Pameran Rekacipta, Penyelidikan dan Inovasi
Selasa-Kamis, 27-29 November ‘07
Selama 3 hari, dari hari Selasa, 27 Nov ‘07 sampai hari Kamis, 29 Nov ‘07, di UPM ada acara Pameran Rekacipta, Penyelidikan, dan Inovasi (PRPI). Mungkin agak memusingkan membaca judul acaranya dlm versi Melayu. Versi Inggrisnya adalah Exhibition of Invention, Research & Innovation. Ini adalah annual event-nya UPM, dan hanya terbuka untuk kalangan akademik UPM. Sesuai namanya, acara ini merupakan ajang memamerkan penemuan baru yg ditampilkan dalam bentuk poster. Poster² ini akan dinilai oleh para juri dan disediakan hadiah berupa medali emas, perak, dan perunggu. Jumlah hadiah nggak dibatasi, jadi di sini kita nggak saling berkompetisi sesama peserta, melainkan kita berusaha menampilkan poster yg terbaik supaya layak memperoleh medali.
Yang saya kagum tuh, acara model begini, jumlah pesertanya sangat mencengangkan, ada 848 poster! Kebanyakan dari poster yg dilombakan merupakan hasil research para student. Di sini, supervisor itu sangat memfasilitasi kita untuk ikut lomba. Mulai dari biaya pengikutsertaan sampe ngeprint poster, semua ditanggung mereka. Pokoknya kita sbg student tau bikin posternya aja. Supervisor saya sendiri, Dr Ahmad, masukin 5 poster, termasuk poster milik saya. Dosen² lain di Geomatic Engineering, seperti Dr Rashid, Dr Helmi, dan Dr Shattri, juga memasukkan banyak poster.
Hari Senin sore, sehari sebelum acara, kita peserta sudah harus menempelkan poster² tsb. Saya lihat banyak juga kawan² sesama student Indonesia yg ikut serta dalam pameran ini, seperti Teguh, pak Kudus, pak Bambang, Farhan, Ira, Anwar, Uuf, dll. Pameran ini dibagi dalam 3 kategori berdasarkan jenis penemuan yg dipamerkan, yaitu:
- Fundamental (A)
- Applied Research (B)
- Product/Innovation (C)
Sementara berdasarkan bidang ilmu, terbagi dalam 6 cluster, yaitu:
- Agriculture (AG)
- Food (FD)
- Health (HE)
- Forestry and Environment (FE)
- Social Science (SS)
- Science, Technology & Engineering (STE).
Poster saya dan poster² yg dimasukkan oleh Dr Ahmad, semuanya tentu saja masuk cluster STE, tapi ada yg dihitung sbg applied research, ada juga yg sbg product/innovation.
Hari pertama pameran adalah hari penjurian. Mulai dari jam 9.30 pagi sampe jam 1 siang, istirahat makan siang, lalu dilanjutkan lagi jam 2.30 sampe jam 5 sore. Selama itu kita para peserta mesti stand by di dekat poster kita untuk melayani para juri. Susahnya, penjurian ini dibuat random. Mereka nggak dateng berurutan menurut nomor poster. Entah ada berapa puluh orang juri yg dilibatkan, dan setiap orang juri kebagian menilai 15 poster. Satu poster sendiri ada yg dinilai oleh 2 juri, 3 juri, bahkan 4 juri, yg nantinya akan diambil nilai rata-ratanya. Kita nggak bisa memperkirakan, kapan para juri akan datang ke poster kita, dan berapa juri yg akan menilai poster kita. So, seharian kita mesti nungguin terus poster kita.
Tiga dari poster yg disubmit Dr Ahmad, yaitu milik saya, milik Habsyi, dan milik Mehrdad, semuanya dijaga oleh kami masing², tapi 2 lagi, yg satu memang dibuat oleh para dosen saja, nggak ada student yg terlibat, sementara yg satu lagi student yg bikin research-nya dah lulus dan kembali ke tanah air. So, untuk 2 poster ini Dr Ahmad sendiri yg harus menjaga dan melayani penjurian. Padahal untuk poster² lain pun, dia tetep harus ada mendampingi. Oya, karena yg memfasilitasi penyertaan poster kita ini adalah supervisor kita, jadi nama project leader yg tercantum dalam poster tsb adalah nama mereka, sementara nama kita sendiri hanya menjadi anggota project. Seperti poster saya, Dr Ahmad Rodzi adalah project leader, saya dengan Dr Noordin jadi anggota. Nah, pas juri dateng, sang ketua project juga mesti ada di tempat, biarpun yg bikin kerjaan dalam poster tsb, dan yg presentasi di depan juri, adalah kita. Jadilah para supervisor ini, termasuk Dr Ahmad supervisor saya, sibuk kesana-kemari dipanggil oleh para studentnya yg didatangi juri. Saya lihat Dr Rashid pun sibuk mondar-mandir kesana-kemari, karena dia juga masukkin 4 poster, dan letaknya berjauh-jauhan.
Poster saya kebagian 3 juri, dan setiap penjurian memakan waktu kurang lebih 10-15 menit. Penjurian yg pertama dan ke-2, saya masih didampingi Dr Ahmad, tapi pas yg ke-3, udah masuk waktu makan siang, saya telepon Dr Ahmad nggak bisa. Terpaksalah saya sendirian menghadapi juri. Juri yg pertama dan ke-3 perempuan, yg ke-2 laki-laki. Dengan yg pertama, saya nggak terlalu yakin, juri ini nih dah profesor dan orangnya kayaknya strict banget. Saya ngebayangin, ngeri juga kalo viva thesis dapet examiner kayak dia. Yg ke-2, nah yg ini kayaknya rada impressed sama poster saya. Tapi yg ke-3 agak jayus, nanyanya aneh². Kan research saya itu bikin model untuk mengatur alokasi fire stations sedemikian rupa sehingga total service areanya maksimum dengan memperhitungkan road network geometry untuk menghitung service area tsb. Eh, dia nanya² gimana kalo di daerah gurun Sahara lah, di kawasan desa terapung di Thailand lah, jadi pusing jawabnya. Soalnya orientasi saya cuma bikin model untuk emergency facilities. Fire station itu diambil sbg study case utk ngetes modelnya aja. Saya nggak siap ditanya kasus² yg spesial banget spt daerah gurun dan desa terapung gitu. Mana nggak ada Dr Ahmad Rodzi pula, nggak ada yg bantuin jawab. Ya sudahlah, saya jawab sebisanya aja, pasrah.
Hari pertama pameran tsb bener² melelahkan. Tapi saya enjoy banget dengan acara ini, karena di acara ini lah kita bisa berada di posisi yg sama dengan para dosen, sama² disidang oleh para juri, sama² diminta presentasi untuk menjelaskan isi poster kita ke mereka. Biasanya, poster² dari jurusan yg sama letaknya berdekatan, seperti poster saya juga bersebelahan dengan poster Dr Shattri dan Dr Biswajeet yg dijaga oleh Dr Biswajeet. Dia pun harus menghadapi para juri, sama seperti saya. Setiap kali satu juri selesai, Dr Biswajeet langsung tarik napas lega. Demikian pula Dr Ahmad Rodzi, Dr Helmi, dan Dr Rashid.
Saya merasa cocok dengan lomba seperti ini, dimana di situ kita bikin karya ilmiah, kita pamerkan, dan karya kita dinilai oleh orang lain yg sama sekali nggak kita kenal. Juri² lomba ini, semuanya dari luar UPM. Kalo dipikir-pikir, dalam moment penjurian itu kita bisa sekalian latihan menghadapi viva untuk thesis kita. Pertanyaan² yg dilontarkan oleh para juri merupakan pertanyaan² yg besar kemungkinannya juga akan dilontarkan oleh para examiner dalam viva nanti. Kalo nggak ngalamin gini, kita nggak kepikir kan bahwa hal² tsb bisa menjadi bahan pertanyaan. Saya merasa beruntung sekali Dr Ahmad nyuruh saya ikut acara ini. Padahal tadinya saya nggak begitu berminat, tapi nggak nyangka acara seperti ini ternyata bisa sangat menarik dan menyenangkan. Plus, karena di sini baik kita student maupun para dosen adalah peserta lomba, kita jadi merasa senasib seperjuangan. Hubungan kita dengan para dosen pun jadi lebih akrab krn untuk sementara status dosen dan student seolah hilang.
Hari ke-2 sore, hasil penjurian sudah diumumkan, tapi belum dikasih tau medali apa yg diperoleh. Nggak disangka, poster saya masuk dalam salah satu yg dicalonkan akan memenangkan medali. Dr Ahmad yg ngabarin ke saya via SMS, karena saya sendiri nggak dateng ke Dewan Besar, tempat pameran dilangsungkan. Padahal saya nggak mengharapkan terlalu banyak, mengingat saya ini hanya student master, research saya hanyalah research in master level, itu pun belom sepenuhnya selesai, dan ini adalah pertama kalinya saya ikut lomba semacam ini. Waktu penjurian pun kayaknya nggak terlalu sukses² amat. Dibandingkan dengan research-nya student PhD, pastilah research saya ini di bawah mereka. Tapi entahlah, yg jelas saya seneng banget. Emang sih, awalnya saya sempet berharap saya bisa dapet penghargaan yg baik dalam lomba ini, sekedar untuk memunculkan rasa percaya diri saya terhadap thesis saya sendiri. Kalo nunggu artikel dimuat di jurnal mungkin terlalu lama, karena memakan waktu satu tahun hanya untuk diterima, dan 2 tahun untuk diterbitkan, maka bikin poster gini merupakan cara cepat untuk menguji apakah thesis saya cukup berbobot atau nggak. Saya berandai-andai, gimana kalo ternyata saya bisa dapet medali emas? Wow… pandangan para dosen pasti langsung berubah terhadap thesis saya. Tapi… melihat dari proses penjurian kemarin, saya nggak yakin poster saya bisa dapet medali. Eh, nggak nyangka ternyata kok bisa lolos.
Medali apa yg kita peroleh baru diumumkan hari terakhir. Ada majelis tersendiri untuk penganugerahan medali ini, tapi hanya yg memperoleh medali emas aja yg dipanggil ke panggung, sebab medali perak dan perunggu terlalu banyak. Belakangan saya tau, semua poster yg disubmit Dr Ahmad, lima²nya terseleksi untuk dapet medali. Dr Ahmad sendiri pas acara penganugerahan ini nggak bisa hadir, so dia mendelegasikan saya untuk mewakili dia nerima medali kalau² ada di antara poster yg dia submit tsb yg dapet medali emas. Tapi sayang, ternyata nggak ada, hehe… padahal saya udah siap² maju ke panggung tuh
. Cuma ada 70-an poster yg dapet medali emas.
Jam 5 sore, baru medali lainnya diumumkan. Ternyata dari 5 poster yg disubmit Dr Ahmad, cuma punya Habsyi yg dapet medali perak, selebihnya medali perunggu. Saat lagi ngeliat-liat di depan papan pengumuman medali tsb, saya denger ada dosen perempuan yg nanya ke studentnya, “Kamu dapat pingat apa?” Terus studentnya jawab, “Gangsa sahaja, Dr.” Si dosen pun dengan bijaknya berkata, “Oh, tak apa. Maknanya juri itu tak paham project yg kamu buat.” Mendengar itu saya pun tersenyum. Yup, kita nggak dapet emas bukan karena projek kita jelek, tapi memang si jurinya nggak ngerti dimana letak kelebihannya projek kita tsb, krn dia sendiri nggak tau yg kurang itu kayak gimana, nggak bisa ngebandingin. Di sinilah bedanya lomba dengan viva. Kalau dalam viva, para examiner pastilah orang yg expert dalam bidang research kita.
Kalo ngeliat ke diri saya sendiri aja, dapet perunggu gini sepertinya mengecewakan. Tapi toh poster² lain yg disubmit Dr Ahmad, bahkan yg dipresentasikan oleh Dr Ahmad sendiri, juga cuma bisa dapet perunggu. Dan sekali lagi, perlu diingat, ini adalah lomba poster saya yg pertama, dan apa yg saya tampilkan itu belum sepenuhnya selesai. Jadi sebenernya medali perunggu itu udah merupakan pencapaian yg baik, krn yg lain, yg mungkin udah cukup berpengalaman ikut lomba, ada yg nggak dapet medali sama sekali. Bobot tertinggi kriteria penilaian dalam lomba ini adalah novelty dan orisinilitas. Semua karya yg diikutsertakan haruslah sesuatu yg baru yg belum pernah dipamerkan dalam perlombaan mana pun, dan murni karya kita. Saya anggap, dengan diraihnya medali perunggu ini, at least dari segi novelty dan ke-orisinil-an, karya saya sudah mendapat pengakuan.
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed.
Both comments and pings are currently closed.









