Paper, Pre-Viva and Proposal

Selama 2 bulan libur semesteran ini (Mei-Juni) 3 hal itulah yg menjadi kesibukan saya. Setelah submit thesis, kerjaan saya memang belum selesai. Saya mentargetkan mempublish 2 paper ke jurnal internasional, mempersiapkan pre-viva, dan membuat proposal research grant ke ScienceFund utk beasiswa kuliah PhD. Temen² saya sampe heran, saya nih udah submit thesis, tapi kok masih sibuk aja, hehe… Sekarang nih kan status saya tinggal menunggu viva. Biasanya tuh, yg namanya orang nunggu viva, santai. Tapi saya mah boro², harus mengerjakan 3 hal yg semuanya menguras otak dan perlu konsentrasi tinggi.

Paper MSAP

Saya tuh nggak bisa ngerjain sesuatu secara bersamaan. Pasti jadinya nggak ada yg konsen. So, saya berusaha menyelesaikan 3 hal di atas satu per satu. Tapi ternyata sulit juga kalau mau diset selesaikan satu dulu, baru lanjut ke yg lain. Yg terjadi, kalau saya terlalu lama stuck di satu kerjaan, saya akan beralih mengerjakan yg lain dulu. Seperti skarang, pas awal² saya bikin paper dulu. Paper pertama ini judulnya MSAP, dan akan saya kirim ke International Journal of Geographical Information Science (IJGIS), sebuah jurnal bergengsi dan populer di bidang GIS. Setelah paper tsb selesai saya garap (Minggu, 11 Mei ‘08), besoknya (12 Mei) saya serahkan ke Dr Ahmad. Selasa (13 Mei) saya kirim ke Dr Rashid, dan Rabu (14 Mei) saya kirim ke Dr Noordin, via email.

Proposal ScienceFund

Sembari menunggu Dr Ahmad, Dr Noordin dan Dr Rashid meriksa paper saya, saya melakukan studi literature utk menyusun proposal research ke ScienceFund. Utk penelitian PhD nanti, saya berencana melakukan surface modeling, tentunya yg masih berhubungan dengan facility location. Setelah searching, saya putuskanlah utk membuat research tentang locating telecommunication tower. Sebab facility location problem yg menggunakan surface modeling (viewshed), sepertinya cuma 2, kalo nggak watch tower, ya telecommunication tower. Yg pertama, kayaknya di Malaysia nggak terlalu jadi isu. Jadi satu²nya yg potensial dijadikan bahan research ya cuma yg ke-2. Saya pun mulai melakukan studi literature pemanfaatan viewshed utk telecommunication tower. Ternyata penelitian semacam ini sedikit sekali. Pemanfaatan viewshed utk telecommunication memunculkan istilah baru, yaitu “commshed”. Jika “viewshed” didefinisikan sbg daerah yg visible dari satu atau lebih menara observasi, maka “commshed” didefinisikan sbg daerah yg dapat menerima sinyal dari satu atau lebih menara transmitter. Dan saya googling term “commshed” ini, hanya ada 2 artikel yg ketemu. Itu pun krn yg satu merefer ke yg lain. Saya menjadi semakin semangat utk melakukan penelitian yg kelihatannya masih jarang dilakukan orang ini. Tapi, setelah diskusi dengan Dr Noordin melalui chatting di GTalk, semangat saya agak turun sedikit. Dr Noordin bilang penelitian semacam itu pastinya juga dilakukan oleh perusahaan² penyedia layanan telekomunikasi, dan output mereka lebih cepat. Perusahaan Dr Noordin pun dulu pernah mengerjakan pekerjaan GIS utk aplikasi menara telekomunikasi semacam ini.

Hari Senin, 26 Mei ‘08, student² by course viva kolektif. Baik Dr Noordin maupun Dr Ahmad datang ke viva tsb, dan mereka pun mengembalikan paper MSAP saya. Nggak banyak koreksi dari mereka. Dr Ahmad malah udah OK banget dengan tulisan saya, hanya ada satu koreksi di bagian abstrak, dan beliau menyatakan sudah “ready for submission”. Dr Noordin, ah… saya seneng kali ini Dr Noordin membaca semua paper saya. Dia bahkan mengoreksi kata² yg kurang tepat, penulisan quotation yg kurang tepat, dan koreksi² minor lainnya. Saya puas banget, jadi sbg co-supervisor, dia ngerti kerjaan saya. Koreksi dia yg agak major cuma di masalah pengaturan section aja. Beberapa bagian ada yg perlu disusun kembali utk lebih meng-hilight method saya.

Pas ketemu Dr Noordin hari itu, sekalian saya ngebahas soal rencana saya mau bikin penelitian tentang locating telecommunication tower. Saya tanya lagi, yg dulu dikerjain perusahaan dia itu seperti apa, ada optimization dan mathematical modelingnya juga nggak kayak penelitian saya. Ternyata cuma suitability aja. Memang sih lumayan komprehensif, memperhitungkan karakteristik fisik daerah yg terlewati antar menara. Tapi nggak ada mathematical modeling dan optimization. Saya bilang ke Dr Noordin, di beberapa kota di Indonesia, ada isu jumlah menara² telkom terlalu banyak, keberadaannya sudah mulai mengganggu keindahan kota, krn setiap operator telepon seluler membangun menara sendiri. Akhirnya pemerintah sekarang berusaha menyusun regulasi utk mengkontrol jumlah menara² telkom tsb. Mereka mengenalkan konsep BTS, menara bersama, dimana satu menara digunakan utk minimal 3 operator. Saya nggak tau di Malaysia gimana. Tapi dari ngobrol² dgn Dr Noordin itu, di Malaysia pun pembangunan menara² telkom nggak pake planning. Dimana ada pasar, dan belum ada menara, maka pihak operator akan membangun menaranya di situ. Tapi nggak tau apakah keberadaan menara² telkom di Malaysia sudah mencapai jumlah yg berlebihan. Sebab di sini operator telkomnya nggak sebanyak di Indonesia.

Saya jadi semangat lagi melakukan penelitian tentang lokasi menara telkom. Kalau memang sekarang telkom dah nggak pake menara, spt yg sempet disinggung Dr Noordin, tapi kan tetep mereka perlu menempatkan transmitter. Artinya transmitter ini harus punya lokasi. Terus, kalau memang topik menara telkom nanti dah basi, saya bisa menggantinya dengan wireless internet. Yg jelas, saya masih berkutat dengan surface modeling. Tapi masih ada satu masalah. Surface data itu, kalau mau detil ke building height, maka perlu data LIDAR yg harganya lumayan mahal. Kalau saya mau melakukan locating multiple towers, berarti saya perlu study area yg luas. Dan mendapatkan data DSM utk daerah yg luas bisa menjadi sebuah isu. Waktu chatting dgn Dr Rashid, beliau menyarankan saya utk tanya ke JUPEM (BAKOSURTANAL-nya Malaysia), apa mereka bisa diajak kerjasama utk menyediakan DSM yg saya perlukan. Tapi belakangan saya terpikir lain. Surface data itu bukan cuma bisa digenerate dari LIDAR, melainkan juga dari radar image atau bahkan orthophoto. Jadi kalo memang LIDAR terlalu mahal, mungkin saya bisa pilih alternatif lain utk mendapatkan data DSM. Kemudian, terinspirasi dari literature yg saya baca, kalau memang utk memperoleh data satu kota terlalu besar, saya bisa pake area yg lebih kecil sbg prototype, misalnya kampus UPM dan sekitarnya, yg merepresentasi daerah urban dan rural. Selanjutnya model saya bisa diaplikasikan ke area yg lebih luas oleh pihak lain.

Pre-Viva

Dr Noordin dan Dr Ahmad sudah mengembalikan paper saya, tinggal Dr Rashid yg belum. Sambil nunggu feedback dari Dr Rashid, saya pun mempersiapkan slide presentasi utk pre-viva. Rencananya, Jumat (6 Jun ‘08) saya ingin melangsungkan pre-viva. Dr Rashid sedang di Canberra sampai tgl 27 Jun, jadi hanya Dr Ahmad dan Dr Noordin sajalah yg bisa hadir. Sebenernya saya ingin semua anggota komite supervisor dateng, tapi kalau nunggu Dr Rashid pulang, takutnya keburu terlambat. Saya submit thesis tgl 5 Mei, dan setelah saya cek ke GSO, mereka bilang thesis saya sudah dikirim ke semua examiner segera setelah saya submit itu. Krn ini libur semester, kemungkinan para examiner cukup cepat membaca thesis saya. Kalau mereka sudah siap dalam satu bulan, mungkin akhir Juni, atau awal Juli, saya sudah bisa viva. Nah, kalau akhir Juni itu saya baru mau pre-viva, kan terlambat.

Jadi selama seminggu saya berhenti dulu mikirin paper dan proposal Sciencefund, konsen bikin slide presentasi pre-viva. Pertama, saya bikin slide presentasi ini sedetil dan selengkap mungkin. Untuk menghemat jumlah slide, beberapa slide saya buat dengan tulisan yg kecil². Tapi saya inget, pas viva vocenya student Structure C bulan Desember ‘07 lalu, Dr Ahmad pernah comment, “Please, larger the font size. We’re old.” Saya menggunakan typeface Arial, yg ukurannya relatif lebih besar dari Times New Roman. Dan size terkecil yg saya pake adalah 20pt. Temen saya, Farah, pas viva kemaren bikin slide presentasi sampe 33 slide, cuma perlu waktu presentasi 10 menit. Nah, font-size dia itu terkecilnya 24pt. Jadi memang cepet presentasinya, krn dengan font sebesar itu, text dalam satu slidenya sedikit. Menurut info dari Dr Ahmad, student hanya dikasih waktu 20 menit utk presentasi dalam viva. Saya pun akhirnya memperbesar font size saya, terkecilnya 24pt. Kecuali utk isi tabel yg mau nggak mau mesti pake font-size yg lebih kecil, 22pt. Otomatis, jumlah text pun mesti dikurangi. Setelah mengedit dan memotong text disana-sini, akhirnya jadilah 41 slide, termasuk slide judul. Slide presentasi saya ini padat sekali, mencakup semua isi thesis, mulai dari background, problem statement, objective, literature review, method, data, result, sampai conclusion. Saya mesti pandai² merangkum kata² yg perlu disajikan dalam setiap section. Juga bagaimana melayout gambar² dan text supaya fit dalam slide. Seperti biasa, ilmu membuat laporan praktikum GIS kembali dipraktekkan. Slide² saya, jarang sekali yg hanya terdiri dari list of text. Hampir seluruh slide ada gambarnya. Kalau yg isinya text doang, saya set fontsizenya itu sampe 26pt, biar enak para supervisor dan examiner nanti ngebacanya.

Utk memperhitungkan berapa lama waktu yg saya perlukan utk mempresentasikan 41 slide ini, saya pun membuat naskah presentasi. Yup, saya nggak mau melakukan hal yg biasa dilakukan banyak siswa jika presentasi, yaitu hanya membaca slide. Saya rasa, apa yg kita ucapkan nggak perlu sama persis dengan yg tertulis di slide. Makanya, kalau memang content di slide itu terlalu banyak, utk mempersingkat presentasi, cukup kasih tau isi slide itu tentang apa, atau jelaskan dgn bahasa yg lebih ringkas. Kenapa nggak sekalian aja saya bikin slide yg ringkas? Sebab begini, kalau slide ini kurang lengkap, saya takut kelengkapan itu diperlukan pada saat menjawab pertanyaan. Kalau ada sesuatu yg penting dan nggak saya masukkan dalam slide, takutnya nanti saya sendiri yg susah melakukan thesis defense di depan examiner. So, saya membuat slide saya ini komplit dan padat bukan hanya utk keperluan presentasi, melainkan juga utk keperluan defense.

Alasan lain bikin naskah presentasi, juga supaya saya bisa presentasi dengan lancar. Sebab, pengalaman dari presentasi progress report dan proposal, seringkali saya terlupa apa yg ingin saya sampaikan dari sebuah slide. Kalau udah begitu, daripada mandeg, langsung aja saya jump ke slide berikutnya. Walhasil, presentasi saya jadi kurang jelas. Dengan membuat naskah gini, saya bisa menghafal kata² yg ingin saya presentasikan. Semoga dengan begitu saya bisa melakukan presentasi dengan lancar dan jelas. Pertama kali bikin naskah, pas dicoba, ternyata saya menghabiskan waktu lebih dari 20 menit. Setelah beberapa kali mengedit naskah dan dicoba dipresentasikan, akhirnya, dengan kecepatan bicara yg normal dan wajar, nggak terkesan terburu-buru, saya berhasil mendapatkan waktu presentasi yg kurang² dikit dari 20 menit, buat persiapan kalau² saya terlupa sesuatu dan perlu waktu beberapa saat utk mengingat-ingat. Nggak susah menghapal naskah sebanyak itu, sebab yg saya presentasikan itu kan kerjaan saya sendiri. Bahkan bunyi kalimat di thesis aja bisa saya inget kok :) . Lagipula, saya kan masih berpandukan slide, nggak pure menghapal. Ternyata melakukan presentasi dengan terlebih dahulu menyiapkan naskah ini memang memudahkan. Saya jadi bisa memilih kata² yg bagus tanpa terkesan mikir dulu. Beberapa kata yg pronunciationnya saya belum yakin pun bisa saya cek dulu di kamus, biar nggak salah ngucapinnya. Sejauh ini sih, berlatih seorang diri, saya bisa melakukan presentasi dengan lancar dan fasih. Tapi nggak tau ya kalau nanti dah di depan komite supervisor, apalagi di depan examiner di ruangan viva.

Paper MSAP

Balik lagi ke paper MSAP yg belum tuntas tadi, Dr Rashid mengembalikan paper saya lebih lambat dari yg dijanjikan, sebab ternyata beliau sempet sakit. Hari Senin, 2 Jun ‘08, via email baru beliau mengembalikan paper saya yg sudah dikoreksi dan dikomentari. Saya pun kembali berkonsentrasi menyelesaikan paper ini. Sementara berenti dulu latihan presentasi pre-viva. Toh slidenya sudah siap, sudah sedikit tenang. Saya seneng banget, seperti halnya Dr Noordin, Dr Rashid pun membaca paper saya dengan teliti dan menyeluruh, mengoreksi kata² yg salah, menambahkan dan mengganti beberapa bagian, dan tak lupa ngasih masukan. Komentar beliau thd paper saya ini, “so good job”. Saya lega banget Dr Rashid bilang begitu. Sebab di antara komite supervisor saya, Dr Rashid nih yg paling kritis. Jadi setelah dia bilang gitu, saya sedikit PD bahwa saya mampu menulis paper yg bermutu. Saya pun mulai membuat draft manuscript di account saya di IJGIS. Nggak mudah ternyata submit paper secara online gini. Saya harus hati² membaca petunjuknya. Saya harus mempersiapkan dokumen saya sesuai dengan format dan style yg mereka gunakan. Saya juga harus membuat “Cover Letter”, sementara saya nggak tau yg harus ditulis dalam cover letter itu apa. Jurnal² lain, biasanya udah nyediain template, tapi herannya di IJGIS ini nggak ada. Juga di Tailor & Francis sebagai publisher jurnal tsb. Setelah nyari² sample di internet, akhirnya saya pun menyimpulkan bhw secara umum isi Cover Letter itu sebaiknya digunakan utk menjelaskan nama² pihak yg tidak ingin kita jadikan reviewer, karena khawatir terjadi konflik kepentingan. Juga nama² calon reviewer yg kita anggap pantas dan objektif memeriksa paper kita. Saya jadi tau bhw kita sebaiknya mengusulkan nama² calon reviewer utk paper kita, instead membiarkan pihak editor mencarikannya utk kita. So, saya pun minta para komite supervisor saya utk merekomendasikan nama² orang yg potensial saya jadikan preferred reviewer. Dr Ahmad ngasih 2 nama, profesor dari Malaysia dan Iran. Dr Rashid juga ngasih 2 nama, profesor dari Aussie dan Amrik. Keempat nama ini saya masukkan sbg preferred reviewer paper saya.

Untuk daftar pustaka, waktu bikin thesis kemaren saya nggak sempet pake software bibliography semacam EndNote, Reference Manager, dsb. Manual aja, tapi dengan automatic formatting style. Saya khawatir bhw saya harus memindahkan data daftar pustaka saya di salah satu software reference tsb, dan men-generate daftar pustaka secara otomatis. Tapi setelah saya baca² lagi, sepertinya nggak perlu. Saya juga nggak perlu make style dari template word document yg disediakan di jurnal tsb, sebab dokumen saya sudah well formatted, meskipun nggak pake template dari mereka. Dalam online submission ini, kita mengupload semua dokumen kita dalam format Word, dan file² gambar dalam format TIF. Selanjutnya program akan otomatis menggenerate file PDF dari dokumen² dan file² gambar yg kita upload itu. Nah, saya pikir bakalan ngaruh, kalo kita nggak menggunakan style dari mereka dan menggenerate daftar pustaka secara otomatis melalui reference tool, file PDFnya bakalan kacau. Tapi ternyata nggak kok. Jadi kayaknya nggak perlu terlalu ngikutin perintah lah. Yg penting dokumen PDF paper saya bisa kebaca jelas oleh para reviewer. Untuk menggenerate file PDF ini, kelihatannya diperlukan koneksi internet yg bagus. Saya nggak bisa melakukan itu dengan menggunakan koneksi internet WIFI kolej. Saya harus kerja di fakulti, yg koneksi internetnya pake LAN. Beberapa kali saya coba menggenerate file PDF dari kolej, gagal terus. Prosesnya nggak selesai². Baru setelah saya nyoba di fakulti, berhasil. Itu pun nggak langsung mulus. Kadang² di output PDFnya itu, gambar²nya nggak masuk. Kadang kelebihan. Saya harus mencoba beberapa kali. Hari Rabu, 4 Jun ‘08, setelah seharian saya menyiapkan dokumen² dan file² gambar utk keperluan submission ini, juga mengisi data² dan informasi yg diperlukan, sekitar jam 11.30 malem, barulah saya mengklik tombol “submit”. Yup… akhirnya urusan submit paper ini tuntas juga. Saya lega banget, nggak sia² saya kerja di fakulti sampe malem. Dah lama banget saya nggak ngelembur kerja di lab sampe malem gitu. Sekarang tinggal nunggu hasilnya aja. Ini pertama kalinya saya menulis paper ilmiah dalam bhs Inggris yg dikirim ke jurnal internasional. Kalau paper ini bisa diterima, maka itu merupakan presentasi membanggakan yg bisa saya persembahkan ke komite supervisor saya di UPM ini.

Pre-Viva

Rencana sebelumnya, saya mau pre-viva hari Jumat, 6 Jun ‘08. Tapi rupanya Dr Ahmad ada halangan, nggak bisa dateng hari itu. Sehari sebelumnya, beliau ngasih kabar via SMS dan minta saya mengundurkan ke hari Senin. Setelah konfirmasi dengan Dr Noordin, akhirnya diputuskanlah bhw saya akan pre-viva hari Senin, 9 Jun ‘08. Awalnya ditetapkan jam 2 siang, tapi mungkin Dr Noordin atau Dr Ahmad ada acara lain, pas pagi² Dr Ahmad nge-SMS saya, ngasih tau kalo pre-viva saya ditunda jadi jam 4 sore. Saya sih OK² aja. Kebetulan, hari itu pagi² saya ngantuk banget, gara² semalem nggak bisa tidur, nggak tau kenapa.

Saya berangkat dari kolej nge-pas aja, krn mikirnya naek sepeda ini, cuma 10 menit ke fakulti. Oh iya, kebetulan hari itu Ira juga viva, jam 3.30 sore. Sebelum berangkat, saya sempet mampir dulu ke kamar Ira, melihat persiapan dia utk viva. Saya dan Ira nih udah jalan bareng dari mulai mau submit thesis kemaren. Cuman aja, akhirnya dia jadi submit sebulan lebih cepet gara² saya masih ragu mau submit semester ini apa nggak. Viva dia terhitung cepet, 2 bulan dari waktu submit. Dia baru dikabarin GSO hari Jumat sebelumnya, dah sore pula, bhw dia jadi viva hari Senin itu. Katanya sebelumnya masih nunggu report dari satu orang examiner lagi, jadi belum bisa dipastikan jadi apa nggak dia viva hari Senin. Nah, mungkin kemudian report dari examiner itu masuk shg semuanya terconfirm. Jadilah Jumat sore baru dia dapet kepastian dari GSO. Untung masih ada hari Sabtu dan Minggu buat persiapan.

Sehabis mengunjungi Ira, baru jam 3.30 saya berangkat. Seperti biasa lewat pintu yg deket kuburan Cina. Eh, udah jauh² saya menggenjot sepeda, mana jalanannya nggak datar pula, ternyata sampe ujung, pintunya tutup. Duh, kok nggak ada pemberitahuan sih di simpangan. Orang² juga banyak yg kecele, pada muter balik. Tapi mereka mah naek mobil dan motor, dan nggak mau presentasi pula. Lah, saya? Udah naek sepeda, jalanan naek turun, mana mau presentasi pula. Terpaksa saya balik lagi dan keluar lewat pintu kolej 1 yg rutenya lebih jauh. Wuah… jadi telat 5 menit deh nyampe fakulti. Ngos-ngosan pula. Begitu nyampe, HP saya langsung bunyi. SMS dari Dr Ahmad yg nanyain saya ada dimana. Rupanya Dr Noordin juga dah dateng, dan mereka berdua dah nunggu saya di lab Geomatik. Tapi saya nggak langsung masuk, melainkan ke toilet dulu. Mau ngilangin keringet sekalian narik napas. Kalau langsung masuk lab dan langsung presentasi, nggak sanggup deh. Ternyata bener, Dr Noordin dan Dr Ahmad dah ada di sana. Duh, jadi nggak enak, saya yg mau presentasi malah dateng belakangan. :P

Saya puaaaaaasssss banget presentasi kali ini. Sesuai harapan, berkat latihan menggunakan naskah, saya bisa melakukan presentasi dengan lancar, dan nggak terpaku pada slide. Begitu saya selesai presentasi, Dr Ahmad langsung ngomong, “Wah, pas 20 menit! Bagus ya..” Hihi… kali beliau heran, kok bisa pas gitu saya presentasi selesai dalam 20 menit. Dia nggak tau, saya udah latihan berkali-kali pake naskah :D . Tadinya saya pikir, kalo udah di depan mereka, saya nggak bisa presentasi selancar waktu latihan sendirian. Tapi berkat latihan yg berulang-ulang, isi naskah itu memang udah nempel di kepala. Lagipula saya kan paham juga. So, alhamdulillah deh, nggak ada yg lupa, nggak ada yg mandeg ataupun terbata-bata. Semuanya mulus dan bisa selesai in time.

Mengenai tanya jawabnya sendiri juga boleh dibilang lancar. Cuma ada sedikit beda interpretasi antara mereka dengan saya. Seperti apa maksud critical zone dalam data saya, kenapa cuma ada 2 klasifikasi. Terus apa bedanya antara land suitability dan land availability. Tapi setelah saya jelaskan, akhirnya bisa terklarifikasi. Pelajaran dari latihan viva ini adalah, kalau ditanya examiner tuh, jangan ngejawab, “itu sudah saya jelaskan dalam thesis”. Kita harus menjelaskan lagi apa yg tertulis dalam thesis itu. Ya.. saya sih nggak bermaksud apa² ngomong begitu, selain hanya utk memberi tau examiner bhw meskipun yg mereka tanyakan itu nggak saya jelasin di slide presentasi, tapi sebenernya saya ngejelasin dalam thesis. Sebab, kan nggak mungkin semua hal kita masukin dalam slide. Kalo nggak saya tegesin gitu, ntar dikiranya saya nggak ngejelasin baik di slide maupun di thesis. Cuma kata Dr Ahmad, examiner itu kadang nanya gitu juga utk memastikan, apakah jawaban kita sama dengan yg ada dalam thesis. Buat saya, ya jelas sama lah! Kalau nggak berarti thesis saya ditulis oleh orang lain dong?!

Di ujung presentasi, Dr Noordin malah sempet melontarkan ide yg membuat saya terus kepikiran ampe sekarang. Result dari penelitian saya ini adalah, dengan metode yg saya buat, saya berhasil meningkatkan luas kawasan pelayanan pemadam kebakaran di study area, dari 73.69% menjadi 82.81% (naik 9.12%). Hanya saja, yg nggak saya analisa sama sekali, dari 17 pos pemadam kebakaran yg ada, 12 mesti dipindahkan. Ya, sebab dalam distribusi lokasi pos pemadam kebaran yg baru, yg menggunakan metode saya, hanya 5 pos yg diambil dari pos yg ada sekarang. Terus Dr Noordin komentar, “Cukup berhargakah memindahkan 12 pos yg ada hanya untuk memperoleh peningkatan sebesar 9.12%? Gimana kalau kamu coba meminimalkan relocate?” Saya terdiam dan berpikir mendengar gagasan itu, lalu menyambung, “dan memaksimalkan increase?” Wah, itu bisa jadi satu model lokasi tersendiri, dengan 2 objective function. Boleh juga tuh dijadiin penelitian berikutnya. Dr Ahmad pun bilang, dari result penelitian saya ini, memang banyak membuka peluang utk dilakukannya penelitian² lain. Jadi menurut beliau, kalau saya mau lanjut PhD, sebenernya tinggal melanjutkan dari penelitian saya yg sekarang aja, nggak usah nyari topik baru. Pasti bisa selesai cepet. Dan omongan dia ini bener banget. Bayangkan kalo saya ngambil topik yg locating menara telkom itu. Banyak banget yg mesti saya pelajari. Tentang gelombang radionya aja saya perlu belajar. Belum bikin rumus utk menggenerate signal coveragenya. Juga data surface model yg kayaknya terlalu susah diperoleh. Dipikir-pikir, ngelanjutin ini juga bagus dan menantang kok, sebab sekarang saya berurusan dengan problem multi-objective. Tentunya, mathematical modelingnya bakal lebih rumit, dan kasusnya dah bukan MCLP dan LSCP lagi, tapi bener² model lokasi baru. So, skarang nih saya jadi fifty-fifty, antara pengen nerusin proyek telecom tower itu atau melanjutkan thesis saya yg skarang aja buat topik penelitian PhD nanti. Liat aja nanti deh, mana yg akhirnya dipilih.

Paper Suitability

Setelah pre-viva terlewati, saya pun bisa mulai menggarap paper ke-2. Sebenernya ini justru paper pertama saya yg dulu dah sempet direview oleh Dr Ahmad tepat setelah saya ngasih first draft thesis. Waktu itu saya bikin paper itu dimaksudkan utk dikirim ke jurnal lokal, sehingga saya membuatnya agak simpel dan tidak memuat terlalu banyak eksperimen. Tapi Dr Ahmad pengen paper itu dikirim ke jurnal internasional. Menurut beliau apa yg saya buat itu udah cukup utk dikirim ke jurnal internasional. Sementara saya merasa belum cukup. Kalau memang ingin disubmit ke jurnal internasional, saya ingin menambah dulu beberapa eksperimen, biar lebih berbobot dan memenuhi standar paper utk jurnal internasional. Jadi sampe sekarang memang belom jadi dikirim.

Paper ke-2 ini lebih memfokuskan pada kombinasi site suitability evaluation dan tessellation technique yg mendahului location modeling dalam thesis saya. Kali ini saya siapkan utk dikirim ke jurnal Computers, Environment and Urban Systems (CEUS), terbitan Elsevier, diindeks oleh ScienceDirect. Jurnal ini lumayan populer utk bidang urban planning yg memanfaatkan GIS. Dulu jaman kuliah di ITB, saya banyak ngambil referensi dari jurnal ini.

Boleh dibilang cuma 2 hari saya intensif ngerjain paper ini, krn memang sebelumnya kan dah ada, tinggal dipoles lagi, merubah titik penekanan dan sudut pandang, sehingga paper yg sebenernya hanya merupakan bagian dari keseluruhan penelitian saya, bisa menjadi paper utuh yg berdiri sendiri. Hari Rabu-Kamis, 11-12 Juni ‘08, semaleman saya ngerjain paper ini, sampe pagi. Yup, jam efisien kerja saya emang malem hari. Hampir semua pekerjaan² saya diselesaikan dengan cara bergadang semaleman sampe pagi, pas pagi selesai. Pagi itu juga mau langsung saya kirim via email ke Dr Rashid dan Dr Noordin, sementara ke Dr Ahmad dah nggak perlu lagi krn beliau dulu dah pernah mereview. Tapi koneksi internet di kolej lagi jelek banget. Sama sekali nggak bisa nge-upload attachment file seukuran 400-an kb gitu. Kalau cuma 50-an kb sih bisa. Berkali-kali saya nyoba, gagal. Akhirnya, sorenya, terpaksa saya ke warnet dan ngirim attachment via email dari sana. Padahal maksudnya mau dikirim pagi biar cepet keterima oleh Dr Rashid dan Dr Noordin hari itu juga. Kalo dikirim sore kan kemungkinan baru besoknya mereka ngecek. Tapi saya lega deh. Paper ke-2 ini sudah saya kirim ke mereka. Sekarang saya bisa meneruskan menggarap proposal ScienceFund dengan tenang.

Proposal ScienceFund

Bikin 2 paper udah, yg satu dah disubmit. Pre-viva juga udah. Tinggal bikin proposal ScienceFund nih yg belum beres. Dibanding yg lain, kerjaan yg satu ini paling sulit. Sebab materi kerjaannya sama sekali beda. Paper dan pre-viva, semua masih berkutat pada research saya. Tapi proposal ScienceFund nggak. Saya berurusan dengan topik lain. Itulah kenapa, saya mengerjakan proposal ini paling belakangan, setelah semua kerjaan selesai. Sebab begitu saya tenggelam dalam penyusunan proposal, saya akan meninggalkan thesis saya, research master saya.

Kalau tadinya saya berencana membuat penelitian tentang menara telkom, maka skarang saya semakin tertarik utk beralih ke wireless internet aja. Sebab aplikasi telkom kayaknya kurang ngetrend. Tapi berhubung saya nggak terlalu paham tentang wireless internet, jadilah selama 5 hari saya studi literature kilat mengenai topik ini. Mulai dari mempelajari model² utk radio wave propagation; teknologi² wireless spt WIFI, Wimax, Tetra, CDMA, GSM, GPRS; komponen² dalam wireless network spt access point, router, adapter, repeater, bridge; device² dalam radio transmission spt transmitter, receiver, transreceiver, antenna, amplifier; jenis² wireless network spt mesh, ad hoc, peer-to-peer, sensor network, municipal wifi; faktor² dalam memprediksi signal strength spt frekuensi, power (gain), tinggi dan arah antenna, bentuk terrain dan obstruction dari transmission path, interference; sampe ke software² GIS spesial utk wireless application, spt cellular-expert, comsite design, HerTZ mapper, dan Terrain Analysis Package (TAP).

Utk GIS-nya sendiri, krn nantinya bakalan butuh data DSM, saya pun searching gimana cara memperoleh data DSM ini. Dari yg saya pelajari di kuliah Remote Sensing dulu sih, DSM itu bisa digenerate dari 3 sumber: LiDAR, orthophoto, dan radar image dengan band tertentu. Tapi, nanya² ke Dr Noordin, katanya orthophoto dan radar image malah lebih mahal dan lebih time consuming, lagipula kurang akurat untuk informasi ketinggian. Emang iya sih, LiDAR tuh paling akurat, dan tingkat akurasinya sangat tinggi, sampe 5m kalo nggak salah. Pikiran saya, krn LiDAR tuh mahal, mungkin orthophoto dan radar image bisa jadi alternatif. Ternyata LiDAR memang paling unggul dilihat dari segala aspek. Jadi, keputusan pun ditetapkan, saya akan menggunakan data LiDAR. Masalahnya, kalo pake LiDAR, study areanya mungkin nggak bisa terlalu luas. Nah, kebetulan setelah melakukan searching kilat namun padat tadi, saya jadi tau bhw antenna WiFi yg omni-direction, daya jangkaunya itu kira² 90m, beda sama Wimax yg daya jangkaunya sampe 50km. So, kalau saya memilih teknologi WiFi utk bahan penelitian, bukan Wimax, study area seluas 4 km² cukup lah. Kampus UPM dan sekitarnya bisa juga dijadikan study area. Dan memang kampus universitas itu paling ideal utk aplikasi WiFi mesh network. Judul research project yg saya susun ini mengalami pergantian beberapa kali. Dari yg tadinya cuma mau nyari lokasi optimal utk access points, akhirnya diganti lebih spesifik menjadi “Optimal Placement of Nodes in a WiFi Mesh Network based on Signal Coverage Simulation in GIS using LiDAR Digital Surface Model”. Keren nggak tuh? :D

Yg paling lama dan susah saya susun dalam proposal ini adalah bagian research background, terdiri dari 2 section: literature review dan related research. Untuk masing² section, saya menghabiskan satu hari sendiri, krn perlu searching dan studi literature. Literaturenya pun macem², ya situs, wiki, textbook, artikel jurnal, thesis, blog, lecture notes, semuanya deh. Setelah bagian research background tsb selesai, yg laen² relatif lebih terasa mudah, seperti research objectives, methodology, research activities, research benefits, dsb. Untunglah utk cost estimation, Dr Ahmad yg akan membuat, krn beliau yg lebih ngerti gimana cara mengalokasikan dana utk gaji peneliti, pembelian alat, dan pengeluaran² lainnya. Cuma, utk alat² nih harus saya yg merinci. Saya yg harus mendata alat² apa yg diperlukan, biar nanti Dr Ahmad bisa merancang usulan biayanya. Masalahnya, saya kan nggak tau alat² yg diperlukan utk membangun wireless network itu apa aja, dan harganya berapa. Jadi ini pun mesti saya search juga. Lalu utk data LiDAR, saya pun harus cari informasi dimana bisa mendapatkan data LiDAR di Malaysia. Untunglah, ternyata ada kok beberapa perusahaan mapping yg melayani supply data LiDAR. Jadi kayaknya urusan memperoleh data nggak masalah.

Hari Rabu pagi, 18 Jun ‘08, seperti biasa, setelah bergadang semaleman, proposal pun siap dan langsung saya emailkan ke Dr Ahmad. Untung kali ini nggak ada masalah dengan upload attachment, krn file proposal ini bisa dizip jadi kecil banget. Setelah proposal ScienceFund ini beres, barulah saya bisa bernafas lega. Hampir nggak percaya akhirnya satu per satu target² pekerjaan saya ini bisa selesai juga. Setelah fix milih topik tentang WiFi Mesh Network, saya jadi semangat banget pengen cepet² ngerjain research PhD. Kayaknya interesting sih. Bagian WiFi networkingnya itu, saya suka krn bisa menambah pengetahuan saya tentang teknologi wireless dan networking. Bagian signal strength predictionnya itu juga menarik krn bisa menambah pengetahuan saya tentang radio wave propagation. Dan krn saya bekerja dengan DSM data, akhirnya saya punya kesempatan utk melakukan surface modeling di GIS. Saya berharap banget proposal saya ini bisa lolos, supaya saya bisa melanjutkan kuliah PhD lagi di sini, dengan menjadi GRA, ngerjain thesis yg sesuai dengan minat saya, dan segala sesuatu yg diperlukan utk penelitian pun didanai pula. Bukan cuma utk beli data, survey, beli alat², dan printing, melainkan juga ongkos² utk ikut seminar dan conference di negara² Asia. Yg lebih penting sebenernya, saya bisa melakukan penelitian di bawah supervision Dr Ahmad, Dr Noordin, dan Dr Rashid lagi. Mereka semua adalah komite supervisor yg sangat baik dan membantu. Saya happy bekerja dengan mereka. Saya bangga bisa mempublish paper bersama mereka. Meskipun banyak persoalan non-akademik yg saya hadapi di UPM ini, tapi kebaikan mereka membuat saya merasa betah kuliah di sini. Satu setengah tahun periode kuliah Master ini rasanya terlalu singkat. Saya masih pengen menikmati masa² melakukan research dibimbing mereka. Alangkah senangnya kalau saya bisa memperpanjang masa itu dengan melanjutkan kuliah PhD di sini.

Oh iya, Dr Ahmad langsung membalas email saya pagi itu. Rupanya, beliau mau pergi ke Mesir selama 10 hari, dan hari itu berangkat. Berarti beliau baru akan balik sekitar 28-29 Juni. Duh, padahal saya berharap bisa viva akhir bulan ini. Tapi kalo Dr Ahmad nggak ada, saya nggak mau. Saya ingin beliau bisa hadir dalam viva saya. Sebenernya saya berharap semua komite supervisor saya bisa hadir. Tapi melihat Dr Rashid sepertinya selalu on leave liburan semester ini, saya pun pasrah kalau beliau mungkin nggak bisa dateng ke viva saya. Tapi paling nggak, Dr Ahmad dan Dr Noordin harus dateng. GSO harus mencarikan waktu yg pas supaya viva saya bisa dilaksakan dengan kehadiran mereka berdua.

This entry was posted on Thursday, June 19th, 2008 at 6:03 am and is filed under UPM.
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed.
You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply