Air Asia
Ke Malaysia untuk sekolah ini, menjadi kesempatan pertama saya nyobain naik Air Asia. Unik Air Asia ini dibanding maskapai penerbangan lain. Tiket ngeprint sendiri, karena kita cuma beli via internet pake kartu kredit. Terus harus langsung bayar, nggak ada sistem booking. Makin awal kita beli tiket, makin murah harga yg perlu kita bayar. Tempat duduk nggak pake nomer kursi; pas udah di pesawat langsung aja cari tempat duduk yg enak. Nggak dapet makan, tapi kalau mau beli tersedia sih (kayak naek kereta lah). Yg mengesankan, karena nggak ada nomer tempat duduk, waktu naek pesawat ada prioritas bagi para lansia dan orang yg membawa bayi, untuk masuk ke pesawat. Mereka masuk lewat pinta yg berlainan dengan kita, sehingga mereka tak perlu antri lama² menunggu giliran untuk masuk.
Sesampainya di KLIA juga ada keunikan. Air Asia punya terminal sendiri untuk mendarat dan lepas landas, yaitu LCCT. Jadi, saya tidak mendarat di terminal yg sama dengan ketika saya ke Malaysia 3 tahun lalu naik MAS. Saat pendaratan, sekali lagi karakter low cost Air Asia tampak di sini, yaitu kita diturunin di tengah² bandara, nggak ada belalai gajah, dan nggak ada bis yg biasa ngejemput penumpang yg baru turun dari pesawat. So, kita disuruh jalan kaki aja ke bagian imigrasi, hehe… sedih banget ya :p. Untung tas yg saya bawa ke kabin dilengkapi dengan roda, jadi nggak perlu nenteng², tinggal tarik aja. Nggak jauh sih emang, karena terminal ini kan cuma untuk Air Asia, jadi nggak terlalu besar.
Urusan di imigrasi lancar, karena saya udah punya visa studi plus bawa offering letter dari UPM, langsung dikasih masuk deh. Nunggu tasnya itu yg agak lama, karena yg satu pesawat dengan saya kebetulan penuh banget, bareng sama atlit² Malaysia, entah abis ada acara apa di Indonesia. Barang² mereka banyak banget, dan koper saya kayaknya termasuk yg duluan dimasukkin, jadi belakangan keluarnya deh. Waktu masih nunggu tas itu, saya belum tau bakalan gimana dari bandara mau ke UPM. Masih mikir² mau naik taksi langsung, naik KL Transit dulu, apa naik bis. Eh, tapi pas keluar dari LCCT, dari jauh udah keliatan orang bawa² papan bertuliskan UPM. Hehe… ternyata staff IRO UPM menepati janji kok ngejemput saya. Layanan penjemputan dari bandara ke kampus ini gratis lho… dan kabarnya baru semester ini aja ada layanan begini, dulu² nggak pernah. So… beruntunglah saya masuk di semester ini, masuk di saat yg tepat.
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed.
Both comments and pings are currently closed.