, ya? Presentasi dalam 2 bahasa gitu lho… :D Tapi ada yg nyeletuk, “Iya, 2 bahasa. Bahasa Melayu dan Bahasa Indonesia,” hihihi…

Ada juga salah satu hadirin yg bertanya, “Bu, examinernya orang Melayu, kan? Gimana sih cara menghadapi penguji orang Melayu? Kalo ke orang Jawa kan, ada yg bilang Jangan tatap matanya… tapi tatap dompetnya” Grrrr… semua yg ada di situ langsung ngakak deh.

Yg jelas, berbagi cerita bersama bu Nel kali ini bermanfaat banget buat kita. Kita jadi tau suka dukanya ngerjain thesis, menunggu viva, dan menghadapi viva. Oke deh bu Nel, selamat atas kelulusannya, selamat kembali ke tanah air. Moga² ilmu yg diperoleh bisa bermanfaat bagi negeri kita tercinta. Dan thanks banget atas nasi kuningnya. :D

This entry was posted on Friday, March 21st, 2008 at 10:23 pm and is filed under PPI.
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed.
You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply