Literature Review

Fiuhhh…. akhirnya selesai juga nulis literature review. Hari ini baru aja saya kirimkan ke Dr. A. Rodzi. Mudah²an beliau nggak marah karena saya ngirimnya telat banget dari yg dijanjikan. Yah, abis gimana dong, waktu masih di UPM saya nggak konsen kerja, karena masalah paspor dan komite. Rencana begitu sampe di Jkt pengen menyelesaikan, eh, ndilalah komputer pake kena virus segala, hilang semua deh file-file PDF yg berisi jurnal artikel yg sudah saya download selama berminggu-minggu di kampus. Lagian nyebelin juga deh, itu virus kok ya nyerangnya pas file PDF. Udah gitu kok ya bener² ngehapus, nggak cuma meng-hide doank. Iseng banget sih bikin virus yg menghapus file orang, nggak nunjukkin kreatifitas apa-apa.
Untung ada Pak Arif, teknisi langganan saya yg selama ini selalu siap menyelesaikan segala masalah teknis yg berhubungan dengan komputer di rumah saya :) . Ternyata file² itu masih bisa direcover, tapi memang perlu tool khusus, dan mesti punya hard disk berkapasitas besar buat backup, karena tool ini akan merecover semua data yg ada di hard disk kita.

Bikin tesis jaman sekarang, dengan bikin TA jaman saya kuliah di PL dulu beda banget, padahal hanya selisih 5 tahun. :P Dibanding sekarang, rasanya dulu saya bikin TA itu ngasal banget, yg sekarang lebih ’serius’. Misalnya untuk literature review ini, kalau saya baca artikel orang, baca buku referensi, setiap kali di situ ada quote atau citation, saya pasti ngecek judul artikel atau buku yg diquote atau dicite si pengarang. Saya perhatikan betul apa referensi yg digunakan si pengarang dalam menyusun tulisannya. Hasilnya, selama melakukan studi literature, saya jadi tau nama² yg prominent muncul menghasilkan banyak artikel di banyak jurnal, saya cari tau siapa mereka, dan apa backgroundnya. Saya pun memperhatikan tahun penerbitan artikel² yg saya baca, sehingga saya bisa menganalisa di jaman apa dan dalam background yg bagaimana penelitian seseorang itu dilakukan. Misalnya kalo sebuah artikel disusun tahun 1970-an, jelas masa itu teknologi GIS boleh dikatakan belom berkembang, kalo tidak bisa dikatakan belom ada. Sehingga model² tentang location-allocation yg dibuat pada jaman itu sama sekali tidak membahas soal GIS, dan bisa dilakukan tanpa GIS. Sedangkan untuk artikel yg dibuat tahun 1990-an, apalagi yg setelah tahun 2000, sudah mulai mengintegrasikan GIS dalam aplikasi model² mereka. Lalu, saya juga memperhatikan urutan kapan sebuah model ditemukan, seperti misalnya model BACOP dikemukakan 3 tahun setelah munculnya model MXCLP, sehingga bisa dinyatakan bahwa model BACOP tsb merupakan modifikasi dari MXCLP, atau model ini diinspirasi oleh model MXCLP. Lebih dari itu, dengan memperhatikan urutan ditemukannya model² ini, saya bisa menganalisa keterkaitan teoritis antar model² tsb, dan mengamati perkembangan aplikasi model² ini dari masa ke masa. Seperti misalnya saya mendapati bahwa MCLP itu merupakan special case dari MXCLP, karena dalam MXCLP diasumsikan bahwa sebuah facility mungkin tidak selalu available untuk melayani demands, sehingga ada nilai probability antara 0-1 untuk memperhitungkan tingkat availability dari facility tsb. Sementara dalam MCLP diasumsikan bahwa setiap facility selalu available untuk melayani demands. Dengan kata lain probability tingkat availability sebuah facility dalam model MCLP akan selalu bernilai 1, maka bisa dikatakan bahwa model ini merupakan special case dari MXCLP. Keren, yah? :P Jaman bikin TA dulu mana nyampe mikir begini! Sekarang baru nyadar, betapa dangkalnya literature review TA saya dulu. :D

This entry was posted on Wednesday, May 23rd, 2007 at 8:04 pm and is filed under Thesis.
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed.
You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply