I'm Vini Indriasari, an Indonesian. From Dec '06 till Dec '08, I took master degree in GIS & Geomatic Engineering at Universiti Putra Malaysia (UPM). This blog is telling about my experiences during my days in UPM. "Tutup Buku" (Closing the Book) is the entry in this blog that marks the end of my story as a UPM student. I'd been back in my home country by the time I posted it. I keep a few entries for myself by setting them as private, but I share the rest for others. Thanks to ERJ who has suggested and facilitated me to create this blog.

Matrik Card

Akhirnya setelah menunggu selama satu bulan, tepat tanggal 30 Januari ini kita dapet juga matrik card. Nah… sekarang boleh deh para petugas security itu nanya² kalau ada anak yg nggak pake matrik card, karena semua sudah pasti punya. Jangan kayak kmaren², udah jelas semester baru, anak² baru belum pada punya matrik card, tiap keluar-masuk gerbang, keluar-masuk perpus, keluar-masuk gedung, ditanya-tanya melulu, kita rasanya kayak maling deh.

Hari ini memang acara penyambutan student baru untuk post grad. Nggak cuma yg international, tapi juga student dari Malaysia. Sebenarnya sih kita agak² males ngikutin acara ini, karena sebagian materi yg disampaikan dalam ceremony ini sudah pernah kita dengarkan di acara NISWP. Tapi berhubung matrik card baru dibagiin setelah ceremony berakhir, apa boleh buat deh, kita terpaksa ikutan ceremony ini dulu.

Di ceremony ini baru deh kita punya kesempatan ketemu dengan Rektor UPM (di sini istilahnya Vice Chancellor). Kita juga diperdengarkan lagu kebangsaan Malaysia yg iramanya sama dengan lagu Terang Bulan itu.

Selama mengikuti acara² ceremonial yg ada di UPM ini, saya perhatikan yg namanya pembacaan doa itu selalu dilakukan duluan. Beda ya dengan kita, di Indonesia mah kalau udah pembacaan doa itu merupakan pertanda bahwa acara akan segera berakhir. Doa sekaligus syukur karena acara dah selesai, legaa…. hehe. Di Malaysia lain, segala sesuatu dimulai dengan doa, jadi doa dilakukan di awal acara.

Oh iya, pengen cerita sedikit. Pas lagi break jam 10, saya ngobrol dengan teman saya yg duduknya terpisah 2 kursi dari saya. Teman saya ini orang Malaysia, jadi saya ngobrol sama dia pake bahasa melayu lah. Tiba-tiba orang yg duduk di antara kita negur saya.
“Are you from Indonesia?”
“How do you know?” jawab saya.
“From your speak,” kata dia lagi.
“But I speak in Malay,” saya masih keukeuh.
“Yeah… but your accent is still very different.”

Hehe… emang susah yah nyamar jadi orang Malaysia. Udah berusaha ngomong bahasa melayu, pake jilbab juga ngikutin gayanya orang Malaysia, tetep aja logat Indonesia ini nggak bisa ngebohong. Kalau saya diem aja, orang mungkin bisa saja menyangka saya orang Malaysia. Tapi begitu saya ngomong, mereka langsung tau kalau saya bukan asli sini. Kadang² nggak langsung dikira orang Indonesia sih, pernah juga disangka orang Sabah, karena ternyata logat orang Sabah & Serawak itu memang lebih mirip kita dibanding logat orang Semenanjung Malaysia.

This entry was posted on Tuesday, January 30th, 2007 at 3:05 am and is filed under UPM.
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed.
Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed.