NISWP
NISWP adalah New International Students Welcome Program, sebuah program yang bertujuan untuk membuat para mahasiswa asing yang baru masuk ke UPM bisa cepat menyesuaikan diri dengan lingkungan dan kehidupan kampus (mirip² kegiatan PPKA jaman ‘97 dulu masuk ITB gitu deh. Program ini merupakan gebrakan barunya IRO juga, di samping pickup airport service. Katanya sih sebelum² ini juga udah ada, tapi cuma berlangsung sehari, dan paling banter peserta cuma dibawa keliling kampus dan berkunjung ke perpus. Sekarang, acaranya berlangsung selama 3 hari, dari tgl 27-29 Desember 2006, dan jalan-jalannya sampe ke Putrajaya segala.
Oke deh, biar lebih jelas, akan saya ceritakan lebih detil apa aja kegiatan kita selama 3 hari tsb.
Hari Pertama
Dari jam 7.30 pagi kita udah kumpul di Gedung Pentadbiran. Acara pertama, sarapan dulu. Di sinilah saya berkesempatan bertemu dengan rekan-rekan dari Indonesia lainnya. Selain saya, ada 4 orang lagi, yaitu Indah dari Padang, Ayu dari Riau, Herliati dari UI, dan Suliadi dari UGM. Indah dan Ayu ambil program master juga, sementara Herliati dan Suliadi ambil program PhD. Indah sudah saya kenal sejak hari ke-2 saya di UPM. Saya ketemu dia di PK waktu kita ngurus medical check-up. Sorenya saya juga langsung ketemu Ayu di GSO, saat kita sedang registrasi. Suliadi, semalam baru saya jumpai saat lagi makan malam di kafe bareng beberapa mahasiswa Indonesia yg sudah lebih dulu di sini, sedangkan Herliati baru saya temui di halte bis depan kolej, karena dia memang tinggal di kolej yg sama dengan saya, satu gedung, dan satu lantai pula.
Berlima kita selalu membentuk geng Indonesian. Eh, ada 1 orang lagi deng, dari Thailand, namanya Rozita. Saya sudah kenal dia duluan karena sempat bertemu waktu kita sedang mengurus administrasi masuk kolej. Pertama liat orangnya, pasti nggak akan nyangka kalo dia dari Thailand, sebab penampilannya tak ubahnya seperti orang Melayu, biacaranya pun bahasa Melayu. Ya, karena dia memang berasal dari wilayah Thailand bagian selatan yg berbatasan langsung dengan Malaysia. Kebetulan dia hanya sendiri dari Thailand, so dia selalu gabung dengan kita-kita, Indonesian.
Di kesempatan ini pula lah, mulai keliatan bahwa tampang² Arab sangat mendominasi. Sebagian besar berasal dari Iran. Ada juga yg dari Irak, Yordan, Yaman, dan Turki. Lalu ada pula geng orang² Ethiopia yg tampang²nya sudah familiar buat saya karena saya sudah beberapa kali bertemu mereka, baik di kampus maupun di tempat² belanja.
Penasaran pengen tau berapa persen jumlah mahasiwa Iran yg masuk semester ini, iseng² saya menghitung nama² di daftar absensi. Yang saya hitung adalah peserta yg BUKAN dari Iran, dan itu cuma ada 25 dari 110 nama yg ada di absensi tsb. Berarti sisanya adalah dari Iran, 85 orang, atau 77,77%. Pantes aja, di manapun saya duduk, pasti saya selalu dikelilingi oleh orang² Iran. Sampai kadang² saya ngerasa, ini sebenarnya di Malaysia apa di Iran sih?
Rangkaian acara hari pertama ini diisi dengan penyajian video tentang UPM dan sejarahnya. Kemudian ice breaking; pemberian tips tentang living cost dan cara mengatur anggaran; masalah visa dan student pass; akomodasi dan housing; serta layanan dan jadwal bis kampus. Terakhir ada acara nyicipin rambutan dan durian di salah satu perkebunan di kampus ini. Nah, ini nih yg seru dan lucu. Buat kita orang Indonesia sih, jelas makan rambutan dan durian sama sekali nggak ada aneh²nya, tapi buat orang² Arab dan Afrika itu, asli mereka cuma bingung aja waktu pertama liat buah rambutan. Udah saya ajarin cara ngebukanya pun, mereka masih bingung mandangin buahnya, nggak tau mesti gimana makannya. Ada yg langsung masukkin semua ke dalam mulutnya, terus diisep-isep kayak ngisep permen.
Itu belum seberapa, pas ngeliat durian yg belum dibuka, tampang mereka langsung shock. “Can we eat it?” begitu mereka bertanya. Untung saat itu ada petugas yg membawa durian yg sudah dibuka, sehingga saya bisa langsung menunjukkan pada mereka bagian mana dari durian ini yg bisa dimakan. Pertamanya sih mereka keliatan agak sangsi gitu, mungkin karena bau durian yg memang sangat menyengat. Tapi lama² mau juga mereka nyicipin. Sepulang dari kebun ini pun, tak sedikit yg mengantongi beberapa buah rambutan. Bahkan ada juga yg keliatan nenteng² durian.
Setelah puas makan rambutan dan durian, kita lalu diajak keliling-liling kampus, dan tur ke Serdang, dikasih tau letak stasiun komuter dan tempat² belanja, sebelum akhirnya kembali ke kolej menjelang maghrib.
Hari ke-2
Rangkaian acaranya adalah penjelasan tentang pusat kesehatan kampus; security kampus; fasilitas internet; campus culture; dan money matters. Di bagian campus culture ini bahasannya lengkap banget lho, mulai dari tentang panggilan² yg berlaku di Malaysia, seperti Prof, Dr., Sir, Puan, Cik, Encik, dsb; larangan merokok, antri, buang sampah, perlakuan terhadap lawan jenis, sampai tata cara berpakaian. Yang terakhir ini terutama buat yg non melayu/non muslim. Sebab kalau nggak dibikin aturan begitu, yg non melayu tsb bajunya suka asal. Ini menurut perkataan teman² saya yg orang melayu sini lho… Dan peraturan tentang pakaian di kampus UPM ini termasuk strict. Sesekali ada sekelompok “tramtib” yang berpatroli meriksain pakaian kita. Siapa yg nggak pake kasut (sepatu), pake jeans, nggak pake matrik card, atau bajunya kurang sopan, bakalan kena tegur. Belom ada 2 minggu semester dimulai, sudah sekali saya melihat ada pemeriksaan ini.
Selanjutnya kita mengunjungi perpustakaan. Harus saya akui perpustakaan di UPM ini cukup canggih, semuanya dilakukan secara self-service dan computerized. Fotokopi buku dilakukan sendiri, bayarnya pake kartu seperti kartu telepon; minjem buku juga dilakukan sendiri pake mesin khusus, kita tinggal masukkin matrik card dan tempelkan buku² tsb di atas mesin, kemudian mesin akan mendeteksi data mengenai buku tsb. Sayangnya kita baru akan mendapatkan matrik card akhir Januari nanti, jadi sampai hari itu kita belum boleh minjem buku (aturan yg sedikit mengesalkan
). Booking buku juga bisa dilakukan via internet. Jadi kalo kebetulan buku yg kita cari statusnya lagi dipinjem orang, kita bisa minta supaya buku tsb disimpan untuk kita begitu dikembalikan. Yang saya sukai dari perpustakaan di universitas² di luar negeri adalah, langganan jurnal²nya yang banyak, sehingga kita bisa leluasa nyari referensi untuk bikin thesis atau assignment.
Hari ke-3
Briefing yg diberikan adalah tentang post-grad registration, termasuk prosedur untuk submit thesis dan viva voce; fasilitas olahraga dan rekreasi di kampus; dan pertemuan dengan UPMISA & Exco Members. Setelah break jumatan, acara dilanjutkan dengan Coffee Hour bersama para pejabat kampus dan para dekan. Oh iya, sebelumnya kita sempat diajari lagu Mars UPM, hehe… UPM ternyata punya mars juga lho, kayak ITB.
Judulnya Putra Gemilang. Kita diperdengarkan lagu itu, sekaligus gladi resik untuk menyambut para dekan dan pejabat kampus ini. Jadi begitu mereka masuk kita langsung berdiri dan menyanyikan (lipsing tepatnya) lagu Putra Gemilang tadi.
Di awal acara, panitia berjanji bahwa untuk para peserta yang mengikuti seluruh rangkaian acara di NISWP ini secara full akan mendapatkan suvenir yg di dalamnya ada foto-foto selama acara berlangsung. Ternyata banyak lho nama yg dipanggil mendapatkan hadiah ini, ada kali 60-an. Artinya, banyak peserta yg antusias mengikuti acara ini, termasuk saya.
Ya, soalnya memang bermanfaat sih, memberi kita kesempatan untuk tau lebih banyak tentang kehidupan akademik di UPM. Berkat acara NISWP ini, kita malah tau lebih banyak tentang kampus ini dibanding new students yg dari Malaysianya sendiri
. Dan yg terpenting, membuat kita bisa saling mengenal dengan sesama mahasiswa baru. Kerasa banget lho, setelah 3 hari ikut acara ini kita makin akrab. Meskipun mungkin masih agak sulit untuk menghapal nama, tapi paling nggak familiar dengan tampang lah. Sampai sekarang kalo kebetulan berpapasan di kampus, kita pasti langsung menyapa, atau ngobrol kalau memang sempat. Sejauh ini saya sudah kenal beberapa orang Iran, ada Samad, Ali, Reza, Arash, Gelareh, Musthafa, Ateveh, Mehdud, Amini, Nasha, dan banyak lagi.
Acara terakhir, ini yg paling ditunggu-tunggu sejak kemarin: Discover Putrajaya! Dari kampus cuma beberapa menit aja kita naik bis ke Putrajaya. Bagus emang Putrajaya ini. Rasanya kita seperti tidak sedang berada di Malaysia, melainkan di Eropa. Salut deh buat Malaysia yg bisa bikin kota pusat pemerintahan seperti ini. Mungkin Indonesia perlu banyak belajar dari Malaysia.
Saat di Putrajaya, sudah menjelang maghrib, so hari mulai gelap dan lampu² mulai dinyalakan, dan ini sebenarnya membuat pemandangan di Putrajaya jadi lebih indah dibanding di siang hari. Tapi bukannya menikmati pemandangan, saat itu di dalem bis, Ayu dan saya malah sibuk belajar bahasa Persia sama orang² Iran. Kita mempelajari kalimat² umum seperti “I like you”, “thank you”, “I’m sorry”, “you’re stupid”, dan “see you tomorrow”. Dan bahasa mereka yg susah diucapkan membuat kita jadi bulan²an diketawain oleh mereka, mungkin karena kita salah ngucapinnya, jadi terdengar lucu buat mereka
.
Oh iya, di Putrajaya ini ada mesjid besar, dimana untuk masuk ke masjid itu kita kudu berpakaian sopan. Definisi sopan: longgar dan menutup aurat. Kalo ada yg pake baju tangan pendek, baju ketat, atau rok pendek, di pintu masuk ada petugas yg ngasih kita jubah (kayak jubah Harry Potter) untuk dipakai. Jadi buat para wanita, kalau emang niat pengen liat-liat ke dalem masjid ini, mending pake baju yg sopan deh, biar nggak repot.
Satu lagi aturannya, nggak boleh foto-foto di halaman masjid.
Hari terakhir ini acaranya sampe malem banget, jadi kita dapet dinner sekalian. Duh, sedih deh rasanya acara harus berakhir pas kita mulai akrab²nya dengan sesama peserta. Sedih karena tau nanti² kalau udah sibuk kuliah pasti nggak akan bisa lagi kita ngumpul² begini, mungkin ketemu pun jarang. Serius nih, saya menikmati banget bisa kenalan dengan orang² Iran itu, dan berharap andai saja acara ini nggak hanya berlangsung 3 hari, tapi seminggu. Saat harus berpisah ke bis masing², kita saling bertukar tanda-tangan, nomer telepon, dan alamat.
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed.
Both comments and pings are currently closed.
One Response to “NISWP”






















January 17th, 2007 at 4:58 am
masa orientasi yg mendidik,
model begini yg harus di contoh